--- SUDUT PANDANG: NASHIRA SALMA ---
✍️
Pukul dua lewat empat puluh menit dini hari, kesunyian di lereng bukit selatan itu bukanlah kesunyian yang menenteramkan sanubari, melainkan keheningan pekat yang sarat dengan firasat buruk. Nashira Salma tersentak dari ranjang kayunya sebelum jam weker kuno di atas meja nakas sempat menjatuhkan dentang logamnya. Matanya yang awas langsung terbuka menatap balok-balok kayu jati di langit-langit kamar. Di luar, desau angin lereng gunung bertiup kencang meliuk-liuk di sela rumpun bambu betung, namun bukan gemerisik dedaunan itu yang menyentak saraf kewaspadaannya. Ada sebuah getaran ritmis yang janggal—dengungan rendah bermuatan logam yang merambatkan denyut halus ke lantai semen dingin kamar tidurnya.
Dengungan itu berasal dari pompa submersible otomatis di dekat menara tangki penampungan utama kebun pembibitan terbuka Griya Puspa Arum.
Nashira menahan napas seraya menegakkan punggungnya. Pompa gravitasi dua tenaga kuda itu diprogram dengan pengatur waktu mekanik untuk menyala tepat pukul lima pagi, saat kabut subuh mulai terangkat dan para pekerja mulai menyiapkan bedengan. Mengapa mesin itu meraung di tengah malam buta seperti ini? Dan suaranya tidak terdengar seperti biasanya; alih-alih dengung halus saat menyedot air pegunungan yang bening, pompa itu menghentak-hentak dengan irama berat dan tersengal-sengal, seolah bilah turbinnya dipaksa melahap cairan yang teramat kental dan berlendir.
Bersamaan dengan deru janggal itu, hembusan angin malam yang menerobos kisi-kisi ventilasi kamar membawa serta aroma yang langsung membuat bulu kuduk Nashira meremang. Udara malam Griya Puspa Arum biasanya merupakan berkah yang dirindukan: wangi tanah gembur bercampur humus daun kopi, dipadu semerbak minyak asiri yang menguap dari ribuan kuntum melati gambir dan kenanga yang sedang mekar di kebun terbuka. Namun malam ini, udara yang masuk ke rongga dadanya terasa seperti tusukan jarum es beracun. Ada aroma tajam yang menyengat selaput lendir hidungnya—bau pelarut kimia hidrokarbon sintetis, bau belerang gosong, dan uap senyawa fenolat tengik yang seketika membuat pangkal lidahnya mengecap rasa pahit getir dan mual yang membuncah di ulu hati.
"Bau apa ini...?" bisik Nashira pada kegelapan.
Tanpa membuang waktu untuk menyisir rambut atau mengganti kain sarungnya, Nashira menyambar senter tabung seng dari atas meja dan sebilah arit kecil pemotong dahan yang selalu terselip di balik pintu. Tangannya membuka selot pintu belakang dengan hati-hati. Udara dini hari yang menusuk tulang langsung menerpa wajahnya, tetapi rasa dingin itu kalah telak oleh sengatan uap beracun yang semakin pekat ketika ia menuruni anak tangga semen menuju pelataran belakang.
Di kejauhan, lolongan anjing kampung di perbatasan dusun terdengar melolong panjang, bersahut-sahutan dengan nada parau dan ketakutan, seakan-akan sedang melihat bayang-bayang iblis yang melintas di kegelapan batas desa. Nashira menajamkan pandangan, menyorotkan berkas sinar kuning senternya ke arah instalasi menara air setinggi lima meter di ujung barat kebun pembibitan.
Di bawah menara itu, bayangan kejahatan mulai menampakkan wujudnya yang nyata.
Gembok kuningan pengaman kotak katup pencampur nutrisi telah tergeletak di atas tanah berbatu, terputus oleh gigitan gergaji besi yang kasar. Tutup tangki utama berkapasitas lima ribu liter itu menganga miring, terganjal sebatang kayu pinus yang sengaja diselipkan agar udara masuk mempercepat laju aliran. Dari bibir tangki, lelehan cairan kental berwarna biru pekat keunguan tampak meluap dan menetes deras ke tanah, berbuih kekuningan dengan desis halus yang mengerikan. Setiap tetes yang jatuh ke rumput gajah di bawahnya langsung membuat helai-helai daun hijau itu melepuh, meliuk layu, dan menghitam seolah dijilat lidah api yang tak kasat mata.
Jantung Nashira serasa dihantam palu godam. Lututnya lemas seketika saat aroma amoniak busuk bercampur klorfenol menusuk tenggorokannya tanpa ampun.
"Gusti Pangeran... herbisida! Mereka menuangkan herbisida paraquat ke tangki air utama!" jerit batin Nashira dalam kepanikan yang membakar otaknya.
Paraquat dan klorfenol dosis pekat adalah racun laknat—senyawa penghancur membran sel tumbuhan yang bekerja laksana kiamat kecil bagi setiap organisme berakar. Zat itu tidak hanya membunuh gulma di permukaan; ia membakar kloroplas, memutus respirasi seluler, dan mengendap di dalam tanah menjadi racun abadi yang memandulkan kesuburan humus selama bertahun-tahun. Dan sekarang, racun jahanam itu sedang dipompakan dengan tekanan empat bar ke seluruh jaringan pipa sprinkler kebun pembibitan terbuka!
Pshhh-klik-klik-klik-pshhhh!
Tepat pada detik itu, suara desis yang paling ia takuti meledak serempak dari ratusan nozel kuningan di seluruh petak bedengan pembibitan terbuka. Pipa-pipa PVC bergetar hebat. Dari ujung-ujung sprinkler putar, menyembur kabut aerosol berwarna keabu-abuan yang pekat, melayang bagai awan maut yang turun menyelimuti hamparan tanaman pusaka. Butir-butir cairan berminyak itu jatuh menghujani ribuan polybag indukan Melati Gambir, barisan Mawar Beludru Eyang Karsan, dan bibit-bibit Anggrek Hitam lereng yang sedang dipersiapkan untuk pameran puspa internasional bulan depan.
"Matikan saklarnya! Demi Allah, saklarnya!"
Nashira berlari bagai kesurupan. Sandal jepit karetnya terlepas di pematang yang becek, membuat kakinya telanjang menghantam tanah liat berbatu tajam. Ia tersandung akar pohon kenanga tua, jatuh tersungkur hingga dagunya membentur balok kayu bedengan. Rasa asin darah merembes di bibirnya, dan telapak tangannya tergores kerikil hingga perih menyengat, namun Nashira tidak peduli. Ia bangkit merangkak, menerjang dinding gudang perkakas tempat kotak sekring listrik terpasang.
Dengan tangan gemetar bersimbah lumpur dan darah, ia membuka pintu kotak panel besi, mencengkeram tuas saklar MCB utama, lalu menyentakkannya ke bawah sekuat tenaga.
Kletuk!
Percikan api biru menyala sesaat. Raungan motor pompa mendadak terhenti tercekik, dan semburan sprinkler di kebun melorot padam seketika. Tetapi keheningan yang kembali merayap di kebun itu tidak membawa kelegaan sedikit pun. Semuanya sudah terlambat. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, saluran pipa gravitasi telah memuntahkan hampir seribu liter cairan racun pekat ke seluruh penjuru kebun pembibitan terbuka.
Nashira terhuyung melangkah ke tengah bedengan melati gambir, mengarahkan senternya ke hamparan dedaunan. Apa yang tersaji di depan matanya adalah pemandangan pembantaian botani yang paling mengerikan yang pernah disaksikan manusia.
Racun herbisida kontak berkonsentrasi tinggi membunuh tanpa belas kasihan. Helai-helai daun melati gambir—varian pusaka tiga generasi yang dirawat almarhum ayah dan kakeknya dengan penuh sembah rasa—mulai kehilangan ketegangan selnya. Daun-daun hijau segar yang biasanya berkilau memantulkan cahaya kini melengkung kaku, berkerut seperti kertas terbakar, lalu bintik-bintik hitam gosong menjalar laksana borok ganas yang melumat seluruh jaringan klorofil. Kuntum-kuntum melati putih yang mekar dini hari dan semestinya dipanen menjelang subuh kini terkulai lemas, kelopaknya berubah warna menjadi abu-abu busuk yang berlendir, sebelum rontok berguguran ke lumpur beracun.
Aroma wangi surgawi yang selama puluhan tahun menjadi kebanggaan Griya Puspa Arum telah musnah tak berbekas, digantikan oleh hawa busuk kimia yang meracuni setiap tarikan napas.
"Ghalia! Yu Qonita! Bangun! Bangun, kebun kita dirusak! Tolong!"
Teriakan Nashira memecah keheningan dini hari dengan nada parau yang menyayat hati. Suaranya bergema menabrak dinding-dinding bukit, sarat dengan ratapan jiwa yang terkoyak melihat karya cinta berpuluh tahun dilumat tuntas dalam satu malam jahanam.
----------------------------------------------------
--- SUDUT PANDANG: GHALIA TARIFA ---
✍️
Teriakan Mbak Nashira menembus tidur Ghalia Tarifa laksana tusukan sebilah belati berkarat. Ghalia terbangun dalam keadaan terkesiap, napasnya memburu cepat, dan batinnya dicekam firasat buruk yang telah berbulan-bulan mengendap di dasar hatinya bagai endapan lumpur hitam.
Bagi Ghalia, tidur di Griya Puspa Arum belakangan ini adalah siksaan batin yang tak berujung. Di satu sisi, ia adalah anak gadis keluarga Karsan—seorang perangkai puspa yang sejak umur enam tahun diajari meraba nadi setiap kuncup mawar, menghirup aroma tanah sehabis hujan, dan memahami bahwa setiap tangkai bunga di kebun ini adalah titipan leluhur yang tak boleh dijual demi emas berapa pun. Namun di sisi lain, dadanya berdegup untuk Fardan Ardiansyah.
Fardan... pria muda berahang tegas dengan sorot mata teduh yang memegang kepemimpinan proyek pembangunan resor wisata lereng selatan. Pria yang selama ini menggenggam tangannya di bawah rindangnya pohon bungur, berbisik dengan nada yang begitu meyakinkan bahwa proyeknya tidak akan pernah merugikan Griya Puspa Arum. Fardan pernah bersumpah di hadapannya, "Ghalia, jika aku harus memilih antara membangun hotel megah ini atau menjaga senyummu di kebun bunga ini, aku lebih memilih merobohkan seluruh rancangan beton itu."
Tetapi malam ini, jeritan Mbak Nashira tidak menyisakan ruang bagi ilusi asmara apa pun.