Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Retakan Cangkir Porselen

BAGIAN I: Denyut Aspal yang Terbakar Racun

✍️

Jantung Fardan Fauzan berdegup liar bagai genderang perang yang ditabuh serampangan. Udara pagi itu tidak menawarkan kesejukan, melainkan hawa dingin yang menggores tenggorokan seperti pecahan kaca tipis. Sedan peraknya tersangkut tak berdaya dua blok di belakang, terkepung oleh barikade kayu bekas dan iring-iringan truk pengangkut puing proyek yang memadati jalanan sempit lingkar luar kota. Fardan tidak menunggu pengemudi di depannya mematikan klakson. Ia membanting pintu mobil, melepas jas wol yang mendadak terasa mencekik lehernya, lalu membiarkan tubuhnya melesat menembus guyuran gerimis abu-abu.

Kemeja putihnya dalam hitungan detik menempel basah di dada. Sepatu kulit mahalnya mencelap-celup lumpur got yang meluap ke badan jalan paving. Namun tidak ada satu pun ketidaknyamanan raga yang mampu menandingi lolongan kepanikan di dalam kepalanya. Kalimat Bimo, staf legal junior di kantor Adhiwira Group yang menghubunginya setengah jam lalu dengan suara gemetar ketakutan, terus berputar bagai kutukan: 'Mas Fardan, Pak Hartono dan konsorsium sudah menurunkan armada fajar tadi. Surat kuasa disposal lahan yang Mas tanda tangani minggu lalu... mereka lampirkan ke aparat! Mereka tidak sekadar memasang patok, Mas... mereka membawa tangki tangki herbisida industri pekat untuk mematikan seluruh vegetasi agar klaim cagar budaya Puspa Arum gugur seketika!'

Dunia Fardan serasa runtuh ke dalam jurang gulita saat itu juga. Surat kuasa itu—surat sialan yang ia tandatangani di bawah tekanan rapat dewan komisaris hari Kamis lalu—sejatinya adalah persetujuan pengalihan dana perwalian pribadinya untuk menebus sertifikat induk Griya Puspa Arum secara tertutup. Ia ingin membeli tanah itu dari tangan ayahnya sendiri, menjadikannya persembahan abadi dan benteng perlindungan bagi Ghalia. Ia sengaja merahasiakannya dari Ghalia karena ingin menjadikannya kejutan di hari ulang tahun perempuan itu bulan depan. Betapa naif dan dungunya kecongkakan seorang pemuda yang mengira mampu memperdaya serigala-serigala tua di dewan direksi keluarga besarnya sendiri!

Pamannya, Hartono Adhiwira, telah mengganti lembar lampiran kedua. Nama notaris yang tertera adalah notaris bayaran keluarga. Tanda tangan basah Fardan yang ia torehkan dengan niat tulus menyelamatkan tanah leluhur perempuan yang dicintainya, kini diubah menjadi cap eksekusi mati bagi kebun botani tertua di lembah tersebut.

Langkah kaki Fardan kian terengah-engah saat ia berbelok ke mulut gang beraspal rusak yang dinaungi jajaran pohon asam jawa tua. Biasanya, setiap kali ia mendekati kawasan Griya Puspa Arum, indra penciumannya akan disambut oleh aroma surgawi: semerbak manis melati gambir, harum lembut sedap malam yang mengendap dari semalam, dan kesegaran tanah basah yang dirawat dengan doa-doa kakek pujangga. Namun pagi ini, udara yang masuk ke rongga hidungnya berbau sangit, tajam, dan memualkan.

Itu adalah bau menyengat dari herbisida triazin berkonsentrasi tinggi—cairan pembasmi sistemik yang dirancang untuk meracuni akar hingga ke inti tanah paling dalam sehingga tidak ada satu tunas rumput pun yang sanggup hidup selama sepuluh tahun ke depan. Bau kimiawi itu berpadu dengan asap mesin diesel dan aroma membusuk dedaunan basah yang mati sebelum sempat berganti musim. Rasa mual menusuk lambung Fardan begitu hebat hingga ia sempat terhuyung menabrak pagar bambu tetangga.

'Ya Tuhan... jangan biarkan terlambat... kumohon, jangan biarkan aku terlambat,' bisiknya berulang-ulang, sementara rintik gerimis abu-abu kian rapat menghantam wajahnya, menyamarkan butiran keringat dingin dan keputusasaan yang mulai menggenangi sudut matanya. 'Ghalia... kumohon dengarkan aku dulu...'

-----------------------------------------------------


BAGIAN II: Dinding Besi dan Tatapan Algojo

✍️

Di ujung lorong berbatu kali, berdirilah gerbang utama Griya Puspa Arum. Pintu gerbang setinggi tiga meter itu adalah mahakarya besi tempa peninggalan era kolonial akhir abad kesembilan belas, bermotif sulur-sulur bunga teratai dan kuncup melati yang menjalar anggun. Selama puluhan tahun, gerbang itu hampir tidak pernah digembok rapat; pintunya selalu terbuka sedikit untuk para perajin minyak wangi tradisional, anak-anak sekolah yang ingin belajar membudidayakan anggrek langka, dan para pencari ketenangan yang ingin menghirup kesejukan serambi pendopo.

Pagi ini, pemandangan di depan Fardan tampak seperti benteng pertahanan yang sekarat. Daun pintu gerbang itu dirapatkan rapat-rapat. Tiga lilitan rantai kapal dari baja hitam mengikat kedua bilah pintunya, dikunci oleh gembok tembaga raksasa yang tampak basah berkilat oleh air hujan. Di balik jeruji besi bercat hitam yang terkelupas di sana-sini, tampak hamparan taman depan yang luluh lantak. Beberapa bedeng melati pusaka terlihat patah-patah, daun-daunnya layu keperakan akibat siraman zat kimia, dan jalur setapak batu bata merah dipenuhi jejak sepatu bot lars para pekerja proyek yang tampaknya baru saja dihalau keluar oleh warga sekitar.

Namun yang membuat jantung Fardan berhenti berdetak bukanlah kerusakan taman itu. Melainkan dua sosok manusia yang berdiri kaku di balik jeruji besi, menunggunya bagai dua algojo di hadapan tiang gantungan.

Nashira Salma berdiri memegang payung kain hitam berdiameter lebar. Rambut ikalnya disanggul tinggi dengan ketat, rahangnya terkatup begitu keras hingga tulang pipinya menonjol tajam. Matanya menyala—bukan nyala api amarah biasa, melainkan bara kebencian murni yang dingin dan membekukan. Di sampingnya, Rafan Nashif berdiri dengan jaket kanvas hijau lumut yang basah di bagian pundak. Kacamata berbingkai tanduk penyu milik pemuda arsitek lanskap itu berembun oleh uap napasnya sendiri. Rafan tidak memegang payung. Ia membiarkan rintik gerimis membasahi keningnya, sementara kedua tangannya terbenam di saku mantel, mencengkeram sebuah map kulit berwarna marun berlogo emas: *Adhiwira Realty Holdings*.

'Buka gerbangnya! Nashira! Rafan!' teriak Fardan serak seraya menghambur ke depan gerbang. Kedua tangannya yang telanjang langsung mencengkeram jeruji besi yang dingin menusuk tulang. Getaran logam tua itu berderit ngilu di tangannya. 'Buka pintunya, kumohon! Aku baru saja mendengar apa yang terjadi. Paman Hartono... bajingan itu menyalahgunakan dokumenku! Aku bersumpah demi langit dan bumi, aku tidak pernah memerintahkan pengrusakan ini!'

Nashira tidak bergeser satu senti pun. Ia bahkan tidak berkedip saat suara Fardan pecah di antara deru gerimis. Bibir perempuan sulung Tarifa itu melengkung tipis, membentuk senyum sinis yang sarat racun pembalasan.

'Masih punya muka kau melangkah ke tanah ini, Tuan Muda Adhiwira?' suara Nashira meluncur pelan, namun nadanya begitu tajam hingga memotong desau angin hujan. 'Kau pikir kami ini kawanan orang udik yang bisa kau beri makan kata-kata manis di malam hari, lalu kau sembelih di fajar hari? Lihat ke belakangmu! Bau herbisida milik perusahaan ayahmu masih menguap di parit kami! Melati ratu kakek kami mati lemas dalam waktu tiga jam! Dan kau datang ke sini berteriak seperti orang suci yang teraniaya?!'

'Bukan aku, Nashira! Tolong dengarkan aku!' Fardan mengguncang gerbang besi itu hingga rantainya beradu membentur jeruji dengan bunyi *klang-klang* yang memekakkan telinga. 'Aku memang menandatangani berkas akuisisi, tapi itu untuk mengambil alih hak opsi! Aku menjaminkan seluruh portofolio pribadiku di Jakarta untuk membekukan proyek ini! Paman Hartono memalsukan klausul eksekusi lapangannya subuh tadi. Aku baru tahu tiga puluh menit lalu saat Bimo menelponku!'

Rafan akhirnya melangkah maju dua tapak. Ia menarik tangannya dari saku mantel, mengeluarkan map marun yang sudah basah di bagian sudutnya. Tanpa sepatah kata pun, Rafan melemparkan map itu menembus celah jeruji besi. Map itu melayang canggung, lalu jatuh terhempas ke dalam genangan air berlumpur tepat di ujung sepatu Fardan.

Kancing pengikat map itu terlepas. Lembaran-lembaran kertas berharga di dalamnya terburai ke tanah becek, tersiram tetes gerimis abu-abu. Fardan menunduk dengan napas tersengal. Di atas kertas berlogo resmi Adhiwira Holdings itu, tercetak jelas: *Surat Kuasa Khusus Eksekusi Lahan & Sterilisasi Vegetasi Tanaman Liar - Nomor 44/ADW-DIR/X/2026*.

Di bagian bawah halaman penutup, di atas meterai sepuluh ribu yang basah kuyup, tertera tanda tangannya. Tinta biru tebal dengan goresan khas yang ia kenali sejak ia belajar memegang pena. Tidak ada coretan. Tidak ada bantahan legal. Di samping tanda tangannya, tertera cap jempol basah dan nomor induk kependudukan miliknya sendiri.

'Kertas itu tidak berbohong, Fardan,' ujar Rafan dengan suara yang teramat tenang—ketenangan yang justru jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah Nashira. 'Kau meminum kopi di teras kami setiap akhir pekan. Kau mendengarkan kakek bercerita tentang filosofi sulur melati selama berjam-jam. Kau menatap mata adik kami seolah ia adalah satu-satunya perempuan di muka bumi... sementara di balik meja kantormu yang mewah, tanganmu yang bersih itu menandatangani surat mati untuk tanah ini.'

'Rafan, demi persahabatan kita... kau tahu integritasku! Ini pengalihan sepihak!' Fardan berlutut di tanah becek, meraup kertas-kertas basah itu dengan jemari gemetar, mencoba menunjukkan celah rekayasa pada tanggal lampiran. Lumpur mencoreng kemeja dan pergelangan tangannya. 'Lihat tanggal addendum ini! Ini disisipkan tanpa persetujuanku! Panggil notaris Gunawan sekarang juga, biar dia bersaksi di depan kalian!'

'Cukup, Fardan.'

Suara itu tidak datang dari Nashira. Bukan pula dari Rafan.

Lihat selengkapnya