BAGIAN 1: PALUNG KELAM DI LANTAI TIGA PULUH DUA
Bunyi gemeretak botol plastik terinjak, dinginnya lantai marmer, tebalnya tirai jendela yang membungkus ruang kerja.
✍️
Kegelapan di ruang kerja itu memiliki beratnya sendiri. Ia menekan paru-paru seperti rendaman air payau yang pekat, menenggelamkan setiap hembusan napas Fardan Fauzan ke dalam palung kehampaan yang tak berdasar. Di lantai tiga puluh dua menara apartemen bertingkat megah ini, dunia luar—kerlap-kerlip gemintang Jakarta yang congkak, deru kendaraan malam yang meliuk di jalan protokol, hingga dengung pendingin ruangan sentral—seolah telah dimatikan secara paksa oleh kehendak sunyi. Tirai beludru hitam kelabu yang tebal itu ditarik rapat-rapat tanpa celah selebar ujung jarum pun, mengunci seluruh aroma keputusasaan di dalam kotak kaca berlantai parket kenari.
Lantai ruang kerja itu bukan lagi lambang prestise seorang eksekutif muda yang dipuja rubrik finansial terkemuka. Karpet wol persia yang mahal kini tertutup lapisan kekacauan yang memalukan. Lusinan botol air mineral kosong berserakan tak tentu arah, bergulingan dan berderit pelan setiap kali jemari kaki Fardan yang telanjang dan dingin menyenggolnya secara tak sengaja. Gelas kristal terbalik di sudut meja mahoni, menyisakan noda kopi pekat yang telah mengering berhari-hari. Di dekat sofa kulit Italia yang koyak kancingnya, bertumpuk lembaran laporan audit berkas reksa dana, perjanjian kredit sindikasi, dan akta notaris yang terlipat-lipat serta terkoyak pinggirannya oleh cengkeraman tangan yang gemetar kalap.
Fardan duduk meringkuk di atas lantai beralaskan bayang-bayang kelam di bawah bayangan meja kerjanya. Kemeja putih bergaris tipis yang biasanya disetrika licin tanpa cela kini kusut masai, kancing atasnya terlepas compang-camping, sementara lengannya digulung serampangan menampakkan urat-urat biru yang berdenyut tegang di pergelangan tangannya. Matanya yang merah cekung menatap nanar ke arah satu sudut kosong di dinding. Dua hari dua malam ia menolak menelan sesuap nasi pun. Tenggorokannya perih seperti digaruk pecahan kaca, namun rasa lapar fisik itu sama sekali tak sebanding dengan koyakan pedih yang mengoyak rongga dadanya.
Di tengah hening yang berdenging di gendang telinganya, terngiang kembali sebuah bait petuah lama yang dahulu kala sering disenandungkan oleh almarhum kakeknya di beranda rumah kayu mereka di kampung halaman—syair yang pernah ia anggap sebagai igauan kaum romantis yang tak memahami kerasnya hukum rimba permodalan modern: 'Tanpa cinta hidup pun hampa / Ada yang dicinta giat bekerja.'
Fardan tergelak pahit, tawa sumbang yang lebih menyerupai rintihan serak seekor serigala yang sekarat terjerat perangkap besi. 'Hampa...' bisiknya tercekat, air liurnya terasa getir bagai empedu. 'Sungguh mati, aku tidak pernah mengira kehampaan bisa sedingin dan sematikan ini.'
Selama lima tahun terakhir, sejak ia mengambil alih kemudi bendera bisnis keluarga, Fardan dibutakan oleh ilusi pencapaian material. Ia mengira bahwa cinta adalah kelemahan yang memperlambat laju kemenangan. Ia membiarkan hatinya membatu; ia memburu angka-angka portofolio, memenangkan akuisisi lahan berskala triliun rupiah, dan mendirikan gedung-gedung pencakar langit yang merobek langit ibu kota. Ia percaya bahwa perlindungan terbaik bagi orang-orang yang disayanginya adalah tumpukan emas dan kedudukan yang tak tergoyahkan. Namun kini, ketika seluruh pencakar langit itu berada di ambang jurang sita eksekusi, ketika nama baiknya digantung di ujung tanduk ancaman pidana, ia baru menyadari kebenaran hakiki petuah itu: seluruh kesuksesannya hanyalah tumpukan abu tak berharga jika jiwa di dalamnya telah lama kehilangan nyawa penggerak sejati.
Bayangan wajah wanita itu melintas bagai kilatan sembilu di benaknya. Tatapan mata yang teduh namun kini penuh kekecewaan, senyum tulus yang dulu selalu menyambutnya sepulang kerja tanpa peduli berapa laba bersih yang ia kantongi hari itu. Fardan telah mengabaikannya, menomorduakannya demi ambisi buta untuk membuktikan diri kepada keluarga besar. Dan yang lebih mengerikan, kebutaan cintanya itu telah dimanfaatkan secara licik oleh orang yang paling ia hormati: pamannya sendiri, Ghafar.
Paman Ghafar, pria berwajah teduh dengan tutur kata berbalut dalil agama dan kehormatan marga, rupanya telah menyiapkan perangkap maut sejak hari pertama Fardan menduduki kursi direktur utama. Setiap klausul pelik yang disodorkan pamannya dengan dalih 'penyelamatan aset keluarga' ternyata merupakan tali jerat yang perlahan merayap ke leher Fardan. Hingga tiga malam lalu, tabir muslihat itu terkuak sepenuhnya di hadapannya: dokumen-dokumen itu bukan penyelamatan, melainkan penyerahan tanpa syarat seluruh hak kelola dan kepemilikan kepada sebuah yayasan bayangan milik Ghafar di luar negeri.
Paman Ghafar mengancam akan menghancurkan nama baik ayahnya, membongkar rahasia kelam masa lalu keluarga ke ranah publik, dan memenjarakan Fardan atas tuduhan penggelapan dana nasabah yang direkayasa secara sistematis jika Fardan berani membuka suara atau menolak menyerahkan lembar saham pengendali terakhir. Fardan terjebak dalam sangkar emas yang kini terbakar bara. Ia merasa begitu kerdil, kotor, dan tak berdaya. Dalam keputusasaan yang meracuni akal sehatnya, ia mematikan semua gawainya, mengunci pintu berlapis baja apartemennya, dan membiarkan dirinya membusuk bersama bayang-bayang kematian harga diri.
----------------------------------------------------
BAGIAN 2: DENTUM PINTU DAN LANGKAH SAHABAT
Dentum gedoran pintu baja, derak engsel yang dipaksa, bau apek ruangan yang pengap, derap langkah di atas botol berserakan.
✍️
Langkah kaki Rafan Nashif menggema keras di sepanjang lorong koridor lantai tiga puluh dua menara apartemen The Royal Crest. Karpet tebal berwana biru kelasi yang meredam suara derap sepatu kulitnya tak mampu meredam debar kemarahan dan kecemasan yang bergolak bagai lahar di dalam dadanya. Sudah tujuh puluh dua jam Fardan Fauzan menghilang bagai ditelan bumi. Dua rapat luar biasa dewan komisaris dibatalkan sepihak. Pihak bank kustodian mulai mengirimkan surat peringatan pertama. Dan di kantor pusat, Paman Ghafar telah mulai mondar-mandir laksana burung hering yang mencium bau bangkai, menebar senyum culas sembari mengumpulkan para manajer untuk mempersiapkan manuver pengambilalihan darurat.
Rafan berhenti tepat di depan pintu ganda bernomor 3201. Pintu kayu jati berlapis pelat baja itu berdiri kokoh, dingin dan membisu. Bel pintu elektronik yang ia tekan berkali-kali hanya mengeluarkan nada dengung steril tanpa ada sahutan. Ponsel Fardan masih mengalihkan panggilan ke kotak suara otomatis.
'Fardan!' teriak Rafan sembari menggedor permukaan pintu jati itu dengan sisi kepalan tangannya hingga persendiannya memerah perih. 'Buka pintunya, sialan! Kau pikir kau bisa bersembunyi selamanya di balik pintu ini sementara kantor kita hampir dijarah gerombolan serigala pamankan?!'
Tak ada jawaban. Hanya kesenyapan yang menakutkan mengalir dari celah bawah pintu. Firasat Rafan memburuk. Ia teringat tatapan mata Fardan pekan lalu—tatapan seorang prajurit yang telah menyerahkan senjatanya sebelum peluru pertama ditembakkan. Ketakutan paling purba mencengkeram benak Rafan: mungkinkah sahabatnya itu telah mengambil jalan pintas yang paling gelap?
Rafan merogoh saku mantel panjangnya, mengeluarkan kartu akses darurat yang pernah diberikan pengelola gedung kepada para pendiri perusahaan saat konstruksi perdana, lengkap dengan kode master manual yang ia ingat di luar kepala. Layar digital kunci pintar menyala merah saat ia memasukkan enam digit angka sandi. Bunyi klik mekanis yang berat terdengar, disusul terbukanya gerendel baja.
Namun saat Rafan mendorong daun pintu itu, pintu tersebut tertahan oleh rantai pengaman tambahan dan sebuah kursi jati yang sengaja diganjalkan Fardan dari dalam. Rafan tidak ragu sedetik pun. Ia memundurkan tubuhnya setengah langkah, lalu menghantamkan seluruh bobot bahunya ke bidang pintu sekuat tenaga. Dentuman keras menggelegar di lorong sepi itu. Sekali, dua kali, hingga pada hantaman ketiga, sekrup pengait rantai terlepas dari kusen dinding dengan suara retakan kayu yang tajam.
Pintu terayun terbuka lebar.
Aroma yang menyergap hidung Rafan seketika membuatnya terkesiap menahan napas. Udara di dalam ruang kerja itu luar biasa pengap dan pekat, dipenuhi bau tembakau kering basi, uap keringat dingin berhari-hari, dan kepahitan dari jiwa yang putus asa. Ruangan itu gulita laksana liang lahat. Hanya bias lampu koridor yang menyelinap masuk beberapa jengkal, menerangi lantai parket yang dipenuhi ranjau botol-botol air mineral plastik kosong yang peot dan lembaran-lembaran kertas berceceran bagai daun-daun kering di musim gugur.
Rafan menyalakan lampu senter ponselnya. Berkas cahaya putih dingin itu menyapu seisi ruangan: rak buku berukir yang buku-bukunya berjatuhan, lukisan pemandangan pantai yang miring di dinding, meja kerja mahoni yang acak-acakan, hingga akhirnya cahaya itu berhenti tepat di sudut lantai di bawah bayangan meja.