Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Sumpah Serakah Ghafar Syarif

ADEGAN 1: DI ATAS AWAN MENARA KACA

Ruang Kerja Puncak Lantai 42, Menara Syarif Megah Persada

✍️

Dari ketinggian lantai empat puluh dua Menara Syarif Megah Persada, Jakarta tampak seperti serakan balok semen dan lempengan logam yang merayap lamban di bawah terik kemarau. Di balik dinding kaca antipeluru kedap suara setebal empat inci, deru klakson, derit knalpot, dan keluh kesah jutaan manusia tersaring habis menjadi kesunyian yang dingin dan steril. Ghafar Syarif berdiri tegak, menyandarkan berat tubuhnya yang gempal pada tongkat kayu eboni langka berhulu kepala singa berlapis emas murni dua puluh empat karat.

Asap cerutu Cohiba miliknya meliuk malas di udara yang beku oleh hembusan pendingin ruangan sentral bersuhu delapan belas derajat. Tarikan nafasnya berat dan pongah, sarat aroma tembakau lelang, pomade mahal, dan kekuasaan mutlak yang ia cengkeram selama empat dasawarsa. Ruangan seluas tiga ratus meter persegi ini dilapisi panel mahoni Brasil dan karpet wol sutra Persia yang menelan setiap derap kaki. Tempat ini dibangun untuk satu tujuan: menundukkan siapa saja yang melangkah masuk agar merasa kerdil di hadapan sang penguasa yang tak pernah tersentuh hukum.

Ghafar mengetuk ujung tongkatnya dua kali ke marmer Carrara kelabu. Pagi ini, map laba konsorsium kuartal ketiga tergeletak di mejanya, memamerkan surplus puluhan triliun rupiah dari reklamasi pesisir dan penggusuran bantaran kanal. Nama Syarif Megah Persada bertengger megah di tajuk utama harian nasional. Menteri menyapanya takzim, bankir berebut menyodorkan kredit, dan lawan bisnisnya gemetar menanti akuisisi berikutnya. Siapa pun yang berani melawannya di masa lalu kini telah hancur: meringkuk di jeruji besi, bangkrut terlilit utang fiktif, atau terusir ke pengasingan sunyi. Ayahnya dulu gagal membangun dinasti karena terlalu banyak bertimbang rasa, dan Ghafar bersumpah tidak akan mengulangi kelemahan sentimental itu.

Namun, rahang Ghafar mengeras kaku pagi ini. Ada sebutir kerikil tajam di dalam sepatu kulit buaya pesanannya: Fardan Fauzan—anak mendiang adiknya yang ia gadang sebagai putra mahkota, namun belakangan menampakkan sorot mata liar seorang pembangkang yang enggan dicambuk dan mulai mempertanyakan keabsahan aliran dana yayasan keluarga.

"Anak ingusan itu mengira moralitas bisa ditukar beras di kasir kehidupan," desis Ghafar kejam. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela—wajah pria enam puluh lima tahun dengan kantung mata hitam tebal, alis congkak, dan bibir yang terbiasa menjatuhkan vonis kebangkrutan tanpa sebersit belas kasih.

Sebuah ingatan ganjil tiba-tiba menyusup: petuah kakeknya di beranda kayu ulin puluhan tahun silam sebelum ia merantau ke belantara ibu kota. *"Ingat, Ghafar... menimbun tanah tanpa menyiram cinta hanya sedang membangun taman suram tanpa bunga ih-ha. Bagus dipandang dari jauh, tetapi sejatinya tanah kuburan tempat bersarangnya ulat dan keputusasaan."*

Ghafar mengibaskan tangannya dengan dengus mencemooh, mengusir bisikan tua itu sebagaimana ia mengibaskan abu cerutu ke asbak kristal Bohemia. "Omong kosong orang-orang kalah!" dengusnya. "Bunga tidak bisa membeli saham perbankan atau menyumpal mulut jaksa. Hanya serakah yang membuat manusia menjadi dewa di atas tanah ini, dan anak itu harus berlutut memahami kodrat kekuasaan."

Kutipan Kunci: "Dunia ini tidak digerakkan oleh doa atau belas kasih, melainkan oleh tanda tangan di atas kertas bermeterai dan rasa gentar mereka yang tak berdaya."

----------------------------------------------------

ADEGAN 2: LANGKAH TANPA GENTAR MENUJU SARANG SINGA

Koridor Eksekutif Lantai 42 Menara Syarif Megah Persada

✍️

Pintu lift eksekutif berbingkai perunggu membuka tanpa getaran di lantai empat puluh dua. Fardan Fauzan melangkah keluar dengan ritme langkah tenang. Tidak seperti biasanya saat ia mengenakan setelan jas wol Savile Row pesanan pamannya, hari ini Fardan hanya memakai kemeja katun putih polos dengan lengan digulung rapi hingga siku, celana jins gelap, dan sepatu kulit cokelat sederhana peninggalan masa kuliah.

Di tangan kirinya, ia mendekap map kulit hitam tipis. Di dalamnya hanya ada tiga lembar kertas bermaterai sepuluh ribu rupiah: surat pengunduran diri mutlak dari seluruh jabatan komisaris dan direktur anak usaha Syarif Megah Persada, akta notaris pelepasan hibah lima belas persen saham keluarga, serta surat pernyataan resmi penolakan seluruh hak waris perdata.

Di saku kanannya, tersimpan dua simbol status palsu: gantungan kunci mobil dinas Alphard hitam bertatahkan perak dan kartu akses magnetik emas berlogo monogram SMP. Benda-benda itu selama ini terasa seperti kepingan logam beracun yang membakar pahanya, menagih tebusan moral atas setiap nafas kemewahan yang ia hirup di sarang konglomerat ini.

Langkah Fardan melintasi koridor eksekutif yang sunyi. Di sepanjang dinding jati gelap, lukisan bernilai miliaran rupiah tergantung di bawah halogen temaram, namun tampak beku dan tak bernyawa. Selama hampir sepuluh tahun—sejak orang tuanya tewas dalam kecelakaan janggal di ruas tol Pantura yang laporannya ditutup sepihak oleh koneksi kepolisian pamannya—Ghafar telah mengambil alih hidup Fardan dengan dalih perlindungan keluarga.

Ghafar membiayai kuliahnya di London, membelikannya apartemen mewah di Menteng, dan menaruh namanya di jajaran direksi sebelum usianya genap tiga puluh tahun. Namun setiap fasilitas itu menuntut kepatuhan buta: menandatangani izin pembebasan tanah nelayan, menyetujui manipulasi uji amdal pabrik kimia, dan menutup mata saat koper suap diantar tengah malam ke rumah pejabat. Titik balik itu terjadi semalam, saat seorang sesepuh kampung nelayan meneleponnya sambil terisak, memohon agar rumah mereka tidak dibakar preman bayaran korporasi.

"Kau berutang darah dan kehormatan padaku, Fardan," racun itu selalu diulang pamannya setiap kali nurani Fardan meronta. "Kalau bukan karena aku, kau dan ibumu hanyalah bangkai kelaparan di trotoar miskin!"

Namun bisikan mendiang ibunya sebelum menutup mata di ranjang rumah sakit tua kembali bergema di dadanya: *"Sepiring nasi dengan garam yang dimakan dengan tangan bersih, Fardan, jauh lebih mulia daripada jamuan daging raja hasil menindas sesama."*

Fardan menarik nafas dalam-dalam. Udara koridor beraroma pinus sintetis itu masuk ke rongga dadanya, namun rasa sesak yang bertahun-tahun menghimpitnya mendadak lenyap. Hari ini ia datang bukan untuk berdebat atau meminta izin, melainkan untuk meremukkan belenggu itu hingga menjadi abu.

Kutipan Kunci: "Hari ini bukan tentang membalas dendam, melainkan tentang menolak menyerahkan sisa nafas dan jiwaku ke dalam pembakaran tungku emasnya."

----------------------------------------------------

ADEGAN 3: MEJA MAHONI DAN PECAHNYA SANGKAR EMAS

Ruang Kerja Utama Ghafar Syarif

✍️

Fardan mendorong daun pintu ganda berbahan kayu ek padat itu tanpa mengetuk. Bu Larasati, kepala sekretariat bergaji puluhan juta, terlonjak dari kursinya dengan wajah pias dan seruan panik yang tertahan di kerongkongan: "Pak Fardan! Tunggu, Pak! Bapak belum ada janji resmi, Pak Ghafar sedang meneliti berkas rahasia konsorsium—"

Fardan tidak menoleh. Daun pintu setebal delapan sentimeter itu berayun terbuka dengan keanggunan mengancam. Ruang kerja Ghafar terbentang laksana gua predator yang diselimuti kemewahan menindas. Di balik meja mahoni berukir jepara sepanjang tiga meter, Ghafar Syarif perlahan memutar tubuhnya dari arah jendela kaca raksasa.

"Kau sudah menanggalkan etika kesopanan di pintu depan, Fardan?" Suara Ghafar bergema rendah, dipenuhi otoritas yang menuntut ketundukan mutlak. Matanya yang merah meneliti penampilan sederhana Fardan, dan alis tebalnya terangkat jijik. "Pakaian gembel apa ini? Pukul dua siang nanti seluruh dewan komisaris dan perbankan Singapura berkumpul menandatangani pembiayaan pelabuhan baru. Kupikir kau sedang bersiap di ruanganmu memoles draf persetujuan kredit."

Fardan terus melangkah tanpa suara hingga berhenti tepat satu meter di seberang meja mahoni. Di antara mereka terbentang plakat penghargaan bisnis, telepon satelit antipenyadapan, dan asbak kristal Bohemia yang mengepulkan asap kelabu.

Dengan gerakan tenang tanpa getaran sedikit pun, Fardan meletakkan map kulit hitam itu di tengah meja. Di atasnya, ia menaruh kunci Alphard dan kartu akses emas. Denting logam yang beradu dengan kaca pelindung meja memecah keheningan ruangan dengan ketajaman belati yang siap menusuk jantung ilusi sang patriark.

Ghafar melirik benda-benda itu, lalu tertawa mencemooh dengan nada merendahkan. "Apa ini? Rancangan anggaran tambahan untuk yayasan panti asuhanmu itu? Sudah kubilang, kedermawanan hanya berguna jika bisa memotong pajak dan memuluskan izin operasional! Berapa kali aku harus mengajarimu cara kerja uang yang sesungguhnya?"

"Buka dan baca sendiri, Paman," potong Fardan. Suaranya tidak meninggi, melainkan datar dan dingin seperti lempengan es di dasar samudra.

Ghafar tersentak. Cincin giok di jemarinya beradu dengan kaca meja saat tangannya menegang kaku. Selama puluhan tahun memimpin konglomerasi, belum pernah ada yang berani memotong ucapannya dengan nada sedingin itu. Dengan jari-jari gempal berhiaskan giok hijau tua, Ghafar menyambar map itu dan menyibak lembaran pertamanya.

Lihat selengkapnya