BAGIAN I: IRAMA KLORHEKSIDIN DAN DETIK YANG MENIPIS
Kamar Perawatan 408 Paviliun Angsana, Rumah Sakit Daerah
✍️
Bunyi itu tidak pernah mengubah temponya: bip... bip... bip... Bunyi ritmis monitor detak jantung di samping ranjang besi terdengar bagai jarum jam mekanik kuno yang meneteskan detik demi detik ke dalam bejana kepedihan yang nyaris meluap. Di ruang bernomor 408 Paviliun Angsana, hening bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan beban tak kasatmata yang menindih dada siapa pun yang melangkah melintasi ambang pintunya. Udara terasa dingin dan kering, disaring berkali-kali oleh kisi pendingin sentral yang berembus konstan, membawa bau antiseptik klorheksidin yang tajam menusuk hidung bercampur aroma getir uap obat dan alkohol pembersih luka. Segala sesuatu di ruangan ini tampak serba dingin—dinding bercat hijau telur asin yang memudar, tiang infus baja nirkarat yang berkilau kaku, serta lantai vinil kelabu yang memantulkan kerlip lampu neon tabung dengan kejam.
Ghalia Tarifa duduk membungkuk di atas kursi lipat vinil yang robek di sudut bantalannya. Kedua telapak tangannya menangkup jemari Nenek Qonita Shobiyah. Tangan itu—tangan yang sepanjang ingatan masa kanak-kanak Ghalia selalu menebarkan wangi getah kenanga, minyak kelapa perasan pertama, dan serbuk sari melati gambir—kini tampak begitu ringkih. Punggung tangannya terbungkus kulit tipis menyerupai kertas perkamen tua, dihiasi sulur urat-urat kebiruan yang berkelok seperti aliran sungai yang mengering di ujung kemarau panjang. Di punggung tangan itu, kanula infus kupu-kupu terpancang dengan plester transparan, menyalurkan tetesan cairan bening ke pembuluh darah yang kian rapuh.
Namun, di balik kerapuhan ragawi itu, ada sesuatu yang membuat air mata Ghalia tertahan di sudut pelupuk matanya: genggaman tangan keriput nenek yang hangat. Kehangatan itu terasa ganjil sekaligus sakral. Di tengah dinginnya ruangan dan bau klorheksidin yang membekap rongga pernapasan, telapak tangan sang sesepuh Griya Puspa Arum seakan memancarkan panas bumi yang tak pernah padam. Itu adalah kehangatan tanah perbukitan kapur yang terpanggang terik matahari ratusan musim, kehangatan tungku dapur tempat daun rempah pusaka direbus dengan kidung doa, kehangatan jiwa seorang perempuan yang delapan puluh tahun hidupnya menolak bertekuk lutut di hadapan keangkuhan dunia.
"Bertahanlah, Nenek... kumohon, bertahanlah sedikit lagi untukku, untuk pusaka kita," bisik Ghalia serak. Matanya yang merah menatap dada neneknya yang naik turun pendek-pendek di balik selimut putih rumah sakit daerah. Selang oksigen di cuping hidung sang nenek berdesis lembut, menyuplai udara bagi paru-paru renta yang kehabisan tenaga.
Hanya beberapa jam yang lalu, dunia mereka belum terlempar ke dalam jurang nadir ini. Ghalia masih mengingat bagaimana terik kemarau siang itu mendidihkan aspal jalan desa. Ia masih mengingat suara gemeretak ranting pusaka yang patah di bawah cakar besi alat berat, serta jeritan para tetua kampung ketika debu kuning membubung menutup cakrawala Griya Puspa Arum. Pemandangan kehancuran itulah yang meruntuhkan pertahanan terakhir Nenek Qonita. Jantung tua itu terhentak oleh kedukaan yang teramat pekat; nenek ambruk di pelataran kebun tepat saat ekskavator pertama menancapkan bilah besinya ke akar pohon cendana keramat. Kini bayang-bayang senja mulai merayapi perbukitan di luar jendela kaca, sementara konspirasi penggusuran bersiap menuntaskan kejahatannya.
----------------------------------------------------
BAGIAN II: ABU DI TANAH LELUHUR DAN SEGEL KUNING DI PINTU GRIYA
Pelataran Griya Puspa Arum, Kebun Herbal Pusaka & Gerbang Utama
✍️
Ketika ambulans desa meluncur membawa Nenek Qonita yang pingsan dengan bibir membiru tadi siang, Ghalia sempat tertinggal sejenak di pelataran Griya Puspa Arum untuk mengumpulkan kain ganti dan perlengkapan penting sang nenek. Pemandangan yang disaksikannya kala itu bagaikan luka bakar yang menganga di dalam sukmanya.
Griya Puspa Arum, rumah panggung kayu jati berukir yang telah berdiri tegak melintasi tiga zaman, tampak meringkuk kesepian di tengah amukan debu kemarau yang ganas. Angin timur dari perbukitan kapur menerbangkan dedaunan kering yang telah hancur menjadi serbuk, menimbun beranda depan dengan abu kelabu setebal ruas jari. Di pelataran timur, tempat kebun herbal pusaka selama ini menjadi benteng konservasi ratusan flora langka pengobatan Nusantara, kehancuran terhampar tanpa belas kasihan.
Tiga pohon cendana wangi yang ditanam kakek buyut pada awal abad kedua puluh telah tumbang terbelah. Batang raksasa itu rebah di atas tanah cadas, kulit kayunya tercabik oleh gerigi rantai ekskavator milik PT Mahameru Megah Lahan. Getah harum cendana yang menetes dari luka kayu berbaur dengan tumpahan pelumas hidrolik yang pekat, menciptakan bau anyir mesin yang menodai kesucian tanah adat. Rumpun melati gambir pusaka—yang bunganya biasa dipetik Nenek Qonita setiap fajar untuk disuling menjadi minyak wangi persembahan sanggar—kini rata dengan tanah, tergilas jejak roda rantai baja berlumur lumpur kering.
Sumur batu tua bertatahkan aksara Jawa kuno di sudut taman, yang airnya konon tak pernah surut meski kemarau melanda bertahun-tahun, tertutup pecahan genting dan dahan beringin kerdil yang dipotong paksa. Tak ada lagi kepodang emas yang berkicau di dahan kemuning; yang tersisa hanyalah dengung lalat hijau dan desau angin kering yang membakar ubun-ubun.
Namun yang paling menyayat sembilu adalah pemandangan di gerbang masuk. Di sepasang tiang kayu ulin gapura yang dipahat ukiran sulur kuncup melati puspa arum, selembar papan tripleks telah dipaku serampangan dengan paku berkarat. Di atasnya tertempel kertas tebal berstempel tinta ungu tua: SURAT PERINTAH PENGOSONGAN LAHAN & PENGHENTIAN SELURUH AKTIVITAS WARGA SECARA TOTAL, lengkap dengan nomor register perkara pengadilan negeri serta lambang aparat penegak hukum. Di bawah papan itu, garis pita kuning plastik melintang kaku, menyegel jalan masuk bagaikan batas kejahatan.
Plang besi aparat dan pemborong tertancap angkuh di batas parit desa: TANAH INI DIKUASAI NEGARA / HAK GUNA USAHA DALAM PENGAWASAN KONSORSIUM PT MAHAMERU MEGAH LAHAN. DILARANG MEMASUKI AREA TANPA IZIN TERTULIS. Ghalia mengingat tangannya yang gemetar saat mengunci pintu pendopo. Selama puluhan tahun, spekulan tanah datang membawa koper uang ratusan juta, membujuk Nenek Qonita menjual tanah pusaka demi resor dan tambang kapur. Nenek selalu menjawab lembut: 'Tanah pusaka ini bukan milik kami untuk diperjualbelikan, Tuan. Ini rahim tempat cinta leluhur berakar. Kami hanya dititipkan tugas sebagai juru siram agar anak cucu tidak lupa cara menghirup wangi nurani.' Kini juru siram itu terbaring sekarat, sementara serigala modal telah menancapkan taring bajanya ke jantung Griya Puspa Arum.
---------------------------------------------------
BAGIAN III: BAYANG-BAYANG DI BALIK LORONG VINIL DAN DILEMA NASHIRA SALMA
Koridor Luar Kamar 408 & Ambang Pintu Kaca
✍️
Suara derit langkah sepatu di lorong mendadak menyentak Ghalia dari pusaran ingatannya. Pintu geser kamar 408 bergerak ke samping, mengeluarkan desau halus. Di ambang pintu itu, sesosok perempuan muda berbalut blazer formal warna abu-abu arang dengan kerudung sutra biru dongker berdiri mematung. Kerudungnya tampak berantakan, beberapa helai rambut mencuat di dahinya yang berkeringat dingin. Perempuan itu adalah Nashira Salma.
Nashira berdiri kaku, napasnya memburu pendek seolah baru saja berlari menaiki empat lantai tangga darurat. Di dekapannya, sebuah map tebal berbahan kulit merah marun berlogo timbul emas PT Mahameru Megah Lahan dipeluk erat-erat di depan dada. Matanya yang sembap melirik ke arah ranjang tempat Nenek Qonita terbaring, lalu beralih menatap Ghalia dengan sorot ketakutan dan rasa bersalah yang amat pekat. Nashira adalah putri tunggal Haji Salma—pemegang saham lokal terbesar dalam konsorsium proyek penggusuran lahan tersebut. Namun lebih dari itu, Nashira adalah sahabat terdekat Ghalia sejak masa sekolah dasar.
Di beranda Griya Puspa Arum itulah dulu Nashira belajar merajut mahkota melati bersama Ghalia. Di sanggar itu pula almarhumah ibu Nashira pernah dirawat dan diselamatkan dari penyakit paru-paru berkat ramuan akar wangi dan minyak cendana racikan Nenek Qonita tanpa meminta imbalan sepeser pun. Namun cinta buta sang ayah pada perluasan kuasa dan dividen proyek telah mengubah jalinan sejarah keluarga mereka menjadi bara permusuhan.