BABAK 1: BABAK I: DI ANTARA TABUNG REAKSI DAN JEJAK BERACUN
Latar: Laboratorium Forensik & Toksikologi Tanaman, Lantai Tiga | Pukul 22.40 WIB — Hujan gerimis menyapu kaca jendela berembun
✍️
Bunyi klik mekanis dari instrumen kromatografi gas-spektrometri massa itu terdengar seperti letupan pelatuk senjata yang baru saja melepaskan kebenaran. Nashira Salma menahan napas. Jarum suntik mikro telah menyelesaikan injeksi otomatisnya lima belas menit lalu, dan kini, di hadapannya pada monitor monokrom berlatar hitam pekat, kurva kromatogram menjulang tegak lurus bagai menara belati.
Puncak retensi 7,42 menit. Rasio massa terhadap muatan: 183 m/z dan 181 m/z. Sempurna. Tidak ada lagi ruang untuk berkilah atau berdalih.
Zat yang melayukan rumpun anggrek hitam pusaka dan membakar akar selop langka di sudut utara Griya Puspa Arum bukanlah infeksi jamur Fusarium oxysporum seperti yang dituduhkan dinas pertamanan boneka kemarin. Itu adalah formulasi sintetik murni Diquat dibromide bergradasi ekspor, dicampur dengan surfaktan amonium silikon yang dirancang khusus untuk mempenetrasi kutikula lilin daun dalam tempo kurang dari dua puluh menit. Racun itu tidak dijual bebas di kios pertanian pinggiran kota. Itu racun pembersih lahan skala megakontraktor.
Nashira menekan jemarinya ke pelipis yang berdenyut pedih. Di samping mikroskop binokular, cawan petri berisi serpihan humus yang menghitam tampak seperti abu jenazah. Selama berhari-hari, ia mengurung diri di laboratorium dingin ini, menolak pulang, menolak tidur lebih dari tiga jam beralas jas lab di atas kursi putar. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan dedaunan Puspa Arum yang menggelung hangus menghantuinya seperti jeritan bisu makhluk hidup yang dicekik di kegelapan.
Namun yang membuat dadanya sesak bukan hanya kekejaman racun itu. Di sudut layar, nomor batch produksi yang terekstrak dari aditif stabilisator muncul: LOT-IDN-994-B. Nashira menarik map cokelat berkas lelang yang ia peroleh secara sembunyi-sembunyi dua hari lalu dari seorang arsiparis dinas yang bersimpati. Matanya membelalak saat mencocokkan kode pengadaan.
Nomor lot herbisida itu identik dengan dokumen pengadaan material pematangan lahan proyek Kawasan Megablok Puspa Harmoni. Dan penandatangan surat perintah jalan untuk pengiriman tangki kimia itu adalah CV Sinar Makmur Abadi—perusahaan kontraktor rekanan gelap yang seluruh komisarisnya bermuara pada satu nama besar: Ghafar Syarif.
“Ternyata benar...” bisik Nashira pelan. Suaranya serak, tertelan dengung dengung pendingin sentrifugasi yang terus berputar di sudut ruangan. “Ini bukan kecerobohan lingkungan. Ini ekosida terencana.”
Namun di balik amarah yang membakar, sebuah duri tajam menghunjam ulu hatinya: Fardan Fauzan. Nama itu selama dua pekan terakhir menjadi pusaran kecurigaan terbesarnya. Fardan adalah arsitek lansekap yang sempat terlihat berdiskusi intens di lobi kantor konsorsium Syarif. Fardan yang memiliki akses penuh pada denah sirkulasi air dan zonasi vegetasi kebun warisan mendiang kakeknya. Nashira sempat menatap lelaki itu dengan tatapan penuh tuduhan pedas di selasar rumah kaca, menganggap senyum tenangnya adalah topeng pengkhianat yang telah menjual jiwa pada pemilik modal rakus.
‘Apakah Fardan benar-benar terlibat, ataukah aku yang telah dibutakan oleh luka dan ketakutan kehilangan?’ bisik batinnya mengutuk keraguannya sendiri.
Ponsel di sakunya bergetar keras, memecah kesunyian malam. Sebuah pesan singkat dari Rafan Nashif, pemimpin redaksi Warta Nurani: "Nashira, Fardan ada di markas kami sekarang. Dia tidak membawa rancangan penggusuran. Dia membawa peta tandingan cagar budaya internasional dan dokumen hukum yang akan membalikkan seluruh meja permainan Ghafar Syarif. Bawa hasil spektrum lab-mu sebelum fajar. Kita serang mereka serempak."
Nashira tertegun. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Tangannya yang dingin segera mencetak grafik spektrometri itu menjadi lembar-lembar bukti otentik. Ia menyegel tabung vial berisi cairan residu murni ke dalam kantong spesimen berlabel biohazard, memasukkan map tebal ke dalam ransel tahan airnya, lalu menyambar jaket kanvas hijau tua.
Saat menuruni anak tangga darurat dan menerobos rintik hujan di pelataran laboratorium, sebaris kalimat petuah lama yang diukir kakeknya di kayu jati gerbang puspa arum mendadak berdentang di kepalanya: "Karena cinta punya daya / Siapa saja memerlukannya." Nashira menghela napas panjang dalam udara malam yang basah. Cinta pada tanah ini, pada tanaman yang bernapas tanpa suara, telah membimbing langkahnya menolak rasa takut. Kini, ia harus menuntaskan separuh kebenaran lainnya.
-----------------------------------------------------
BABAK 2: BABAK II: DI BALIK MEJA JATI DAN ASAP KOPI TUBRUK
Latar: Markas Redaksi Warta Nurani, Loteng Bangunan Kolonial Pasar Lama | Pukul 23.25 WIB — Mesin cetak rotari mini mendengung di ruang belakang
✍️
Di markas redaksi Warta Nurani yang bersembunyi di lantai dua sebuah gudang rempah tua, malam tidak pernah benar-benar mati. Udara di loteng berdinding bata ekspos itu selalu memiliki rumus kimia yang sama: campuran uap kopi tubruk hitam tanpa gula, aroma kertas koran yang hangat keluar dari rol silinder, dan sedikit tembakau cengkih yang menyelinap dari ventilasi kayu jati.
Rafan Nashif menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi putar yang berderit parau. Matanya yang merah menatap papan gabus besar di hadapannya. Papan itu telah berubah menjadi peta konspirasi: guntingan akta notaris palsu, foto satelit tutupan tajuk pepohonan, dan benang wol merah yang menghubungkan nama Ghafar Syarif ke pejabat dinas perizinan terpadu, lalu bercabang ke enam perusahaan cangkang di kepulauan bebas pajak.
“Jurnalisme tanpa bukti sains hanyalah opini yang mudah dipatahkan di pengadilan pencemaran nama baik, Bung,” gumam Rafan sambil menyeruput kopi tubruknya yang mulai menyisakan ampas tebal di dasar cangkir enamel.
Di ujung meja panjang yang penuh dengan tumpukan buku perundang-undangan dan tabung gambar arsitektur, Fardan Fauzan sedang berdiri membungkuk. Kemeja putih arsitek muda itu telah dilipat hingga siku, dasinya longgar, dan di tangannya tergenggam sepasang jangka ukur serta pensil grafit 4B. Di atas meja terbentang peta topografi berskala 1:500 bergaris kontur rumit yang memetakan setiap lereng, mata air, dan kanopi pohon puspa di Griya Puspa Arum.
Rafan mengamati pemuda itu dengan tatapan jurnalis yang terbiasa menguji kejujuran narasumber. Sepanjang sepuluh tahun memimpin surat kabar independen yang kerap diancam dibakar preman bayaran, Rafan telah melihat ribuan orang mengaku berjuang demi kebenaran, padahal hanya ingin mengamankan bagian dari kue kekuasaan. Tetapi malam ini, ada kelelahan yang luhur di wajah Fardan. Ada sorot mata seorang perancang yang mencintai tanah tempat pondasinya berdiri.