Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Terbitnya Berita di Taman Jiwa

--- BABAK I: FAJAR HANGAT TINTA DAN GEMERETAK MESIN CETAK ---

Pangkalan Loper Koran Sentral, Pasar Baru — Pukul 04.15 WIB | Subuh Buta

✍️

Fajar belum lagi merekah sempurna di kaki langit timur, namun udara di pelataran pangkalan loper Pasar Baru telah terbakar oleh ketegangan yang mendidih. Udara subuh yang dingin menusuk tulang sama sekali tak sanggup mendinginkan panas yang memancar dari tumpukan ratusan bundel koran yang baru saja diturunkan dari bak truk colt hitam. Bau tajam tinta cetak basah—campuran timbal, pelarut minyak tanah, dan serat selulosa hangat—menyergap rongga hidungku dengan keintiman yang membuat tengkukku meremang. Itulah aroma pertempuran yang paling jujur; aroma yang selama berbulan-bulan kurindukan di tengah malam-malam sembunyi dari kejaran bayang-bayang para algojo modal.

Aku berdiri mematung di balik tiang beton yang berlumut, menyembunyikan wajah di balik kerah jaket kanvas lusuh yang kerah-kerahnya telah robek kecil. Mataku terpaku pada tangan-tangan legam para loper koran yang bergerak sigap. Pak Salim, seorang lelaki tua bertubuh bungkuk yang telah menjajakan lembaran berita di perempatan kota ini selama empat puluh tahun, menyentakkan bilah pisau lipatnya untuk memutuskan tali rami pengikat bundel perdana. Tali rami itu putus dengan bunyi *krak* yang kering, dan ketika bundel terburai, halaman depan Harian Warta Cakrawala terhampar menantang kegelapan.

Di sana, di bawah lampu bohlam kuning berpendar lima watt yang berayun ditiup angin subuh, terpampang tajuk berukuran 72 poin dengan jenis huruf tebal bergaris keras: **SKANDAL ZAMRUD RAYA: MERACUNI PUSPA DEMI MENUMPUK TRILIUNAN.** Tepat di bawah tajuk itu, sebuah foto beresolusi tajam menampilkan surat bertanda tangan basah Ghafar Syarif, berdampingan dengan gambar mikroskopik akar Melati Keraton yang hangus oleh cairan herbisida rahasia.

Pak Salim menarik selembar koran dari tumpukan teratas. Jari-jarinya yang pecah-pecah meraba kertas buram yang masih sedikit lembap. Ia mendekatkannya ke kacamata tebalnya, membaca tiga baris pertama kalimat pembuka yang kutulis dengan air mata kemarahan tiga malam lalu. Mulutnya yang ompong perlahan menganga. Udara di sekelilingnya mendadak sunyi, seolah deru knalpot motor subuh mendadak tertelan bumi.

"Demi Gusti Allah yang Maha Pengasih..." bisik Pak Salim tercekat, suaranya parau dan bergetar hebat. Ia menoleh ke arah belasan rekannya sesama loper yang sedang jongkok mengikat koran di boncengan sepeda ontel dan motor bebek. "Hei! Kumpul semua ke mari! Lihat apa yang dimuat di halaman muka hari ini! Bangsat-bangsat gedung tinggi itu... mereka yang menyuntik racun ke Griya Puspa Arum! Bukan kena hama daun, tapi sengaja dibunuh!"

Seruan itu seketika menyulut ledakan. Para pengasong, loper langganan kantor pemerintah, hingga supir angkot yang sedang meminum kopi tubruk di warung terdekat berhamburan merapat. Mereka berebut merengkuh lembaran koran itu, mendekatkannya ke bawah lampu, mengeja nama Ghafar Syarif dan jajaran direksi Syarif Megah Persada yang selama ini wajahnya hanya menghiasi rubrik filantropi dan pesta konglomerat. Ada desah murka yang berdesir dari dada ke dada; ada gelenyar amarah purba yang bangkit dari rakyat jelata yang selama ini dipaksa percaya bahwa kemunduran puspa pusaka mereka hanyalah takdir alam yang malang.

Kulihat seorang loper muda menyapu sudut matanya yang basah. Ibunya adalah salah satu buruh tani bunga di lereng bukit yang kehilangan mata pencaharian semenjak debit mata air Griya Puspa Arum surut drastis akibat pengeboran sumur artesis ilegal konsorsium. "Selama ini kami dikambinghitamkan, Mas," bisiknya serak ke arahku tanpa menyadari bahwa akulah penulis laporan itu. "Kata orang-orang berdasi, kami malas merawat tanah. Ternyata mereka yang menyiramkan racun ke sumur-sumur nenek moyang kami!"

"Kertas ini basah oleh tinta, Bung," seorang pemuda loper berseru ke arah temannya seraya mengangkat lembaran koran tinggi-tinggi ke udara, matanya menyala dalam remang pagi. "Tapi bagi orang-orang serakah itu, ini adalah air mendidih yang menenggelamkan istana mereka! Sebarkan ini ke seluruh penjuru! Jangan ada sejengkal gang pun di kota ini yang tidak membaca busuknya Syarif!"

Melihat tangan-tangan legam itu mendekap hasil kerjaku dengan segenap harkat kemanusiaan mereka, dadaku bergemuruh bagai dihantam ombak karang. Berbulan-bulan aku hidup dalam teror: rumah kontrakanku dibobol orang tak dikenal, ban motorku disayat belati, telepon gelap yang mengancam akan menghabisi adik perempuanku di perantauan, dan tawaran koper berisi lembaran seratus ribu rupiah senilai dua miliar yang ditaruh seorang utusan berjas rapi di meja kafe. Semua itu kini lunas terbakar di hadapan aroma tinta basah pagi ini. Kebenaran, betapapun ringkihnya di atas kertas buram empat puluh gram, telah lahir dan tak lagi bisa ditarik kembali ke dalam rahim ketakutan.

---------------------------------------------------

--- BABAK II: GETAR SAKU DAN BADAI JAGAT DIGITAL ---

Kios Kopi Simpang Empat & Layar Ponsel Pintar — Pukul 06.00 WIB | Pagi Hari

✍️

Pukul enam pagi lewat seperempat, kota mulai menggeliat, namun denyutnya bukan lagi denyut rutinitas yang menjemukan. Ponsel pintarku di saku jaket mulai bergetar. Awalnya satu getaran pendek, lalu getaran kedua, ketiga, hingga berubah menjadi dengung ritmis tanpa henti laksana sarang lebah yang tersengat api. Ketika kuraih gawai itu dari saku, layarnya menyala terang benderang dengan ratusan pemberitahuan yang meluncur deras bagai air bah tanggul jebol.

Edisi digital investigasi Warta Cakrawala yang diunggah tepat pukul lima pagi telah meledakkan ruang percakapan nasional. Di jagat media sosial, tagar **#SkandalZamrudRaya**, **#SelamatkanGriyaPuspaArum**, dan **#TangkapGhafarSyarif** menduduki tiga tangga teratas *trending topic* hanya dalam waktu sembilan puluh menit. Grafik linimasa menampilkan kurva lonjakan yang tegak lurus: lebih dari setengah juta cuitan, seratus ribu unggahan ulang, dan puluhan utas analisis dari para pakar hukum, akademisi botani, serta tokoh pergerakan sipil.

Kutatap layar dengan mata yang perih menahan kantuk berhari-hari. Tangkapan layar dokumen manifes herbisida dan rekaman suara internal bocoran rapat konsorsium yang kami sertakan dalam pelantar digital telah diunduh puluhan ribu kali. Netizen—yang kerap dicemooh oleh para elite kekuasaan sebagai barisan penonton pasif—kini menjelma menjadi laskar verifikator massal. Mereka menelusuri nomor izin usaha cangkang perusahaan Syarif Megah Persada, mengunggah foto-foto satelit perubahan kontur air tanah di sekitar Griya Puspa Arum, bahkan memetakan aliran gratifikasi berupa vila-vila peristirahatan para pejabat pengawas lingkungan.

Kutemukan diriku tersandar pada dinding kayu warung kopi seraya menarik napas panjang. Sebuah bait sastra kuno yang pernah diajarkan almarhum kakekku di beranda kampung halaman mendadak berkelebat di benakku dengan kejelasan yang menakjubkan: *"Hai begitulah kata para pujangga: kesombongan para penindas laksana embun di atas daun talas; tampak berkilau menipu mata, namun menguap tak bersisa saat surya kebenaran memancar tegak."* Ya, para pujangga masa lampau tidak pernah berdusta. Selama puluhan tahun, imperium modal Syarif Megah Persada tampak begitu perkasa, tak tersentuh oleh hukum, dibentengi oleh para pengacara termahal dan lobi-lobi meja makan malam para politisi. Namun pada pagi ini, cukup dengan rangkaian fakta yang terangkai cermat dan didukung oleh nurani kolektif yang terluka, hegemoni itu mulai berderak retak.

Sebuah panggilan masuk memutus lamunanku. Nama Redaktur Senior, Mas Bram, berkedip di layar. Segera kutempelkan gagang telepon ke telinga.

"Rafan! Kau ada di mana sekarang?" suara Mas Bram terdengar serak namun meletupkan kegembiraan yang luar biasa di seberang sana. Di latar belakang panggilannya, kudengar suara hiruk-pikuk ruang redaksi yang seperti pasar malam; telepon berdering bersahut-sahutan, derap langkah terburu-buru, dan suara televisi berita nasional yang menyiarkan laporan langsung.

Lihat selengkapnya