BAGIAN I: UAP KUNYIT DAN DERIT LANGKAH DI PINTU BERANDA
Latar: Pawon dan Beranda Depan Griya Puspa Arum, Pukul 16.45 WIB
✍️
Aroma kunyit tua yang ditumbuk bersama santan kental dan daun jeruk purut selalu memiliki cara magis untuk menidurkan kecemasan. Dari sudut pawon belakang Griya Puspa Arum, kepulan uap hangat itu merayap perlahan melewati sekat-sekat papan jati, meresap ke dalam anyaman tirai bambu, lalu memeluk seisi rumah dengan ketenangan yang telah berminggu-minggu raib. Sore ini, udara lereng bukit tidak lagi terasa membekukan tulang. Ada degup penantian yang mendidih di rongga dada kami semua, jauh lebih bergelora ketimbang minyak kelapa yang sedang mematangkan potongan ayam panggang berbalut rempah kemiri di atas wajan tembaga.
Aku merapikan ujung tampah bambu beralaskan daun pisang kluthuk yang telah diolesi minyak kelapa murni hingga tampak berkilau keemasan. Di tengah tampah itu, kerucut nasi kuning menjulang gagah bagai bukit kemakmuran, diapit oleh tujuh macam uborampe: urap dedaunan segar dari kebun puspa kami sendiri—kenikir, daun beluntas, pucuk singkong, dan kecambah kedelai—serta serundeng kelapa manis, telur dadar rawis yang diiris halus bagai benang sutra, sambal goreng ati ampela bertabur petai muda, dan cabai merah yang diukir mekar menyerupai bunga krisan. Setiap helai aroma yang menguar dari sajian ini adalah doa yang dirajut tanpa kata, sebuah perayaan rasa syukur nusantara atas lepasnya kebun kami dari cengkeraman jurang pailit.
Di beranda depan, suara derit sapu lidi yang menyapu lantai kayu ulin tua terdengar berirama teratur. Aku menoleh keluar jendela pawon dan mendapati Fardan Fauzan sedang berdiri dengan kemeja katun abu-abu yang lengannya tergulung hingga ke siku. Gerakan tangannya menyapu serakan daun kering terasa begitu cermat, nyaris seperti orang yang sedang beribadah. Namun, bahunya yang biasanya tegap kini tampak memikul beban raksasa yang tak kasat mata. Sejak kabar kepulangan Nenek Qonita dikonfirmasi dokter pagi tadi, Fardan lebih banyak membisu. Lelaki itu seakan sedang menghitung setiap jengkal kesalahannya di masa lalu: keangkuhannya yang tergiur iming-iming investasi bodong, kelalaiannya menandatangani surat kuasa yang nyaris menggadaikan sertifikat tanah warisan ini, dan keputusasaannya yang sempat membuat ia ingin lari dari tanggung jawab.
"Ghalia, letakkan sambal bajaknya di mangkuk porselen biru saja," suara lembut Nashira mengejutkanku dari belakang. Aku berbalik, menatap gadis muda yang selama ini kukenal dengan sudut bibir yang selalu ditekuk sinis. Namun sore ini, ada yang ganjil dari wajah Nashira Salma. Sepasang matanya yang biasanya menyala penuh perlawanan kini tampak berkabut teduh. Jemarinya yang lentik dengan hati-hati memindahkan irisan mentimun dan tomat ceri ke tepi tumpeng. Nashira bahkan mengenakan kebaya katun putih berenda sederhana—pakaian yang terakhir kali ia kenakan dua tahun lalu saat kakek masih ada.
"Semua sudah hampir siap, Nashira," ujarku seraya menyeka butir keringat di pelipis dengan ujung celemek. "Bagaimana kabar dari Rafan? Apakah mobil jemputan dari klinik sudah melewati jembatan kali geger?"
Nashira tidak langsung menjawab. Jemarinya terhenti sesaat di atas irisan tomat. Rona merah samar merambat di kedua pipinya yang pualam, sebelum ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah halaman. "Rafan baru saja mengirim pesan. Mobil sedan tua paman Harun sudah melintasi gapura desa. Sepuluh menit lagi mereka tiba di pelataran beranda. Dia bilang... Nenek duduk di kursi depan dan tidak berhenti tersenyum melihat jajaran pohon cempaka kita yang mulai berbunga."
Kabar itu seketika meruntuhkan sisa-sisa sesak di dadaku. Kebun Puspa Arum telah selamat. Bibit-bibit anggrek langka yang sempat terancam disita kurator bank kini telah kembali aman di bawah naungan rumah kaca kami. Bunga sedap malam yang mekar di batas pagar seolah ikut mengembuskan wewangian kemenangan yang paling hening. Namun, keselamatan fisik kebun ini belumlah tuntas tanpa penyembuhan luka-luka yang menganga di hati pemiliknya.
Deru mesin mobil berbunyi berat terdengar membelah kesunyian jalan setapak berbatu kali. Suara gemerisik kerikil yang tergilas roda ban seketika membuat seisi rumah menahan napas. Fardan seketika menghentikan gerakan sapunya di beranda. Ia berdiri mematung, dadanya naik-turun dengan cepat. Sapu lidi di genggamannya perlahan jatuh terkulai ke lantai papan jati.
Pintu mobil sedan abu-abu tua itu terbuka perlahan di samping undakan tangga batu. Dan di sanalah beliau: Nenek Qonita Shobiyah. Sosok wanita berusia tujuh puluh delapan tahun itu turun dengan perlahan, dibimbing oleh tangan kokoh Rafan Nashif. Nenek mengenakan kerudung paris berwarna hijau lumut yang serasi dengan jarik batik motif truntum lawas. Tongkat kayu jati berukir sulur kembang sepatu yang menjadi penopang langkahnya berketuk anggun di atas tanah basah. Wajahnya yang berkerut halus tampak bercahaya, bersih tanpa bayang-bayang penyakit yang sempat membuatnya terbaring lemah di ruang rawat selama hampir empat puluh hari.
"Nenek...!" jerit Nashira tercekat di tenggorokan. Gadis itu berlari menuruni tangga beranda tanpa memedulikan ujung selendangnya yang menyapu anak tangga.
Aku dan Fardan menyusul di belakangnya. Langkah Fardan tertatih, seolah setiap jengkal jarak menuju neneknya dipenuhi pecahan kaca penyesalan. Ketika kedua tangan Nenek Qonita yang hangat dan berurat halus terentang, Nashira menghambur ke pelukannya dengan isakan yang tak lagi mampu ia bendung. Aroma bedak dingin melati dan minyak kayu putih yang selalu melekat pada tubuh sang nenek menguar memenuhi udara senja, membangkitkan segala kenangan masa kanak-kanak kami tentang sebuah rumah yang tak pernah kekurangan cinta.
"Bocah ayu... cucuku yang cerewet," bisik Nenek Qonita seraya membelai rambut Nashira yang terurai. Suara sang nenek serak namun begitu menenangkan, bagai gemericik pancuran air pegunungan di pagi hari. "Lihat Nenek sekarang. Gusti Allah masih memberi napas untuk menghirup kembali wangi daun-daun puspa kita. Mengapa kamu menangis seperti anak burung kehujanan?"
Ketika tatapan Nenek Qonita beralih kepadaku, senyumnya semakin mengembang. Beliau mengulurkan tangan kanannya, meraih jemariku dan menepuknya dengan kelembutan yang membuat air mataku turut menetes ke punggung tangannya. "Ghalia... terima kasih telah menjaga rumah ini saat Nenek terpejam. Tanpa ketabahanmu menyiram akar-akar yang kering, puspa ini pasti sudah lama menjadi abu."
"Ini kewajiban kami semua, Nenek," jawabku dengan suara bergetar seraya mencium punggung tangan beliau yang harum melati. "Alhamdulillah, Nenek sudah kembali ke beranda ini dengan sehat walafiat. Seluruh kuncup melati dan kenanga di kebun depan mekar menyambut kepulangan Nenek."
Namun, tatapan Nenek Qonita kemudian bergeser ke sosok lelaki yang berdiri kaku tiga langkah di belakangku. Fardan tertunduk begitu dalam, tak berani mengangkat wajahnya barang sekejap pun. Udara di beranda mendadak sunyi, hanya diiringi gemersik dedaunan mangga golek yang diterbangkan angin petang.
----------------------------------------------------
BAGIAN II: DAUN KERING YANG MENYERAH PADA RANTING ANGKUH
Latar: Undakan Tangga Batu dan Sudut Beranda Depan, Pukul 17.15 WIB
✍️
Ada rasa perih yang aneh ketika engkau menyadari bahwa benteng pertahanan yang kaubangun bertahun-tahun lamanya sebenarnya hanyalah tumpukan daun kering yang rapuh. Selama ini, aku selalu merasa perlu bersikap galak. Aku mencibir setiap orang yang mendekat, menyiramkan sarkasme pada siapa saja yang mencoba bersikap baik, dan memamerkan ketus sebagai jubah pelindung agar tidak ada orang yang tahu betapa takutnya aku kehilangan Griya Puspa Arum. Dan orang yang paling sering menjadi sasaran anak panah lidahku tak lain adalah Rafan Nashif.
Sekarang, lelaki itu sedang sibuk di sudut tiang beranda. Rafan menaruh kotak obat dan tas pakaian Nenek di atas dipan bambu, lalu bergerak lincah menyalakan lentera-lentera badai kuningan yang tergantung di pilar kayu jati. Kaus polo marun yang ia kenakan tampak ternoda sedikit lumpur kebun di bagian siku, rambutnya yang ikal acak-acakan berantakan ditiup angin, namun wajahnya memancarkan binar kelegaan yang murni. Ia tersenyum pada semua orang, membagikan cangkir-cangkir blirik seng berisi wedang jahe sereh panas yang uapnya mengepul manis.
Dua minggu yang lalu, saat sengketa kebun berada di titik paling kritis, aku pernah membentak Rafan di depan gerbang. Aku menyebutnya pemuda kampung yang sok pahlawan, mencemooh usahanya mondar-mandir ke kantor notaris dan dinas pertanahan sebagai tindakan sia-sia orang yang mencari muka di depan keluargaku. Aku bahkan menyumpahinya agar angkat kaki dari Puspa Arum.
Namun apa yang lelaki ini lakukan? Ia tidak membalas makianku. Ia hanya menatapku dengan mata cokelatnya yang teduh, menghela napas panjang, lalu berkata pelan: 'Kamu boleh membenciku sepuasmu, Nashira. Tapi tanah ini tempat almarhum kakekmu menanam keringat, dan aku tidak akan membiarkan sertifikatnya melayang ke tangan lintah darat hanya karena kita saling melempar salah.' Malam itu juga, Rafan mengendarai motor tuanya menembus badai hujan lebat ke kota kabupaten untuk menyerahkan berkas pembatalan sita eksekusi.
Kakiku terasa berat saat kulangkahkan mendekati sudut tangga batu tempat Rafan sedang mengikat tali lentera. Angin senja bertiup cukup kencang, menggugurkan selusin daun mangga kering dari dahan di atas kepala kami. Daun-daun cokelat yang gersang itu melayang berputar-putar di udara, lalu mendarat dengan gemersik halus tepat di antara ujung sandal selopku dan sepatu bot Rafan.
"Lenteranya sudah menyala, Nona Putri," ujar Rafan tanpa menoleh, mengenali langkah kakiku dari suara gesekan kain jarik. Nada suaranya santai seperti biasa, diiringi siulan kecil yang selalu membuatku gemas. "Sebentar lagi ayam panggangnya dingin kalau kamu cuma berdiri di situ mengawasi kerjaku. Tenang saja, aku tidak berniat mencuri cangkir blirik pusaka ini."
Tenggorokanku tercekat. Kalimat ejekan yang biasanya begitu mudah meluncur dari bibirku kini lenyap tak berbekas. Yang tersisa di dadaku hanyalah rasa sesak dan malu yang tak tertanggungkan. Aku meremas ujung selendang batiku dengan jemari yang dingin.
"Rafan..." panggilku lirih.
Mendengar nada bicaraku yang tidak lazim, Rafan menghentikan gerakannya menyimpul tali rami. Ia membalikkan badan, menatapku dengan kening berkerut heran. "Hei, ada apa? Kenapa matamu merah lagi? Nenek sudah pulang dan sehat walafiat, kebun kita sudah aman. Jangan bilang sambal bajak buatanmu tadi terlalu pedas sampai bikin kamu menangis begini?"
"Aku ingin minta maaf," ucapku cepat, sebelum keberanian yang kukumpulkan susah payah ini terbang terbawa angin. Suaraku bergetar hebat. "Aku... aku benar-benar minta maaf, Rafan."
Rafan terdiam. Matanya membulat sesaat, tampak terkejut bukan kepalang. Keheningan merayap di antara kami, hanya dipecahkan oleh suara desau angin yang menggesek rumpun bambu kuning di pagar samping.
"Aku minta maaf atas semua kata-kata kasarku selama ini," lanjutku dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk mata. "Atas sikap judesku, atas penghinaanku di depan gerbang waktu itu, atas tuduhan-tuduhanku yang keji bahwa kamu hanya mencari muka. Aku... aku begitu angkuh dan bodoh. Aku mengira dengan bersikap galak aku bisa melindungi rumah ini, padahal kamulah yang berlumur lumpur dan kehujanan memperjuangkannya ke kantor pertanahan sementara aku hanya bisa menyumpah serapah. Maafkan aku, Rafan. Kalau kamu mau membenciku atau menolak memaafkanku, aku sangat mengerti."
Aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya, bersiap menerima sindiran tajam atau setidaknya tawa sinis yang pantas kuterima sebagai balasan atas kejahatan lidahku selama bertahun-tahun. Daun kering di bawah kakiku terinjak saat Rafan melangkah selangkah lebih dekat.