Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Janji di Bawah Gerbang Melati

=== Babak I: Embun di Tanah yang Ditebus ===

Sudut Pandang: Rafan Nashif & Warga Kota. Waktu & Tempat: Pukul 06.15 WIB, Udara Fajar Berkabut Tipis | Pelataran Gerbang Utama Taman Puspa Rakyat

✍️

Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung malas di pucuk-pucuk dahan angsana ketika fajar merekah di ufuk timur kota. Ada keheningan yang ganjil namun luar biasa menentramkan jiwa—sebuah keheningan yang mustahil dibayangkan enam bulan silam di tanah terkutuk ini. Rafan Nashif merapatkan kerah beskap sutra birunya yang dingin, berdiri kaku di atas undakan batu andesit yang membatasi bibir trotoar kota dengan hamparan hijau seluas empat hektare. Di bawah sol selop beludru hitamnya, memori purba tanah ini masih terasa berdenyut linu. Di titik persis tempat ia berpijak saat ini, enam bulan lalu deru puluhan ekskavator raksasa meraung memecah fajar, moncong-moncong besi baja mencabik pondasi rumah petak, dan sepatu lars aparat berdentum di atas tanah liat basah diiringi jeritan histeris kaum ibu yang mempertahankan hak hidup anak-cucunya.

Namun pagi ini, tidak ada lagi jelaga bensin yang membakar aspal atau sengatan mesiu gas air mata yang memerihkan selaput mata dan menggores rongga dada. Udara yang mengalir ke paru-paru Rafan begitu murni dan dingin, sarat dengan bau humus subur yang bersenyawa dengan semerbak ribuan kuncup melati putih yang mekar serentak menyambut sentuhan pertama hangatnya mentari. Di hadapannya, lahan sengketa berdarah yang sempat direncanakan para konglomerat properti menjadi kompleks menara apartemen mewah eksklusif—lengkap dengan pos penjagaan bersenjata dan tembok beton pemisah kelas sosial setinggi empat meter—kini telah bermutasi menjadi sebuah rahim hijau yang bernapas bagi seluruh peradaban kota: Taman Puspa Rakyat.

"Pak Pengacara! Lihat, kolam teratai di sebelah timur sudah dipenuhi ikan nila dan koi merah! Air mancur bambunya juga mengalir deras sekali tanpa henti!" seru Pak Warsito, sesepuh paguyuban pedagang kaki lima dan gerobak keliling, seraya melambaikan tangannya yang kasar berurat tebal. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik lawasan yang disetrika licin, ditemani puluhan warga kampung pinggiran yang sejak subuh buta telah berduyun-duyun datang tanpa undangan berkartu emas. Di tangan mereka, bukan lagi spanduk tuntutan bernada protes atau bambu penolak gusuran, melainkan keranjang-keranjang anyaman bambu berisi kelopak mawar merah, irisan daun pandan wangi, serta wadah-wadah kendi tanah liat pembawa air doa sumur tua.

"Pak Warsito datang pagi sekali? Acaranya baru mulai jam delapan nanti," sahut Rafan seraya melangkah mendekat, tersenyum hangat menyalami jemari kasar yang dulu pernah menggenggam tangannya erat di ruang sidang pengadilan negeri yang pengap.

"Bagaimana kami bisa tidur nyenyak, Nak Rafan?" sahut Mak Lasmi, penjual pecel yang matanya sembab oleh genangan air mata bahagia. "Sepanjang malam warga kampung kami bergantian meronce melati ini untuk dipasang di gerbang. Mas Fardan dan Mbak Ghalia telah membebaskan tanah kami dari ancaman penjara. Hari ini kami tidak datang sebagai penonton dari luar pagar, Nak. Mas Fardan sendiri yang bilang minggu lalu, 'Mak, pernikahan saya dan Ghalia adalah syukuran milik warga'. Mana mungkin kami tinggal diam di rumah?"

Rafan merasakan sudut matanya bergetar hebat. Enam bulan lalu, kemenangan di meja Mahkamah Agung terasa dingin dan melelahkan, terperangkap dalam tumpukan bundel kertas putusan berkop garuda yang dipenuhi diktum rumit tentang hak guna bangunan dan asas kemanfaatan umum. Namun melihat bagaimana teks hukum yang kaku itu mewujud menjadi tawa renyah anak-anak pemulung yang kini berkejaran di atas permadani rumput gajah mini tanpa takut diusir satpam berseragam, Rafan sadar bahwa keadilan baru benar-benar bernyawa ketika ia telah mampu meneduhkan mereka yang terlunta-lunta.

Di kejauhan, di bawah lengkung gerbang utama yang dirajut dari batang-batang bambu petung pilihan dan sulur melati yang menjuntai lebat bagai tirai surga, para pemusik karawitan mulai menata gamelan slendro mereka. Sentuhan pertama bilah gender kuningan berdenting pelan, menyusup di antara desau angin pagi, berpadu harmonis dengan gemericik air kali buatan yang meliuk jernih membelah taman. Seluruh kota seolah sedang menahan napasnya yang penuh duka di masa lalu, bersiap menyambut sebuah perhelatan sakral yang tidak dimiliki oleh segelintir elite berpunya, melainkan milik setiap jiwa yang pernah menangis dan berpelukan di tanah ini.

----------------------------------------------------

=== Babak II: Arsitektur Jiwa dan Lanskap Harapan ===

Waktu & Tempat: Pukul 07.00 WIB, Cahaya Emas Matahari Pagi | Selasar Paviliun Kayu Jati & Kolam Refleksi

✍️

Fardan Fauzan berdiri hening di bawah naungan atap tumpang paviliun kayu jati tanpa dinding, menatap ke arah kolam refleksi yang memantulkan langit biru tanpa setitik pun awan kelabu. Tangannya yang biasa menggenggam pensil grafit 4B, mistar ukur segitiga, dan gulungan kertas kalkir kini terasa dingin dan sedikit gemetar. Jemarinya meraba tepian kain batik Sekar Jagad yang melilit pinggangnya dengan kencang. Motif pusaka itu dipilihnya bukan sekadar pelengkap busana adat; Sekar Jagad adalah metafora tentang keragaman bunga di jagat raya yang menyatu dalam keindahan kosmis yang selaras—persis seperti filosofi tata ruang yang ia perjuangkan bersama Ghalia di atas tanah ini.

Ingatan Fardan melayang ke malam-malam melelahkan enam bulan silam. Di studio arsitekturnya yang sempit dan berdebu, ia dan Ghalia berdebat hingga dini hari di hadapan maket topografi skala satu banding lima ratus. Para konsorsium pengembang properti sempat menertawakannya, mencibir mereka sebagai sepasang kekasih idealis yang dungu karena menolak tawaran kompensasi desain bernilai miliaran rupiah hanya demi mempertahankan sebidang tanah terbuka bagi publik. Mereka bilang kota modern membutuhkan menara kaca dan pusat perbelanjaan bertingkat, bukan hamparan rumput dan kolam kodok. Namun bagi Fardan, seorang arsitek yang hanya membangun dinding pemisah dan monumen keangkuhan bagi kaum berduit telah menggadaikan nuraninya.

"Ruang terbuka adalah hak asasi paling mendasar bagi setiap warga kota untuk memandang langit tanpa terhalang bayang-bayang tembok keangkuhan," bisik Fardan pelan pada desau angin. Pandangannya menyapu selasar batu kali yang melengkung organis mengikuti kontur alami tanah, menghindari penebangan sebatang pun pohon trembesi tua yang telah berusia lebih dari satu abad. Di setiap lekukan jalan setapak itu, Ghalia telah menanam rumpun kenanga, cempaka kuning, dan sirih gading penapis racun udara, menciptakan koridor mikroklimat yang mampu menurunkan suhu udara sekitar hingga empat derajat Celsius.

Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu kanannya, memecah lamunannya. Ayahandanya, H. Fauzan Mansyur, berdiri di sampingnya dengan senyum teduh dan mata yang memancarkan kebanggaan tiada tara. Di tangan sang ayah, sebuah keris warisan leluhur berwrangka gayaman terbungkus kain beludru merah siap disematkan di punggung beskap Fardan.

"Anakku," suara sang ayah terdengar berwibawa namun bergetar haru. "Banyak orang mampu membangun gedung pencakar langit yang menjulang ke angkasa, tetapi sangat sedikit manusia yang diberi karunia oleh Tuhan untuk membangun surga di atas bumi bagi sesamanya. Keris ini menyimbolkan keteguhan iman dan kepemimpinan. Bawalah Ghalia memasuki gerbang ini bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai pelayan bagi kebahagiaannya dan pelindung bagi kaum yang lemah."

Fardan membungkuk khidmat, mencium tangan ayahnya seraya membiarkan sang ayah menyematkan keris pusaka di pinggangnya. Jantungnya berdegup semakin kencang saat melihat iring-iringan keluarga besarnya mulai berbaur akrab dengan kerumunan warga kampung yang duduk bersila di rumput dengan senyum merekah. Di sinilah, di tanah tumpah darahnya sendiri, ia membuktikan bahwa cinta pada seorang perempuan dapat melahirkan daya cinta yang jauh lebih dahsyat: cinta pada martabat kemanusiaan.

Hari ini, gerbang lengkung melati yang berdiri megah di ujung poros taman bukan hanya menjadi saksi janji sucinya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama Ghalia Tarifa. Gerbang itu adalah batas ambang simbolis, sebuah ruang peralihan suci di mana masa lalu yang penuh air mata dan luka sengketa ditinggalkan di belakang, dan masa depan yang berakar pada kasih sayang serta kelestarian alam dimulai dengan bismillah yang paling khusyuk.

----------------------------------------------------

=== Babak III: Ronce Melati dan Doa Ibu ===

Lihat selengkapnya