Bunga di Taman jiwa

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Senandung Pujangga Abadi

BAGIAN I: KANOPI SENJA DAN SEMERBAK YANG MENOLAK PUNAH

Latar: Bale Sastra di Tengah Taman Puspa yang Rindang, Puluhan Tahun Kemudian

✍️

Matahari petang menggelincir perlahan di balik punggung perbukitan barat, menumpahkan lelehan tembaga keemasan yang menyusup di sela-sela rindang kanopi pohon trembesi, flamboyan tua, dan mahoni purba yang telah tumbuh menjulang puluhan meter. Di pelataran tengah Taman Puspa, dedaunan bergesek lirih diterpa semilir angin ngembara—sebuah simfoni alam yang teramat akrab di telinga, serupa dengung doa yang dipanjatkan bumi tanpa henti kepada Sang Pencipta. Dari teras Bale Sastra yang berlantai papan kayu jati tua yang telah dipoles oleh gesekan ratusan ribu pasang telapak kaki selama hampir setengah abad, wangi melati gambir, cempaka putih, dan sedap malam menguar pekat, mengapung bersama aroma humus tanah gembur yang baru saja dibasahi oleh gemercik air gembor anak-cucu.

Aku, Fardan Fauzan, menyandarkan punggung yang kian membungkuk pada sandaran kursi goyang berbahan jalinan rotan alam. Di pangkuanku tergeletak sebuah buku sketsa tebal bersampul kulit kerbau hitam yang tepiannya telah menggelap, melepuh halus, dan aus dimakan puluhan musim kemarau serta penghujan. Jemariku yang kini berbintik-bintik cokelat penuaan, dengan urat-urat biru yang timbul tegas bagai aliran sungai purba di lembar peta topografi pegunungan, meraba tekstur kasar kertas linen buatan tangan di hadapanku. Pensil mekanik grafit 2B yang dahulu merupakan perpanjangan tak terpisahkan dari saraf tanganku kini tenang beristirahat di lekuk lipatan jurnal, mendampingi sebuah pena celup antik bermata emas bertinta sepia.

Kutatap sejauh mata memandang ke sekeliling hamparan taman seluas empat hektare ini. Sungguh sukar dipercaya oleh siapa pun yang baru berkunjung hari ini bahwa tempat ini dahulunya hanyalah bentangan tanah tandus penuh reruntuhan bata merah pecah, puing semen sisa proyek mangkrak, tumpukan besi berkarat, dan rawa ilalang berdebu yang dihindari warga kota saat senja tiba. Kala itu, orang-orang mencibir gagasanku dan Ghalia. Para pengembang properti kawakan menertawakan kami di berbagai seminar tata ruang; mereka menganggap sepetak tanah di jantung kota yang sedang meledak nilai investasinya ini sebagai lahan emas yang disia-siakan secara dungu jika hanya dijadikan kebun bunga dan balai literasi terbuka untuk khalayak ramai.

‘Baja dan beton, Bung Fardan!’ demikian suara lantang salah seorang rekan almamaterku terdengar kembali dalam lorong ingatan yang jauh, seakan baru diucapkan kemarin siang. ‘Dunia menuntut gedung-gedung yang menembus awan! Lantai-lantai perkantoran komersial yang menghasilkan dividen setiap kuartal! Mengapa kau menenggelamkan bakat cemerlangmu hanya untuk merancang jalan setapak setebal tanah dan pondasi kayu yang bersahaja?’ Aku masih mengingat senyumanku kala itu—sebuah senyum tanpa pembelaan lisan, sebab ada hal-hal batiniah yang terlalu suci untuk diperdebatkan di ruang rapat berpendingin udara yang dipenuhi kepulan asap cerutu dan kalkulasi angka serakah.

Kini, empat dekade telah melintasi cakrawala peradaban. Menara-menara kaca megah yang dibangun kawan-kawanku di distrik finansial telah berkali-kali berganti papan kepemilikan; dinding-dinding tirai kacanya mulai kusam dan retak oleh tekanan pemuaian termal yang ekstrem, lapisan panel alumuniumnya teroksidasi oleh hujan asam perkotaan, dan lobi-lobinya yang dingin dihuni oleh langkah-langkah orang berwajah cemas yang diburu tenggat waktu tanpa sempat menyapa sesama. Namun di sini, di Taman Puspa ini, setiap tahun tanah ini justru semakin subur dan menyejukkan. Lumut beludru hijau tumbuh merayapi batu kali andesit, sulur bugenvil merah jambu memeluk pergola kayu tanpa merusak tiang penyangganya, dan setiap kuncup mawar yang mekar menghembuskan oksigen yang menyejukkan dada ribuan warga kota yang lelah sehabis bekerja.

Bale Sastra ini tetap tegak tanpa sedikit pun kemiringan struktural. Sambungan purus dan pasak kayu ulin yang kurancang bersama tukang kayu sepuh dari pedalaman Jepara terbukti lebih lentur dan liat menghadapi getaran gempa bumi ketimbang rangka kaku baja karbon tinggi. Kayu itu hidup; ia bernapas bersama fluktuasi kelembapan udara tropis. Dan yang terpenting, ia menyerap doa, air mata keharuan, serta tawa ceria dari setiap jiwa yang pernah bernaung di bawah atap sirapnya.

---------------------------------------------------

BAGIAN II: JURNAL ARSITEKTUR: ANTARA DINGINNYA BETON DAN DETAK TANAH HIDUP

✍️

Kubuka lembaran-lembaran awal jurnal arsitekturku secara perlahan. Bunyi gesekan kertas tuanya menyerupai gemersik dedaunan jati kering di musim gugur. Pada halaman-halaman awal yang kutulis dengan tulisan tangan rapi bertenaga di usia tiga puluhan, terpampang coretan diagram tegangan, kalkulasi momen inersia, kurva defleksi elastis, dan spesifikasi campuran agregat batu pecah. Pada masa muda itu, kebanggaanku sebagai seorang arsitek berijazah luar negeri bertumpu pada presisi matematis dan kemampuanku menundukkan bentang alam. Aku merasa berkuasa tatkala berhasil mendirikan struktur kantilever beton bertulang sepanjang dua belas meter yang melayang di udara menentang gaya tarik gravitasi bumi.

Namun, manakala kubalik menuju halaman-halaman pertengahan jurnal—tepat ketika Ghalia jatuh sakit parah akibat kelelahan batin dan polusi udara kota yang mencekik paru-parunya bertahun-tahun lampau—goresan tintaku bermutasi secara drastis. Kalkulasi mekanika struktur mulai terdesak dan akhirnya digantikan oleh sketsa penampang perakaran tanaman akar wangi (Vetiver) yang mampu mencengkeram tebing curam agar tidak longsor secara alami. Di sampingnya muncul coretan sistem kolam retensi air hujan yang dirancang agar menjadi habitat capung jarum, berudu, dan katak hijau penyeimbang populasi nyamuk. Arsitekturku berhenti menjadi monumen pemujaan ego pribadi, dan bermetamorfosis menjadi laku pengabdian cinta.

‘Kau tahu, Fardan,’ suara bisikan lembut Ghalia di suatu malam gerimis empat puluh tahun lalu mendadak berdering jernih di rongga dadaku, meruntuhkan keheningan senja, ‘sebuah rumah atau bangunan megah tidak pernah benar-benar hidup hanya karena dindingnya kokoh berpualam dan lantainya marmer Italia yang mengilap. Ia baru memiliki denyut nadi ketika ada rasa cinta yang membuat penghuninya selalu rindu untuk pulang. Ruang yang dibangun tanpa cinta hanyalah sebuah kuburan megah berdinding bata kedap udara.’ Kalimat sederhana itu membongkar seluruh dogma arsitektur modern yang kupelajari bertahun-tahun di universitas terkemuka.

Sejak percakapan malam itu, setiap garis lurus maupun lengkung yang kutarik di atas kertas kalkir selalu kuawali dengan sebuah pertanyaan mendasar yang menuntut kejujuran batin: apakah garis ini akan mendekatkan manusia dengan pasangannya, dengan anak-cucunya, dengan tetangganya, dan dengan Sang Khalik? Ataukah garis ini hanya akan menciptakan sekat isolasi yang memenjarakan jiwa manusia dalam kesunyian individualistis yang angkuh? Dari sanalah lahir konsep Bale Sastra ini: sebuah paviliun komunal tanpa dinding pembatas, di mana hembusan angin dari empat penjuru mata angin leluasa menyapu rambut para pembaca, dan anak-anak dapat melompat dari lantai kayu jati langsung ke karpet rerumputan hijau tanpa rasa takut terbentur pintu kaca terkunci.

Taman Puspa ini bukan sekadar kumpulan flora eksotis yang ditata rapi secara estetis demi memanjakan lensa fotografer. Ia adalah sebuah ekologi cinta. Saluran drainase yang kubangun di bawah jalan setapak batu kali dirancang dengan kemiringan dua persen yang presisi, agar setiap tetes air hujan tidak terbuang sia-sia ke selokan kota yang kotor, melainkan diserap kembali ke dalam kantung air tanah (akuifer) untuk menghidupi sumur-sumur warga di perkampungan sebelah bawah. Pohon-pohon peneduh seperti angsana dan tanjung ditanam berdampingan dengan petak tanaman obat keluarga—jahe merah, temulawak, sambiloto—serta semak melati dan kamboja cendana yang menenangkan saraf manusia yang tertekan.

Segala unsur di sini saling merawat dan memberi nafkah hidup, sebagaimana layaknya sebuah perkawinan sejati yang menuntut kesabaran memupuk tanah, mencabuti rumput liar penghisap nutrisi, memangkas ranting-ranting yang kering, dan memberi ruang lapang bagi pasangan untuk bermekaran menurut takdir alaminya masing-masing. Di atas meja jati ini, aku memandang dua halaman kosong terakhir di ujung jurnal hitamku. Lembaran itu putih bersih, menunggu sebuah kesimpulan penutup. Arsitektur ragawi telah tuntas kubangun bersama puluhan generasi tukang batu dan perawat tanaman; kini yang tersisa hanyalah mendengarkan bagaimana ruang ini bersenandung merespons benih cinta yang telah kami semaikan selama separuh abad.

---------------------------------------------------

BAGIAN III: TATAPAN GHALIA: SULAMAN WAKTU DAN TUNAS KASIH YANG BERMEKARAN

Lihat selengkapnya