Bunga Hitam di Bumi Para Dewa

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #1

Kedatangan di Bumi Sunyi

Truk pikap tua itu mengerem mendadak, mendesis keras, membuat tubuh Dian terhempas ke depan dengan goncangan yang lumayan. Ia mencengkeram jok kulit yang sudah robek dan lengket, matanya melotot ke jalanan tanah berbatu yang terjal, berliku dalam hutan pinus lebat yang seolah tak berujung. Aroma damar dan lumut basah memenuhi udara, disusul bau knalpot yang pekat.

"Waduh, maaf, Nona," ujar Sopir Truk, suaranya serak karena rokok. Ia menoleh sedikit, menampakkan giginya yang kuning. "Jalanan emang parah banget di sini. Udah kayak mau ke ujung dunia."

"Santai aja, Bang," sahut Dian, mengusap pelipisnya. Ia mengeluarkan botol air mineral dari tas ranselnya yang berukuran jumbo, meneguknya cepat. "Gue udah biasa. Lebih parah juga pernah gue lewatin pas ekspedisi di Kalimantan. Tapi ini udah nyampe belum, sih? Berasa lama banget."

Sopir itu terkekeh, lalu menginjak gas lagi, membuat truk itu terbatuk dan kembali melaju pelan. "Udah mau masuk, Nona. Itu, keliatan kok rumah-rumahnya. Desa Gunung Sari."

"Oh, akhirnya," desah Dian, lega. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran jok, berusaha rileks. "Lo-gue kira bakal tidur di jalanan nih, Bang."

"Mana bisa, Nona," timpal Sopir. "Nanti gue dimarahin Bu Siti. Dia udah nungguin Nona dari tadi pagi katanya."

Dian mengernyit. "Bu Siti? Pemilik penginapan itu ya?"

"Iya. Penginapannya emang cuma satu-satunya di sini. Udah tua, tapi bersih kok. Nona Anggraini dapet kamar yang paling gede, katanya."

"Anggraini?" tanya Dian, sedikit kaget nama lengkapnya disebut. "Kok dia tau nama gue? Gue baru bilang Dian aja ke lo."

Sopir itu mengangkat bahu, fokus pada jalanan yang semakin sempit. "Ya, gimana ya. Orang di sini mah pada tau semua. Kan Nona udah kontak jauh-jauh hari. Urusan Nona di sini juga udah nyebar."

Dian terdiam. Urusan gue? Penelitian botani? Secepat itu? Ia merasa sedikit tidak nyaman. Tatapannya menyapu ke luar jendela. Rumah-rumah kayu mulai terlihat, diselingi ladang sayur yang hijau. Penduduk desa, beberapa orang tua dan anak-anak, menatap truk mereka dengan rasa ingin tahu yang terlalu intens.

"Bang, bisa berhenti sebentar di pasar itu enggak?" pinta Dian. "Gue mau turun bentar, mau liat-liat. Pengap juga dari tadi di mobil."

"Boleh, Nona." Sopir menghentikan truknya di depan sebuah lapangan kecil yang difungsikan sebagai pasar. Hanya ada beberapa lapak sederhana yang menjual sayuran dan rempah-rempah.

Lihat selengkapnya