Bunga Hitam di Bumi Para Dewa

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #2

Bisikan dari Kelopak

Matahari baru saja menyembul di balik puncak Semeru saat Dian sudah siap dengan peralatan ekspedisinya. Tas ransel kecil berisi alat ukur, buku catatan, kamera makro, dan botol air sudah bertengger di bahunya. Rasa gelisah semalam suntuk tak kunjung hilang, namun profesionalismenya sebagai botanis tidak mengizinkannya berdiam diri. Ia harus bekerja, mencari alasan ilmiah di balik keanehan yang ia rasakan. Pagi itu, udaranya dingin, menusuk hingga ke tulang, namun Dian merasa ada energi yang menariknya ke dalam hutan.

"Nona Dian, mau kemana pagi-pagi gini?" suara Bu Siti memecah keheningan, membuat Dian sedikit terlonjak. Pemilik penginapan itu sudah berdiri di ambang pintu dapur, memegang cangkir teh hangat.

Dian membalikkan badan, tersenyum tipis. "Oh, Bu Siti. Mau ke hutan. Kan saya mau penelitian, Bu. Hari ini jadwalnya eksplorasi area sekitar sungai."

Bu Siti mengernyit, menatap tas ransel Dian. "Tapi... sendirian?"

"Iya, Bu. Udah biasa. Di kota juga sering kok saya eksplorasi hutan sendirian," jawab Dian, berusaha terdengar mantap. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia merasakan ketidaknyamanan yang sama.

"Hati-hati ya, Nona," ujar Bu Siti, nada suaranya lebih seperti peringatan daripada sekadar perhatian. "Hutan di sini beda sama di kota. Banyak... penunggunya."

Dian terkekeh pelan. "Penunggu? Maksudnya monyet apa ular, Bu? Udah sering saya ketemu yang begitu."

Bu Siti tidak ikut tertawa. Matanya menatap tajam ke arah hutan yang mulai disinari matahari pagi, seolah bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata. "Bukan cuma binatang, Nona. Ada yang lain."

Dian merasakan hawa dingin yang familiar merayap di punggungnya. Nah kan, ini lagi. Ia mencoba menepisnya. "Santai aja, Bu. Saya cuma mau nyari tanaman, bukan nyari... yang aneh-aneh. Kalau gitu saya berangkat dulu ya, Bu. Nanti siangan saya balik."

"Iya, Nona. Pulang sebelum gelap ya," pesan Bu Siti, suaranya tetap penuh kekhawatiran.

Dian mengangguk, lalu bergegas pergi, melintasi jalan setapak menuju pinggir hutan. Setiap langkah terasa berat, seperti ada yang menarik kakinya kembali. Aroma pinus dan lumut bercampur dengan bau tanah basah yang menyengat. Semakin jauh ia masuk, semakin pekat aura pahit yang ia rasakan semalam.

Ia mencapai tepi sungai yang berarus tenang, airnya jernih mengalir di antara bebatuan lumut. Dian segera berjongkok, mengeluarkan kamera makro dan buku catatannya. Ia mulai mengamati spesimen lumut langka yang tumbuh subur di sana, terlarut dalam pekerjaannya.

"Ini genus Sphagnum jenis baru, nih. Belum pernah gue liat di jurnal mana pun," gumamnya pada diri sendiri, fokus memotret. "Warnanya ijo keunguan gini... unik banget."

Lihat selengkapnya