Dian menjatuhkan bunga itu, napasnya terengah-engah. Darah dari ujung jarinya, yang tidak sengaja tertusuk duri bunga yang tak kasat mata, mengalir merembes ke dalam tanah, seolah diserap olehnya. Ia merosot di lantai, bersandar pada dinding, jantungnya berdebar kencang. Itu tadi... apa? Halusinasi lagi? Nggak, ini beda. Ini... nyata. Perasaan ngeri menyelimuti dirinya. Ia menatap bunga ungu gelap yang tergeletak di lantai dengan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bunga itu seperti menertawakannya, diam-diam.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanya karena kelelahan, tapi gambaran wanita yang menangis pilu itu terus berputar di benaknya. Aroma pahit yang ia cium sejak tiba di desa kini terasa seperti menempel di hidungnya, di kulitnya. Gue harus tidur. Besok pagi, semuanya pasti normal lagi.
Namun, malam itu tidak ada kata "normal" bagi Dian. Rasa gatal tak tertahankan di lengan kirinya membuat Dian terbangun di tengah malam, napasnya terputus. Ia meraba lengannya, mengira digigit serangga, tapi rasa gatal itu terlalu dalam, seperti ada sesuatu yang merayap di bawah kulit.
Dengan panik, ia menyalakan lampu tidur. Cahaya kuning remang-remang menerangi kamarnya. Ia mengangkat lengan kirinya dan matanya membelalak kaget, ketakutan yang luar biasa menyergapnya. Samar-samar, di bawah kulitnya, terlihat pola hitam yang menyerupai sulur-sulur tumbuhan, tipis dan halus, tapi jelas ada. Mereka merambat dari pergelangan tangan hingga mendekati siku, seperti ukiran kuno yang tiba-tiba muncul di tubuhnya.
"Nggak... nggak mungkin," bisiknya, suaranya tercekat. Ia menggosok-gosok lengannya dengan keras, mencoba menghapus pola itu, tapi sia-sia. Sulur-sulur hitam itu tetap di sana, seolah menjadi bagian permanen dari dirinya. Ini beneran nyata. Ini bukan halusinasi. Keringat dingin membanjiri dahinya. Ia merasakan napasnya semakin cepat, ketakutan mencekiknya. Ini apa? Ini beneran dari bunga itu?
Ia melihat ke arah meja, tempat bunga ungu gelap itu tadi siang ia letakkan. Bunga itu sudah tidak ada. Kemana? Dian panik, mencarinya di bawah meja, di kolong tempat tidur, tapi bunga itu lenyap tanpa jejak, seolah tak pernah ada. Hanya meninggalkan pola sulur di lengannya sebagai bukti bisu.
"Ya ampun... gue beneran gila kayaknya," gumamnya, memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Ia terduduk di kasur, menatap lengannya yang kini terasa dingin, pola sulur itu seperti mengisap kehangatan dari tubuhnya. Apa yang harus gue lakuin? Ia ingin lari, berteriak, tapi suara tak keluar dari tenggorokannya. Ia tahu, secara naluriah, bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang mengerikan. Ini adalah manifestasi dari semua keanehan yang ia rasakan sejak menginjakkan kaki di desa ini.
Malam itu, Dian tidak bisa tidur. Ia terus-menerus menatap sulur-sulur hitam di lengannya, merasakan denyutan samar yang seolah terhubung langsung ke jantungnya. Pagi harinya, ia terbangun dengan mata bengkak dan tubuh yang terasa lemas, tapi pola sulur itu masih ada.
"Nona Dian, sarapan dulu," suara Bu Siti terdengar dari luar kamarnya.
Dian tersentak. Ia buru-buru memakai jaket lengan panjang, menutupi lengannya. "Iya, Bu, sebentar lagi!" teriaknya. Ia tidak mau Bu Siti melihatnya. Orang-orang di sini... mereka pasti tau.
Dengan perasaan tidak karuan, ia keluar dari kamar. Bu Siti sudah menyiapkan sarapan di meja makan sederhana. "Nona kok pagi-pagi gini udah pucat? Nggak tidur nyenyak ya?" tanya Bu Siti, tatapan khawatirnya membuat Dian semakin gelisah.
"Iya, Bu. Agak... kurang enak badan," jawab Dian, memaksakan senyum. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Bu Siti. "Kayaknya kecapekan banget abis eksplorasi kemaren."
"Ooh... makanya, Nona jangan terlalu maksain diri," ujar Bu Siti sambil menuangkan teh hangat. "Hutan di sini emang energinya kuat. Kadang bikin orang yang nggak biasa jadi kaget."
Dian hanya mengangguk, buru-buru menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Ia ingin cepat-cepat pergi, mencari udara segar, atau mungkin... mencari jawaban.
Setelah sarapan, Dian memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar desa, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Ia ingin mencari penduduk lokal yang mungkin bisa menjelaskan kejadian aneh ini, tapi ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Bu Siti melarangnya. Sopir truk hanya mengangkat bahu. Wanita tua di pasar menatapnya aneh. Semua orang di sini kayaknya menyimpan rahasia.