Bunga Hitam di Bumi Para Dewa

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #4

Akar Keluarga yang Terlupakan

...Nenek Sari tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya berjalan menjauh, meninggalkan Dian sendirian di jalan setapak, memegang kalung jimat itu erat-erat. Dian menatap kalung jimat itu, lalu membuka jaketnya dan melihat pola sulur di lengannya yang kini tampak sedikit lebih gelap dari sebelumnya, seolah siap untuk mekar. Ia merasakan denyutan samar, seperti jantung kedua di lengannya. Bunga Hitam itu semakin dalam mengakar, dan ia tidak tahu seberapa lama jimat ini bisa menahannya dari diluluhlantakkan oleh entitas parasit ini. Ketakutan yang membeku mencengkeramnya.

"Sialan!" Dian mengumpat, suaranya parau. Ia mencengkeram kalung jimat itu erat-erat, kuku-kukunya memutih. "Ini nggak mungkin! Garis keturunan gue? Kutukan? Apa-apaan sih ini!" Ia menatap nanar ke arah sulur hitam di lengannya, yang kini terasa dingin dan menjalar, seolah Bunga Hitam itu semakin dalam mengakar di dalam dirinya. "Nenek Sari nggak mungkin asal ngomong."

Pikirannya kalut. Kata-kata Nenek Sari tentang "garis keturunan" dan "wanita yang punya hati lembut dan jiwa yang menyimpan banyak luka" terus terngiang. Ini bukan lagi tentang flora endemik atau halusinasi semata. Ini tentang dirinya, tentang keluarganya. Ia harus tahu lebih banyak. Bu Siti... Bu Siti pasti tahu sesuatu. Dia pemilik penginapan, orang lama di sini. Dia yang memperingatkan Dian soal "wanita-wanita di desa ini".

Dian bergegas kembali ke penginapan, langkahnya cepat dan tidak teratur. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena kelelahan, tapi karena gelombang kepanikan dan rasa ingin tahu yang tak tertahankan. Bu Siti sedang menyiram tanaman di halaman depan. Wajahnya menoleh saat mendengar langkah tergesa-gesa Dian.

"Nona Dian, kok buru-buru banget? Ada apa?" tanya Bu Siti, nada suaranya lembut tapi matanya menyorotkan kekhawatiran.

Dian berhenti di depannya, napasnya tersengal-sengal. Ia berusaha mengatur napas, menatap mata Bu Siti dengan tatapan memohon. "Bu... Bu Siti harus cerita ke saya. Sekarang."

Bu Siti menurunkan selang airnya. "Cerita apa, Nona?"

"Soal... soal kutukan itu, Bu. Soal bunga hitam. Soal wanita-wanita Anggraini," desak Dian, tidak menyadari ia telah menyebutkan detail yang Nenek Sari katakan padanya.

Mata Bu Siti membelalak. Ia menelan ludah, wajahnya memucat. "Nona... Nona dengar dari siapa itu? Nona... bertemu Nenek Sari ya?"

"Nggak penting saya dengar dari siapa!" Dian membentak, suaranya meninggi. Ia membuka jaketnya sedikit, memperlihatkan ujung sulur hitam yang samar di pergelangan tangannya. "Lihat ini, Bu! Ini apa? Nenek Sari bilang ini... ini kutukan di garis keturunan saya! Dia bilang saya... saya salah satu wanita Anggraini yang bakal ditumbuhin bunga sialan ini!"

Bu Siti terkesiap, tangannya menutup mulut, matanya dipenuhi rasa takut dan kasihan. Ia mengangguk pelan, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Ya Allah... Nona, maafkan saya. Saya nggak bisa bilang. Saya... saya takut."

"Takut apa, Bu?! Saya yang bakal mati di sini kalau Ibu nggak cerita!" Dian mencengkeram lengan Bu Siti, air matanya mulai menetes. "Saya butuh tahu, Bu! Saya nggak mau kayak... kayak arwah-arwah yang saya lihat di hutan itu! Nenek Sari bilang itu nasib saya kalau saya nggak nyari tahu!"

Bu Siti menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. "Baik, Nona. Baik. Tapi ini... ini bukan cerita yang enak didengar."

"Saya nggak peduli enak atau nggak. Saya cuma butuh kebenaran!" tegas Dian.

"Begini, Nona..." Bu Siti menunjuk kursi di teras. "Duduk dulu. Jangan di sini ngomongnya. Nanti ada yang denger."

Dian menurut, jantungnya masih berdebar kencang. Ia duduk di kursi kayu, menunggu Bu Siti yang kini duduk di depannya, tangannya saling meremas.

"Nona... nama lengkap Nona Anggraini, kan?" tanya Bu Siti pelan.

Dian mengangguk. "Iya. Dian Anggraini. Kenapa?"

"Anggraini itu... nama keluarga lama di sini, Nona. Tapi udah pada pindah, atau... ya, begitulah," kata Bu Siti, suaranya lirih. "Nggak banyak lagi yang pake nama itu di desa ini. Dulu, banyak. Mereka semua... cantik-cantik, pintar-pintar, tapi punya nasib yang sama."

Lihat selengkapnya