Bunga Hitam di Bumi Para Dewa

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #5

Jejak Ritual di Puncak Suci

Dian melempar foto lusuh itu ke atas meja seolah tersengat listrik, jantungnya berdegup kencang. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir bayangan leluhurnya yang seolah menatapnya dari masa lalu. Ketakutan itu nyata, tapi di baliknya, ada dorongan kuat untuk mencari tahu. Ia harus memutus rantai ini. Demi dirinya, dan demi semua 'wanita Anggraini' yang terperangkap dalam kutukan ini.

"Bu Siti! Ibu masih di situ?" teriak Dian, suaranya sedikit serak.

Bu Siti yang masih berdiri cemas di ambang pintu kamar, sedikit terlonjak. "Iya, Nona. Ada apa? Nona baik-baik saja?"

Dian meraih jurnal itu lagi, menatapnya dengan tatapan berapi-api. "Ini, Bu. Jurnal ini! Ini kunci semuanya! Leluhur saya itu... dia nyoba nyari tahu juga! Dia nyoba lawan kutukan ini!"

"Tapi... Nona," Bu Siti maju selangkah, menatap jurnal itu dengan ngeri. "Kalau dia berhasil, kenapa kutukan ini masih ada? Kenapa Nona sekarang yang... yang kena?"

"Nah, itu dia! Makanya saya harus cari tahu kenapa dia nggak berhasil!" Dian menarik kursi, lalu duduk, jurnal di depannya. Keringat membasahi dahi Dian saat ia berjuang membaca tulisan aksara Jawa kuno yang rumit dalam jurnal. Matanya menyusuri setiap kata, mencoba menyusun potongan-potongan informasi tentang "Tanah Suci Para Dewa" dan "Persembahan Bulan Purnama" yang berulang kali disebut.

"Sialan, ini bahasanya ribet banget," gumamnya, mengusap pelipis. "Aksara Jawa kuno terus dicampur bahasa Belanda lama. Ini Anjani Anggraini bikin jurnal apa lagi ngetes orang, sih?"

Bu Siti menatap Dian dengan cemas. "Nona bisa bacanya? Kalau nggak bisa... Jangan dipaksain, Nona. Takutnya Nona jadi ikutan..."

"Nggak bisa gitu, Bu!" Dian memotong cepat. "Ini satu-satunya petunjuk yang gue punya. Kalau gue nggak baca ini, gimana caranya gue tahu gimana cara ngilangin kutukan sialan ini? Mau mati muda gue?"

Bu Siti terdiam, hanya bisa menghela napas.

Dian kembali menunduk, mencoba fokus. Tangannya terus membalik halaman, mencari kata kunci. "Okay, okay, 'Tanah Suci Para Dewa'... ini jelas Gunung Semeru. Pasti ke sana lagi. Tapi 'Persembahan Bulan Purnama'... ini ritual, kan? Ritual apa? Buat apa?" Ia berdebat dengan dirinya sendiri.

Beberapa jam berlalu. Sinar matahari mulai condong ke barat, mengubah warna langit menjadi jingga. Dian terus membaca, matanya merah dan kepalanya pening. Ia telah mengisi hampir satu halaman penuh dengan catatan terjemahan, mencoret-coret kata-kata yang sulit, mencoba menghubungkan satu petunjuk dengan petunjuk lain.

Lihat selengkapnya