Dian tidak buang-buang waktu. Setelah Bu Siti mengisi botol airnya dan menyiapkan beberapa roti, ia segera berpamitan. Wanita paruh baya itu hanya bisa menatapnya dengan wajah sedih dan pasrah, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Dian memeluknya erat, merasakan beban tanggung jawab yang luar biasa. Ia tahu ini bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk semua wanita yang pernah terikat pada kutukan ini.
Malam itu, Dian mendaki Semeru, menembus hutan pinus yang gelap gulita. Hanya senter kepalanya yang menjadi penerangan, menari-nari di antara bayangan pohon-pohon raksasa. Udara dingin menusuk tulang, tapi adrenalin memompa tubuhnya, membuatnya terus bergerak. Peta samar dari jurnal Anjani Anggraini, serta petunjuk dari Bu Siti yang sedikit ia 'paksa' untuk bicara, menuntunnya melewati jalur-jalur tikus yang hampir tidak terlihat. Sesekali, ia melihat tanda-tanda ukiran kuno di bebatuan, yang ia duga adalah penanda jalan.
Ia berjalan berjam-jam, kaki dan tubuhnya protes, tapi ia tidak peduli. Pola sulur hitam di lengannya berdenyut samar, seolah merespons setiap langkahnya, menariknya lebih dalam ke jantung gunung. Semakin tinggi ia mendaki, semakin tipis vegetasi. Pepohonan mulai jarang, digantikan oleh bebatuan cadas dan tanah gersang. Udara semakin dingin, dan bau belerang yang samar mulai tercium.
"Ini dia..." bisik Dian pada dirinya sendiri, napasnya terengah-engah. Ia telah mencapai sebuah dataran tinggi yang luas. Angin dingin menusuk tulang saat Dian mencapai kawah purba yang digambarkan dalam jurnal. Di sana, vegetasi tampak layu dan gersang di sekeliling bebatuan gelap yang menjulang. Beberapa pohon mati berdiri seperti patung-patung mengerikan, ranting-rantingnya mencakar langit.
"Gila, ini tempat apa..." gumamnya, matanya menyapu sekeliling. Kawah itu berbentuk lingkaran sempurna, dikelilingi tebing-tebing curam yang gelap. Di tengahnya, ada sebuah altar batu besar yang sudah retak, berukir simbol-simbol kuno yang sama seperti yang ia lihat di jurnal. Udara di sini terasa berat, seperti tekanan tak kasat mata yang menekan dadanya. Aroma pahit yang ia rasakan di desa kini terasa begitu pekat, begitu menyengat, bercampur dengan bau belerang.
Dian berjalan perlahan menuju altar batu, langkahnya ragu. Kalung jimat dari Nenek Sari terasa dingin di lehernya, seolah berusaha menenangkan sesuatu di dalam dirinya. "Ini yang dia maksud 'kawah mati'..." Ia menyentuh permukaan batu itu. Permukaannya kasar dan dingin, tapi ada energi aneh yang memancar. "Pasti ini tempat ritualnya..."
Saat Dian menyentuh sebuah batu besar berukir simbol kuno di altar, pola sulur di lengannya tiba-tiba bersinar hitam redup, memancarkan cahaya gelap yang berdenyut. Bukan cuma itu, ia merasakan sensasi aneh di kepalanya, seperti ada suara-suara lirih yang saling tumpang tindih, bisikan-bisikan kesedihan yang tak terhitung jumlahnya. Apa ini?
Kemudian, matanya menangkap gerakan. Dari tanah gersang di sekeliling kawah, perlahan muncul sosok-sosok. Mereka transparan, seperti kabut yang dibentuk menyerupai wanita. Wajah mereka pucat, mata mereka kosong, dan ekspresi mereka... ekspresi mereka semua sedih, putus asa. Seperti yang ia lihat dalam kilasan di hutan. Mereka banyak, begitu banyak, dan semuanya menatapnya.