Bunga Hitam di Bumi Para Dewa

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #7

Kelopak Pelindung Pertama

Dian tidak tahu sudah berapa lama ia berlutut di sana, memegangi kepalanya yang berdenyut. Kawah itu terasa begitu dingin, begitu kelam, seolah semua penderitaan telah meresap ke dalam tanah dan udara. Perlahan, ia bangkit, langkahnya gontai. Rasa takut masih mencekiknya, tapi ada sesuatu yang berbeda. Kekuatan itu, sensasi aneh yang mengalir di nadinya, terasa nyata. Bunga Hitam tidak hanya mengambil, ia juga memberi. Pertanyaannya, apa harga dari pemberian itu?

Dengan sisa tenaga, Dian mulai menuruni gunung. Perjalanannya terasa jauh lebih berat dari saat mendaki. Setiap langkah, ia merasakan bisikan-bisikan itu masih mengikutinya, meskipun tidak sekuat di kawah. Dingin dari pola sulur di lengannya kini terasa hangat, berdenyut pelan, seperti jantung kedua yang baru terbangun. Ia tiba kembali di penginapan menjelang subuh, tubuhnya lemas dan pakaiannya kotor. Bu Siti, yang sudah menunggunya dengan cemas, langsung memeluknya.

"Ya Allah, Nona Dian! Ke mana aja Nona semalaman? Saya khawatir sekali!" suara Bu Siti bergetar, air mata mengalir di pipinya.

Dian hanya bisa membalas pelukan itu dengan lemah. "Maaf, Bu. Saya... saya baik-baik aja. Cuma capek banget."

Ia tidak bercerita apa pun tentang kawah, tentang arwah, atau tentang kekuatan aneh yang ia rasakan. Bu Siti tidak bertanya lebih jauh, hanya membimbingnya ke kamar dan menyiapkan air hangat untuk mandi. Malam itu, Dian tidur nyenyak, meski di dalam mimpinya, ia terus-menerus melihat wajah-wajah sedih dan mendengar bisikan pilu.

Pagi menjelang sore, Dian terbangun dengan tubuh yang masih pegal, tapi pikirannya terasa lebih jernih. Ia berjalan keluar, duduk di beranda penginapan, menyeruput kopi hitam yang disiapkan Bu Siti. Matanya menerawang ke arah hutan, ke tempat ia menemukan bunga ungu gelap itu. Ia merasakan Bunga Hitam di lengannya, polanya kini tampak lebih gelap dan jelas, berdenyut pelan. Rasanya aneh, seperti ada sesuatu yang hidup di dalam dirinya, tapi bukan lagi parasit yang sekadar menghisap, melainkan sesuatu yang... berpotensi.

Ia sedang termenung, merenungkan semua kejadian aneh itu, mencoba memahami apa arti dari kekuatan baru ini, ketika jeritan ketakutan seorang anak kecil tiba-tiba memenuhi udara sore yang tenang di desa.

"Mamaaaak! Ada hantuuuu!"

Dian sontak berdiri, cangkir kopinya hampir terjatuh. Ia menoleh ke arah suara, yang datang dari ujung jalan setapak, dekat sebuah gubuk kecil yang agak terpencil. Beberapa penduduk desa juga ikut menoleh, namun reaksi mereka tidak sepanik anak itu. Hanya tatapan prihatin dan beberapa gelengan kepala. Hantu? Udah biasa kali di sini. Tapi anak itu ketakutan banget.

"Ada apaan, Bu?" tanya Dian pada Bu Siti yang baru keluar dari dapur.

Bu Siti menghela napas. "Itu, Nona. Si Joni. Anaknya Bu Lastri. Kayaknya digangguin lagi sama... itu."

"Itu? Maksudnya apa, Bu?" Dian mengernyit, perasaannya tidak enak.

"Ya, kayak... bayangan-bayangan itu, Nona. Dulu pernah juga. Tapi nggak sampai teriak histeris begitu," jelas Bu Siti, nada suaranya pasrah. "Kasihan si Joni. Dia emang penakut dari kecil."

"Bayangan?" Dian menatap ke arah gubuk itu. "Bu, saya ke sana sebentar ya. Kasihan anaknya."

Lihat selengkapnya