Kota itu tidak pernah benar-benar tidur, tapi malam ini, ia terasa seperti sedang menahan napas, tercekik oleh asap knalpot dan ambisi yang membusuk di trotoar. Di sebuah gang sempit yang hanya muat satu motor, di mana cahaya lampu jalanan enggan masuk, sebuah kamar kos seluas dua kali tiga meter memancarkan denyut kehidupan yang redup.
Bau mi instan rebus yang terlalu matang bersaing ketat dengan aroma apek kasur busa tipis dan keputusasaan yang mengendap di sela-sela dinding tripleks yang lembap.
Seorang remaja laki-laki sits tegak di atas kursi plastik merah. Kaki kursi itu, yang retak di bagian pangkalnya, berderit protes setiap kali dia menggeser berat tubuhnya. Dia tidak sedang belajar.
Buku teks sejarah yang terbuka di meja belajar kayu yang lapuk itu hanyalah kedok, sebuah alibi visual jika bapak kos tiba-tiba mengetuk pintu untuk menagih tunggakan bulan ini. Cahaya dari bohlam tunggal di langit-langit berkedip-kedip, seolah-olah lelah terus menyinari penderitaan yang tak kunjung usai, melemparkan bayangan Aris yang goyah ke dinding semen kusam yang dipenuhi noda jamur.
Mata Aris yang sembab, berwarna merah di sudut-sudutnya, menatap lurus ke kegelapan di hadapannya. Di seberang meja, sebuah kursi kayu kosong dengan satu kaki yang lebih pendek dari yang lain bersemayam di sudut paling gelap kamar. Di mata Aris, kursi itu bukan sekadar perabotan bekas. Itu adalah kursi terdakwa, megah dan mengerikan, siap menampung seluruh dosa yang tak termaafkan di kota ini.
"Sidang dibuka," bisiknya. Suaranya serak, seperti gesekan kertas amplas di permukaan kayu yang kasar. Tidak ada palu hakim yang megah di tangannya, tidak ada jubah hitam yang berat di pundaknya. Tapi ada ketegasan yang tidak masuk akal untuk anak seusianya, ketegasan yang lahir dari rasa sakit yang sudah mencapai titik didih.
Dia meraba jas hitam besar yang tersampir di sandaran kursi plastik merahnya. Kainnya kasar, berbau pasar loak dan kapur barus, dengan lengan yang terlalu panjang dan longgar untuk tangan kurusnya yang penuh lebam. Bekas cakaran kuku Tuju di lengan kirinya masih terasa perih, mengeras menjadi keropeng yang memalukan di bawah seragam sekolahnya yang kuning kusam.
Bagi laki-laki itu, jas tersebut bukan sekadar pakaian. Itu adalah baju zirah yang ia pinjam dari masa lalu, dari bayang-bayang seorang ayah yang pernah mengenakannya dengan bangga di ruang sidang yang sesungguhnya. Di saku dalam jas itu, sebuah voice recorder kecil dan sebuah flashdisk perak tersimpan, menyembunyikan rahasia yang cukup berat untuk meruntuhkan gedung pencakar langit yang terlihat dari jendela kecil di sudut kamarnya.
Aris mengangkat sebuah dahan pohon mangga yang dipahat kasar menyerupai palu hakim. Dahan itu kering, permukaannya tidak rata, dengan serat-serat kayu yang masih menonjol di sana-sini. Matanya yang sembab menatap lurus ke kegelapan di depannya, menembus kursi kayu kosong itu, menembus dinding kos, menembus malam Jakarta yang angkuh.