Bungkaman Suara Aris

Muhamad Zuhril Haq
Chapter #2

Koper Kardus dan Bau Lumpur

Lantai marmer Stasiun Saporo itu begitu mengilap, sampai Aris bisa melihat pantulan lubang di kaus kakinya. Udara Metropola yang panas seliweran, membawa aroma asap knalpot dan parfum mahal yang bikin hidung cowok itu gatal. Di tangan kanannya, sebuah kardus mie instan yang diikat tali rapia tampak seperti jerawat di tengah kemewahan stasiun.

"Hati-hati, ya nak," suara itu terus berputar di kepalanya. Suara Bapak yang serak karena debu penggilingan padi.

Aris membetulkan letak ranselnya. Di dalamnya, ada sebuah buku catatan hitam kecil. Dia meraba sampulnya. Keras. Dingin. Seperti niat yang dia simpan rapat-rapat. Dia melangkah keluar, menembus kemacetan yang seolah ingin menelan siapa pun yang lemah. Kontrakan petaknya di Palmerah hanya seukuran kandang sapi Bapak di desa, tapi bagi Aris, ini adalah ruang sidangnya yang pertama.


Lihat selengkapnya