Orang bilang jadi anak bungsu itu enak. Ada keinginan tinggal minta, kasih sayang dari keluarga tanpa batas, dimanja, dikabulkan segala keinginannya, dan satu lagi, katanya anak bungsu itu paling berbeda dari sifat, sikap, dan nasibnya.
Aku akui semua itu benar.
Anak bungsu itu dimanja habis-habisan. Segala keinginannya dituruti tidak pernah tidak. Diberi kasih sayang penuh dari semua anggota keluarga. Lalu sifat dan sikap serta nasib yang memang berbeda. Di mana berbedanya?
Sifat, anak bungsu dominan manja dan sering marah. Merajuk, dan selalu ingin diperhatikan. Sikapnya pun masyaallah sekali. Kadang tidak mau diganggu, kadang menjengkelkan, kadang menggemaskan. Lalu nasib, nasib anak bungsu itu berat.
Sebenarnya, hampir semua anak merasakan nasib yang berat, tergantung dan sesuai kapasitasnya masing-masing. Dari mulai anak sulung, anak tengah, hingga anak bungsu, mereka mempunyai nasib yang berbeda. Si sulung yang biasanya menjadi peran pertama dan tulang punggung keluarga. Si tengah yang tidak pernah diizinkan untuk ke mana pun, biasanya anak tengah itu tipikal penurut pada orang tua. Lalu si bungsu, yang hidupnya digadangkan enak sejak lahir, dan harus menjadi harapan terakhir keluarganya. Entah itu jadi pengharapan orang tua, atau tempat keluh-kesah kakaknya.
Kadang si nasib ini menjadi perdebatan di kalangan netizen yang nemu quotes tentang nasib si anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu. Mereka sama-sama mengeluhkan jika mereka paling menderita, padahal semuanya sama, sesuai porsinya yang sudah Tuhan kasih.
Seperti aku.
Kita kenalan dulu. Aku Alena Chayra. Usiaku sudah tiga puluh tahun, dan aku menyandang sebagai anak bungsu kesayangan keluarga dulu.
Iya, dulu. Sekarang lebih ke sayang, tapi pake teuing kalau di bahasa Sunda. Jadi artinya, sayang? Teuing. Hehe, yang gak ngerti ngacung aja di monas.
Aku hidup berkecukupan sejak dulu. Kakak sulungku yang berjenis kelamin laki-laki dan bernama Ian Mahesa, mengurus dan membiayaiku sejak aku lahir. Lah, lalu ayah ke mana? Weh, jangan kira aku lahir tanpa ayah. Tentu saja ayah aku ada, tapi di sini bakalan aku tulis sebagai pria antagonis yang menyebalkan dan musuh bebuyutan si anak sulung.
Mama selalu cerita tentang masa kecilku dulu. Aku lahir di kota Bandung dengan bobot yang kurang dari normal, yakni prematur. Mama bilang jari tanganku masing-masing sebesar lidi, dan siapa pun yang melihatku kini tumbuh besar akan mengatakan,
"Kirain gak akan panjang umur."
Memang agak sarkas ya ucapan mereka. Namun, itulah yang terjadi, mereka menjadi saksi kelahiranku ke dunia di tengah hiruk-pikuk keluarga yang sederhana nan awet rajet. Apa, ya, kalau di bahasa Indonesianya? Awet rajet itu istilah dalam bahasa Sunda yang mungkin bisa diartikan sebagai hate love relationship atau hubungan toxic di jaman ini.
Keluarga mama selalu mengatakan jika aku lahir dalam keprihatinan. Saat itu ayah sudah berhenti bekerja menjadi koki di sebuah hotel di daerah Dayang Sumbi, Bandung. Lalu kondisi rumah juga tidak baik-baik saja karena A Ian sedang kabur dari rumah. Entah apa masalahnya, aku lupa saat itu mama mengatakan apa, yang jelas A Ian tidak hadir saat mama melahirkanku dan ia pulang setelah beberapa jam aku lahir ke dunia.
Ditambah lagi proses melahirkanku yang cukup membuat mama kesakitan dan kesal. Pasalnya posisiku sungsang di dalam rahim mama. Di jaman itu, operasi caesar masih tabu dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, maka mama berjuang sekeras tenaga demi aku lahir ke dunia.
Fun fact-nya, setelah aku lahir, aku dibiarkan begitu saja. Kakak perempuanku, yang bernama Jiyan Hayya Hanifa pun mencoba untuk mengingatkan mama saat aku menangis. Akan tetapi, kalian tahu apa yang mama katakan?
"Biarin aja! Suruh siapa susah banget di keluarin!"
Mama ngomong gitu sambil munggungin aku yang masih bayi merah dan tidak tahu apa-apa. Coba kalau saat itu bayi sudah bisa bicara dan berpikir, pas denger mama ngomong gitu pasti langsung diem dari nangisnya dan bilang,
"What the hell? Ya udah kalau gak mau nyusuin, gue bisa bikin sendiri susunya!"
Lalu si bayi merah ini bangkit dari tidurannya dan ngeloyor ke dapur buat bikin susu sendiri. Nah, lho, apa tidak menyeramkan jika itu terjadi? Wkwkwk.
Akhirnya apa? Kak Jiyan yang menjabat sebagai bungsu gak jadi pun akhirnya menyuapiku dengan air gula merah. Iya, karena kondisi yang sedang memprihatinkan, aku tidak diberikan susu formula saat itu. Melainkan diberi air gula merah yang ditetesi ke mulutku menggunakan cutton bud. SIAPA PUN TOLONG JANGAN SAKITI BAYI MERAH MUNGIL INI KETIKA DIA DEWASA NANTI!!!!! Hiks!
Aku diam, tangisku berhenti, dan kembali tidur.
Hal yang mengenaskan lagi, air gula merah itu akan menetes ke dalam mulutku setiap kali aku menangis dan sebelum A Ian datang. Nah, pasti kalian bakalan tanya, kok ibunya kejam, sih, gak kasih ASI? Apa ibunya kena baby blues?
Jawaban dari semua pertanyaan itu hanya satu, yakni inilah penderitaan pertama anak bungsu.
Pertama, baru lahir udah dimarahin dan diabaikan. Kedua, dikasih air gula merah tanpa ada susu yang aku rasakan untuk pertama kali. Ketiga, aku TIDAK KEBAGIAN AIR SUSU IBU KARENA AIR SUSU MAMA UDAH KERING! Sejauh ini, ini yang paling menyedihkan. Anak bungsu itu kebagian sisanya. Gak dapet ASI, baju turun-temurun, dan menjadi anak yang tidak diinginkan.
Poin akhir itu bukan ungkapan kejam. Namun, memang benar adanya. Mama hamil olehku karena tidak tahu dirinya hamil. Berat badan mama saat itu mencapai 100 kg, otomatis badannya besar dan berat. Mama tidak tahu jika ia mengandung anak terakhirnya. Mama baru tahu saat mama sadar jika mama sudah tidak haid selama beberapa bulan, dan saat dicek ke bidan, mama dinyatakan hamil yang sudah menginjak usia lima bulan. Begitulah maksud menjadi anak yang tidak diinginkan. Aku sebagai anak bungsu memang ditakdirkan menjadi kejutan bagi keluargaku. Hehe.
Setelah beberapa jam aku lahir ke dunia, A Ian baru datang. Mama bilang ia datang sambil menangis dan menggendongku serta menciumiku hingga aku menangis. Kalau tidak salah, A Ian tidak tahu jika mama mengandung, maka saat sepupu kami mengatakan mama melahirkan, pastinya A Ian shock berat. Lantas ia menurunkan egonya dan pulang demi menyambut kelahiran si bungsu.
Sebagai penebusan dosa karena sudah kabur selama ini, A Ian meminta maaf pada mama dan ayah, juga pada Kak Jiyan sebagai adik pertamanya. Lalu ia pun bersumpah untuk mengurus dan membesarkanku dengan jerih payahnya, hasil keringatnya. A Ian juga menyatakan jika aku akan dianggap sebagai anak olehnya agar ia tidak lagi melakukan kesalahan yang sama dan menyebabkan kejadian ini terulang.
Yakali setiap dia kabur, mama harus ngelahirin dulu biar dia balik. Oh, no no no sangat!
Saat itu juga, cinta pertamaku muncul.
Long stroy short, si bayi merah yang bernama Alena ini pun akhirnya tumbuh menjadi balita. Sekarang dia tidak minum air gula merah lagi. Melainkan minum susu formula yang dibelikan oleh A Ian setiap minggunya. A Ian sudah seperti seorang ayah muda yang setiap kali habis gajian, dia akan memborong makanan dan susu bayi ke minimarket. Sampai teman-temannya heran, untuk siapa itu? Tahu nggak, A Ian jawab apa?