Bungsu

Ayang Afrianti
Chapter #2

2

Pada bulan Juni di tahun 2001, aku dibangunkan dari tidurku. Di gendong oleh A Ian untuk pergi ke rumah ayah di kota Sukabumi. Awalnya aku tidak tahu jika kami akan pergi malam ini. Tanpa pamitan pada keluarga mama, tanpa diketahui oleh orang lain, kami pergi begitu saja. Sudah seperti buronan sebenarnya, tapi mama melakukan ini semata hanya tidak ingin kakaknya tahu jika ia pergi menemui suaminya. 


Pada pukul sembilan malam, mobil melaju membelah jalanan kota Bandung yang masih ramai. Dulu, kondisi Lembang tidak seramai saat ini. Masih terbilang sepi oleh tempat wisata, dan jalanan pun tidak semacet sekarang. Perjalanan kami membutuhkan waktu beberapa jam hingga akhirnya sampai di kota Sukabumi pada pukul tiga dini hari. 


Selama di perjalanan, aku dipangku oleh A Ian. Aku tidak pernah dilepaskan meski jok mobil bagian belakang masih tersedia. Seakan A Ian juga tidak mau berpisah denganku meski hanya perpisahan sementara. 


Angin dingin menyambutku saat A Ian membuka pintu mobil. Kami turun dan disambut oleh ayah yang untuk pertama kalinya dalam hidupku dia menggendong dan menciumiku. Karena sebelumnya, ayah tidak pernah melakukan itu. Hubungan kami tidak sedekat aku dengan A Ian. Bahkan aku tidak pernah melihat intensitas ayah di rumah setiap harinya. Entah beliau pergi ke mana, aku hanya sesekali melihat ayah datang, lalu pergi lagi. 


Namun, kini ayah memeluk, mencium, dan menangis di hadapanku. Sebagai seorang anak kecil, tentu aku hanya tersenyum senang saat melihat beliau di hadapan. Aku hanya tahu kesenangan saja saat itu, tanpa memikirkan perlakuan ayah sebelumnya padaku. Hanya saja, aku melihat kecemburuan di wajah A Ian saat ayah menggendongku. Wajahnya masam, tidak tersenyum, bahkan ditanya pun ketus. 


Ternyata ayah selama ini tinggal bersama kakak kandungnya. 


Keadaan kampung yang masih asri menyambut kami. Di keheningan malam menjelang pagi, angin cukup berembus dengan dingin. Jalanan berbatu terpampang jelas di depan rumah panggung yang sudah terlihat tua. Lantai kayu yang terbuat dari papan itu membuat aku, mama, dan Kak Jiyan berhati-hati dalam berjalan. Kali pertama aku memasuki rumah tradisional Sunda ini. Bukan apa, yang kami pikirkan saat itu adalah takut jatuh ke bawah rumah. 


Padahal logikanya, di rumah ini banyak orang yang tinggal, bahkan perabotan pun ada beberapa yang besar. Tidak mungkin roboh begitu saja hanya dengan pijakan langkah kaki kami. Dinding rumah ini pun terbuat dari serambi bambu, bahkan sampai atapnya pun sama. Beberapa hiasan dinding dengan tema kaligrafi terlihat menggantung dengan beberapa sarang laba-laba di sana. 


Aku terdiam, menatap sekeliling ruangan. Sekejap mengabaikan saudara-saudara ayah yang menyambut kami. Aku pun tidak sadar jika aku sudah berpindah pangkuan pada seorang wanita dengan tubuh gempal dan kulit berwarna hitam. Wanita ini bernama Teh Maryam, keponakan ayah. 


Teh Maryam memelukku dengan gemas. Memuji dan menciumku beberapa kali untuk mengendus aroma tubuhku yang menguar. Fyi, aku tidak pernah dibiarkan bau oleh mama, selalu ditaburi minyak kayu putih dan bedak bayi setiap hari. Wajar orang lain senang berada di dekatku, aseekkk. Wkwkwk.


"Di sini masih malam?" tanyaku tiba-tiba membuat obrolan orang dewasa terhenti.


"Iya, masih malam di sini," jawab Teh Maryam.


"Di rumahku sudah siang. Bahkan turun salju," kataku dengan pedenya. Namun, ucapanku itu membuat semua orang tertawa.


"Iya, rumah kamu, kan, di Amerika. Makanya jam segini masih siang," kata A Ian mengikuti alur imajinasiku.


Maklum, anak kecil itu selalu ingin terlihat berbeda obrolannya. Hehe.


"Sama aja. Masih tinggal di Indonesia kok. Ya kali beda alam," kata Mama pula terkekeh geli.


Aku sendiri tidak peduli, yang aku ingat, aku hanya melanjutkan suruhan otakku untuk berimajinasi dan mengungkapkannya pada orang baru. Sedikitnya mereka terhibur. 


Long story short, aku tinggal di sana bersama mama dan Kak Jiyan, tanpa A Ian. Meski harus ada drama kecil lebih dulu karena A Ian harus pergi ke Bandung lagi. Jujur saja, itu kali pertama aku menangisi A Ian, dan kali pertama juga aku mengalami perpisahan yang begitu sakit. 


Sebelumnya, saat ayah pergi, aku tidak sedikit pun menangis. Malah aku hanya terdiam melihat mama yang menangis seorang diri di ruang tamu. Bahkan aku juga mencoba menenangkan mama, tapi malah dimarahi saat itu. Masih ingat apa yang mama katakan, "Kamu tu gak akan ngerti apa yang Mama rasain! Diem aja udah!". Sedikitnya membuatku bungkam saat itu juga. Haha.


Fun fact, si anak bungsu ini tidak suka makan nasi. Bukan tidak suka, tapi belum suka. Kenapa? Karena setiap kali sarapan A Ian memberikan sereal dan segelas susu, belum lagi siang harinya aku makan biskuit dan camilan lainnya. Jadi, untuk makan nasi itu agak sulit, mama harus effort dulu buat aku bisa makan nasi. 


Nah, di kampung ini, aku bertemu dengan seorang anak tetangga dan kami bermain bersama. Dia bernama Yuni. Yuni ini berbeda satu tahun denganku, tapi dia belum sekolah. Sedangkan aku sudah menginjak kelas dua SD. Kami bermain selayaknya anak kecil pada umumnya. Mungkin karena aku membawa banyak mainan, jadi Yuni betah bermain denganku. 


Namun, suatu hari, Wak Hotimah--kakak kandung ayah-- menyuruhku untuk makan. Di sinilah drama di mulai. Aku tidak mau makan, dan aku meminta sosis goreng saja pada mama. Masalah lain terjadi karena sosis yang mama bawa sudah habis. Mama benar-benar membawa berbagai macam perbekalan untukku. Karena kami di sini sudah hampir satu minggu, perbekalanku pun habis. 


Ayah tidak bisa bertindak karena untuk pergi ke pasar saja harus menempuh jarak yang sangat jauh. Maka Wak Hotimah mencoba membujuk aku makan dengan lauk yang ia bawa. Sungguh, untuk membujuk aku makan saja, semua anggota keluarga yang ada dikerahkan. Meski begitu, aku masih belum mau makan, karena melihat nasi dan lauk pauknya saja sudah membuatku mual. Aku tidak tahu kenapa. 


Di saat yang sama, Yuni datang dengan membawa sepiring nasi. Situasi rumah sudah mulai menyerah karena aku bersikukuh untuk tidak makan nasi. Mama malah membuatkan aku bubur bayi dari perbekalan yang masih tersisa. Fyi, iya, aku makan bubur bayi meski usia aku sudah menginjak anak-anak. 


Lihat selengkapnya