Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #1

Chapter 1

Dua puluh tahun yang lalu, aku sering melihat tanaman kacang yang merambat dari sebilah kayu preng dan tali rapiah yang dikaitkan dari ujung ke ujung kayu preng tersebut berjajar dari depan sini ke belakang sana; kira-kira sekitar 20 meter dan berkelok bagaikan ular tangga. Sulur-sulur kacang itu kerap aku jahili, dengan sengaja diikat berpita bagaikan mengikat takdir yang tidak terpisahkan antara satu tangkai muda dengan tangkai lain seolah sedang mencegahnya merambat ke jalur yang tepat, dan membuatnya kusut di permukaan tanah, lantas menunggu hingga besok; apa yang dapat terjadi?

Dadaku dipenuhi rasa gejolak penasaran yang hebat, apakah tanaman yang tidak dapat berdiri sendiri, akan tetap terpuruk apabila dipaksa merunduk? Pikirku. Maka esoknya aku datang, dengan semangat yang sama besar seperti kemarin. Aku mencari ujung tangkai mana yang sebelumnya sudah ditandai. Dengan tas yang terbuat dari goni beserta botol minum selepas pulang dari sekolah, aku berlalu ke taman bermain itu lagi, dan mendapati bahwa tanda itu eah hilang. Sulur yang semula terikat telah lebih panjang dari sebelumnya, dan tetap menanjak ke jalur yang tepat. Ia tidak lantas merunduk dan jatuh mesti tangan nakal mencoba merubuhkannya.

Tapi, rasanya aku tidak mau kalah. Pita-pita itu menjadi semakin banyak, dan aku tunggu esok hari lagi. Nyatanya, semua kebaikan dari sulur itu terulang, hingga membuatku menjadi lebih bersemangat, sampai suara garang meneriakiku Si Kancil anak nakal dari ujung depan sana, sementara tubuhku sedang sepenuhnya bersembunyi di balik semak-semak yang tidak lebih reimbun dibanding tubuhku. Aku selalu mencari baris pring paling belakang saat berbuat sesuatu yang disebut orang sebagai kejahilan, sementara diriku menyebutnya hasrat terpendam dari anak yang serba ingin tahu; dan tetap ketahuan karena tidak ada yang bisa menutupi badan besarku. Ngomong-ngomong di usia 10 tahun ini, beratku 56 kg dengan tinggi yang bisa disebut buntal, dan sekarang masih berlari karena dikejar pak tani, musuh bebuyutan si kancil.

Di usia-usia ini, aku sangat suka bereksplorasi, bermain apa saja dengan yang terlihat di mata hingga menyesap apa saja yang bisa dirasa, termasuk tangkai bunga sepatu. Aku pikir, madu bisa keluar dari sana karena tawon sangat gemar mengepung mereka. Ada pelajaran penyerbukan bantuan yang dilakukan oleh lebah-lebah itu pada putik oleh benang sari. Jika penyerbukan berhasil maka akan tumbuh bakal buah, lantas benih itu jatuh ke tanah dan menjadi tanaman baru. Bagitulah siklus tanaman itu berlangsung. Tapi, apakah bibit dari buah itu bisa seexclusive induknya?

Ada yang mengatakan, bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa mereka akan serupa. Sekalipun sama bibitnya, bebet dan bobotnya belum tentu sama bukan? Manusia juga tumbuh demikian, bahwa tidak semua anak bisa terlahir persis dengan memiliki rejeki orang tuanya. Tapi yang jelas, bahwa kecantikan dan ketampanan itu selalu dimulai dari previllage, dan ini jelas tidak bisa diganggu gugat. Sayangnya di jaman yang edan ini, hal itu bisa dibantahkan. Aku selalu geleng-geleng kepala akan keheranan yang tidak bisa dimengerti ini tentang keedanan orang yang mencoba melaampaui keturunan tersebut, seperti berusaha mengubah sisik dan kulit di badannya, bagaikan ular loreng yang ingin menjadi polos. Apa itu mungkin? Nyatanya ada, dan mereka bisa. Tetapi ada juga beberapa orang yang masih bertahan sealami bagaimana air mengalir.

Oh ya. Namaku, Warto. Usiaku tidak lagi 10 tahun, karena 20 tahun sudah berlalu sejak kenakalan-kenakalan itu, meski jiwaku meronta jika menyebutnya demikian, mungkin lebih baik jika menyebutnya sebagai hasrat terpendam. Pada tahun itu, tempat ini adalah ladang tempat pak tani menanam bibit kacang sulurnya, tapi sejak 10 tahun lalu berubah menjadi perumahan elit. Rumah petak 8 x 15 meter di bangun berjajar dari ujung barat ke timur, dan berbelok ke selatan bagai ular tangga. Aku berdiri di ujung jalan tersebut, pada rumah no 21 gang ke 3, tentu bukan sebagai salah satu penghuni, melainkan pemungut sampah. Kadang aku berpikir, kenapa tidak aku habiskan saja usia 10 tahunku dengan mengerjakan matematika; setidaknya rejekiku tidak akan semengenaskan ini. Aku tidak akan dikatai orang udik yang goblok minta ampun dari mulut guruku sendiri, lalu tinggal kelas dan hanya kejar paket C. Setiap tahun, passing grade ujian kelulusan semakin tidakmasuk akal, dengan kriteria-kriteria yang mustahil seperti gedung pencakar langit. Ah, adakah orang yang pernah bertanya, kenapa gedung tinggi bisa disebut pencakar langit, sementara mereka tidak punya kuku? Langit sendiri, sebenarnya setinggi apa?

Orang pernah mengatakan bahwa diluar batas lapisan bumi hanya ada ruang hampa udara, yang semakin jauh meninggalkan titik besar yang diorbit oleh bulan, maka yang ada hanya gumpalan angkasa, debu-debu, bintang, yang tidak secara permanen menjelaskan dimana batas langitnya. Meraka hanya menjelaskan bahwa semakin jauh akan ada sesuatu, dan lebih jauh dari sesuatu itu, masih ada sesuatu lagi hingga lapisan ke tujuh. Tapi langit yang selama ini kita lihat apa? Tidak nyata, pembiasan, fana, mimpi atau angan? Langit tidak seperti dinding atau atap yang memiliki batas tetap serta pasti. Langit hanya sebutan, dan pencakar langit hanya sebatas panggilan, dan setelah 1 pencakar dibangun, akan ada pencakar yang jauh lebih tinggi di banding sebelumnya.

Setidaknya, aku masih tidak kehilangan kekoyolan dalam diriku, yang senantiasa dipelihara melalui kebahagiaan dan kebanggaan. Ada juga jenis kebanggaan lain yang bisa dimiliki oleh pria berotot, selain tak berotak, yaitu tahan banting. Aku memiliki seorang kawan yang tidak pernah menangis. Usianya 22 tahun, dia sudah tidak menangis di usia 3 tahun, bahkan saat dirinya tahu kalau sedang mengompol dan diolok-olok kawan karipnya, hingga merah padam mukanya bagai bolam lampu; masih juga dia menahan air matanya agar tidak membanjiri tanah. Usiaku masih 11 saat itu terjadi, tapi aku tidak menyaksikan sendiri bagaimana kisah kawan karip, jika iya pastilah sudah terbahak hebat diriku. Ibunya yang maha lembut yang menceritakannya, bahwa anak semata wayang itu selalu tangguh dan tahan banting, baik dari raga maupun jiwanya.

Aku mengakui ketangguhnya. Dia pun tidak menangis, bahwa bocah kutu buku yang sangat suka belajar itu harus berhenti sekolah di usia 15 tahun. Dia harusnya masih SMA, namun mundur 2 tahun dan jadi pemungut sampah seperti yang sudah ku lakukan. Dia hanya mundur, bukan putus, lantaran kata putus menandakan akhir nasibnya yang tidak bisa dibantah. Sayangnya, jiwa yang sudah kokoh memang tidak mudah patah, selain dia yang tidak menangis, semangatnya lebih besar ketimbang saat aku yang dikejar pak tani di usia 10 tahun dulu itu. Kala itu, aku merasakan semangat paling menggebu dalam diriku, bahwa lari dari bapak haji sumartono merupakan prioritas keselamatan paling utama, yang harus dijalain oleh bocah ingusan setalah ketahuan memenuhi hasrat terpendamnya di ladangnya yang disayang hingga tujuh turunan, meskupun tidak ada yang tahu juga apakah ke 6 keturunannya bisa sesayang itu pada ladangnya. Nyatanya pada 10 tahun setelah itu, ladang yang amat dicinta tersebut, diinvestasikan hingga menghasilkan kelayakan hidup sedemikian hebatnya dibanding ladang itu sendiri bila dibiaran tetap mejadi ladang acang sulur.

Pak sumartono tinggal disalahsatu barisan rumah yang bagai ular tangga tersebut, yang lebih besar dibanding lainnya. Ukurannya dua kali lebih megah dibanding sisi kanan dan kirinya, yang diharapkan mampu mengundang keirian bagi orang lain; namun sepatutnya titipan itu selalu mendatangkan tanggung jawab yang sama besarnya, rumah tersebut terbakar 3 tahun lalu sebesar api kesombongannya yang tumbuh menyerupai kepala ular di dalam permainan paling lucu itu sendiri; bapak yang selalu bermain kejar-kejaran itu wafat dalam tangis saat kehilangan apa yang dianggapnya berharga, dalam satu kedipan mata saja.

Tapi kedipan yang mematikan lainnya, bukan tentang lalapan api. Melainkan gejolak saat dirayu oleh wanita. Bayangkan saja, ketika jutaan helai rambut yang tergerai indah dibahu perempuan, dan seraya helai-helai itu menutup wajahnya yang berseri diterpa cahaya matahari yang beradu dengan semilir angin lembut, serta bibir yang menggigit karena tidak tahan wajahnya digelitik oleh rambutnya sendiri, lantas tangan ramping kurus ptih yang selama ini disembunyikannya bagaikan piala bergilir yang perlahan-lahan menyibak helaian rambut pengganggu itu ke belakang kepala mengikuti aliran yang dibentuk oleh ubun-ubunnya, dan terus kebelakang, lalu jatuh keleher sampai ia sadar bahwa tengah diperhatikan, dan matanya yang hitam kecoklatan itu berkedip; Oh Tuhan, indah sekali ciptaanmu.

Lihat selengkapnya