Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #3

Cerita Usang Pemilik Sepatu

Newati sedang menimang di bawah pohon delima, sekiranya buah merah mana yang sudah masak agar sedap dimakan. Bagi Sumardi yang diam-diam menyimaknya sedari tadi - yang di dalam hatinya berseru bahwa tidak ada yang lebih nikmat dibanding merahnya bibir wanita itu -, maka tidak akan bisa menjawab dengan lantang pertanyaan yang diarahkan kepadanya secara mendadak. “Menurutmu, mana yang enak?”, dari Newati yang kini memandanginya serius, seolah sedang membaca pirikan senonoh dari pria di dekatnya.

Sumardi gelagapan, tidak bisa menangkap maksud pertanyaan itu, sampai pertanyaan susulan dia terima. “Buahnya, mana yang sudah matang?” seru Newati.

“Tentu, yang paling merah,” sembari menunjukan buah yang dimaksud, Sumardi yang akhirnya menangkap arti pertanyaannya, menjawab.

Newati mengerti, tapi tubuh mungil itu tidak akan bisa meraihnya kecuali dia bertambah 30 cm lebih tinggi. Meski tangannya bersikeras meraih tangkai, yang diterimanya hanya kegagalan dan ia menjadi lebih marah sebab menyadari tingginya tidak seluar-biasa perkiraannya. Seketika keringat mengucur dari dahi di antara pelipis kiri yang diusap perlahan, membuat Sumardi juga turut kepanasan. Entah gairah apa yang dirasa olehnya, keinginan memiliki, kebutuhan melidungi, atau kehendak untuk tidak membuat wanitanya menderita, namun apapun yang sedang dilakukan Newati, akan terlihat mempesona, sekaligus menjeratnya dalam belenggu yang tidak terlihat: Hasrat dan Obsesi.

“Bisa kamu bantu aku?” pinta Newati kepada Sumardi yang ada di sampingnya untuk menolong - yang sedang teramat sibuk mengoles sepatu, meski pikirannya serba semrawut melamunkan wanita itu sendiri.

Sumardi yang sadar bahwa sudah dimintai tolong yang dirasanya seperti diteriaki secara sepihak, segera membereskan keruwetan di kepalanya. Lantas menjawab singkat, “Mencuri itu perbuatan tercela.” seraya melanjutkan memoles sepatu yang sama sejak tadi.

“Tapi, buah pohon ini, keluar dari pagarnya,” cetusnya, yakin. Menunjuk tangkai pohon yang gemelatung melewati pagar pendek di bawahnya. “Dan apapun yang ada di jalan, adalah milik bersama.”

Sumardi tertegun mendengar jawaban itu, apabila semua yang ada di jalan adalah milik bersama dan bisa diakui sebagai ‘milikku’, maka keinginannya adalah memiliki Newati yang tidak ada di rumahnya, dan tidak akan membiarkannya keluar rumah, sebab tidak sudi orang lain selain dirinya mengakui kepemilikan tunggal itu.

“Hei, pejantan!” teriaknya lagi, dengan keras.

“Aku ini bukan ayam jago," sergahnya, seraya menghardik namun tidak berniat memarahi. “Saya juga punya nama.”

“Baiklah, siapa namamu?” tanyanya, yang jelas meninggalkan ekspresi merengut pada Sumardi, karena kecewa namanya tidak lantas berkesan dalam pertemuan pertamanya, yakni di tempat sampah yang dengan susah payahnya dia telah menolong, sekalipun barang yang dicari belum juga diketemukan.

“Tidaklah layak nama pemulung ini disebut oleh orang seperti kakak ini,” lalu bangkit dari dingklik yang didudukinya untuk menyemir. “Apalagi sampai perlu diingat.”

“Loh, emangnya aku seperti apa?”

“Bidadari.”

“Kalau gitu, kamu Jaka Tarubnya,” celetuknya. “Jadi tolong curi delima itu untukku Jaka Tarub!” peritahnya sambil menepuk-nepuk bahu Sumardi tiga kali, dengan suara dan senyuman yang manis nan bebal sekali. Hati Sumardi seperti akan meledak, tidak bisa menolak permintaan wanita yang senyumnya laksana tombak panjang dan tajam, yang secara membabi buta langsung menusuk jantungnya - tepat di tempat yang semakin membuatnya jatuh cinta.

“Saya bukan pencuri, kakak."

Lihat selengkapnya