Sumardi selalu menceritakan bagaimana mempesonanya Newati kepada saya, kepada manusia, kepada hewan, kepada tanaman, dan tidak terkecuali pada Tuhan di setiap pengharapannya yang menggebu, hingga pada asap-asap knalpot di petang hari saat cuaca sedang sendu-sendunya karena gerimis manis, diiringi derit rantai sepeda yang lupa diminyaki, ngik-ngik-ngik bunyinya waktu itu. "Gila bukan main laki-laki ini", pikir saya yang terpaksa membonceng dengan hati carut-marut akibat kebisingannya tentang wanita itu. Sudah cinta setengah mati bocah ini, seolah tiada hal yang bisa memisahkan mereka di dunia, jiwanya telah saling terkait-mengikat-sekaligus mengkungkungnya ke dalam belenggu tak terlihat. Malangnya, sebesar cinta yang tumbuh dari hatinya tersebut, sebesar itu pula lah halangan bagi mereka untuk memperkuat pengikatan.
Newati tidak akan pernah bisa dimilikinya; meski hanya tersirat dalam pikirnya semata, lantaran tidak tepat sekali wanita sejelita itu disandingkan dengan laki-laki amburadol yang luntang-lantung dan tidak jelas masa depannya. Sungguh, teramat cantik dan bijak budi pekertinya, rupawan hatinya pula, saya mengakui; maka sudah pasti dirinya tidak diciptakan untuk manusia yang badannya tidak pernah suci, yang berjalannya tidak pernah lurus, selalu nengleng ke samping atau berputar-putar sendiri mengitari nasib yang tidak pasti. Sumardi sendiri lah yang merasa rendah dirinya tidak layak untuk ketinggian perempuan itu; apalagi jika jiwanya tak lebih dari jiwa setan yang menjalankan ibadah sekedar sebagai jemaat penggila recehan dengan permohonan agar badannya digelimangi harta, maka tak ubahnya dirinya menyerupai kebusukan itu sendiri, sehingga alasan ini menjadi titik pertama yang paling membuatnya enggan untuk mengakui bahwa; dirinya layak memiliki Newati. Tapi sebagaimana cinta itu disemai, Newati rupanya mendambanya pria itu dengan binar pengharapan yang tidak terelakan. Dia mendatangi Sumardi tanpa kepamrihan dan senantiasa terus di sisi-nya tanpa alasan menohok atau pengharapan ingin dipuja-puja. Kendati demikian, Sumardi telah rela memuja Newati sebagaimana dirinya lebih penting ketimbang apapun jenis ketamakan di dunia fana ini.
Sayangnya Sumardi sudah terlalu buta akan perasaan yang berbalas itu, sebab dia hanya berpusat pada hati miliknya sendiri sehingga tidak pernah menyangka bahwa wanita sempurna ini menunggu kesanggupannya, kesediaannya dan keberaniannya untuk mengutarakan. Laki-laki yang sejak lahir telah terjerat putus asa akan kodrat yang tidak bisa diimbangi oleh kerja kerasnya, tidak mampu melihat bagai mana ketulusan seorang perempuan mulia terhadapnya, malahan saya yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan mereka - yang merupakan segelintir kecil manusia yang tidak sengaja tersangkut ke dalam cerita itu - menjadi pihak yang melihat cinta keduanya begitu tulus (namun dianggap sepihak semata), kian merasa geram untuk memaki-maki dan ingin segera menyatukan mereka dalam ikatan takdir sakral hingga tidak satupun mampu memisahkan, kecuali maut. Namun, bisakah?
Saya terus saja mengandai-andai; andaikata mereka berani untuk berujar sayang terlebih dahulu? Andaikata keduanya bersedia untuk mengungkapkan bagaimana kehendak hatinya pada satu sama lain? Tapi selalu diri ini dihinggapi rasa khawatir, apabila keikutsertaan saya yang tidak seharusnya mencampuri urusan hati orang lain, justru berakhir dengan menyengsarakan kedua insan tersebut. Saya takut apabila keserampangan saya terhadap mereka, justru membuat mereka menggorok leher sendiri, menyakiti diri mereka ke dalam luka yang tidak urung sembuh sekalipun waktu telah berjalan terlampau lama. Maka, cukup lah saya bersikap diam tanpa menggurui siapapun, menyaksikan tanpa mengatakan apa-apa, sampai mereka sendiri berperilaku sesuai keinginan mereka dengan berani dan bertanggung jawab. Lantas, tekad saya yang menggebu ini, justru dihadiahi dengan kenyataan bahwa manusia yang tengah dirajam pahitnya cinta itu, dipisahkan atas kehendak Tuhan yang maha esa. Siapakah yang bisa menentang ini?