Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #5

Recehan Koin

Koin kecil yang jatuh ke tanah dan injak oleh serampangan orang, merupakan gambaran harga diri Sumardi disebabkan oleh Newati. Meski sudah demikian sakitnya, hati tersebut dipaksa harus berinstropeksi bahwa takdir ini semata-mata karena ketidakbecusannya dalam membekali diri, sebagaimana kalayak laki-laki dapat dan mampu dianggap terpandang. Sebenarnya, tidaklah salah bilamana manusia dianggap tidak bisa hidup tanpa uang, hanya saja kelayakan untuk memiliki cinta kasih dengan makhluk Tuhan lain, tidak bisa dianggap serecehan itu apabila harus disandingkan dengan kelayakan materialistis. Saya bersungut, menyaksikan kepedihan kawan ini yang teramat baik budi pekertinya, namun dicampakan dengan terlalu bringas - sekalipun katanya laki-laki terbuat dari otot kawat dan tulang baja, hatinya tetap bisa bernanah apabila disakiti sedemikian hebatnya.

Sumardi mesikipun orang yang lapang dada dalam menerima nasib, dia tetap tidak sebajik itu dalam menerima penolakan cinta sekaligus pengkhianatan kepercayaan. Dia yakin, bahwa cinta dan hatinya itu tidak pernah sepihak, jelas Newati juga mencintainya, pun dengan kami yang merasa sama. Sayangnya, kelembekan pria itu membuat perempuan yang begitu berharga, menyerah dalam penantian yang tidak jelas akhirnya. Meski sungai bisa mengalir, meski ujungnya sudah berada di tanduk atau diubun-ubun kepala, jika tidak ada ketegasan yang bisa diucap oleh keduanya, maka aliran hubungan itu bisa dikatakan tidak ada. Begitilah kesimpulan kami, yang dengan secara tidak sengaja semakin memperkeruk pikiran si laki-laki - bahwa memang benar sekali, kepergian perempuan itu perihal karenanya.

Sementara, bagaimana cara Newati pergi, sudah menerangkan kejelasan yang amat rinci, bahwa apa yang selama ini ada dibayangan prianya mengenai cinta itu sebatas angan-angan belaka. Sumardi mendapati Newati tidak pernah mencintainya; inilah kenyataan pahit itu. Kelembutan dan perhatiannnya semata-mata karena nilai kemanusiaan dari orang bijak, yang tidak memandang masyarakat kalangan ekonomi bawah ke jurang, dengan sebelah mata. Kasih sayang itu, sebatas sopan-satun, tanpa sedikit harapan ingin memiliki dan kesungguhan dari seorang wanita kepada laki-lakinya. Meski sangat kecewa, sudah menjadi kebiasaan Sumardi menelan kepedihan yang disebabkan oleh manusia lain seperti ini. Sebatas rasa kecewa akan cinta, tubuhnya masih sanggup menahan, mungkin batinnya saja yang koyak, bagaimanapun sumur tidak akan bisa diselami tanpa terjebak dan cinta ibarat sumur itu sendiri, yang mendorong orang untuk masuk, tapi tidak mudah untuk naik kembali.

Sumardi tidak akan memohon pertolongan apapun, sebab baik orang lewat atau kenalan terdekatnya sudah terlampau sering menyakitinya. Ia bahkan heran, kanapa tatapan seseorang saja bisa semenusuk itu; bagai belati yang sengaja dilemparkan ke mata orang lain. Perih, tajam dan menyebabkan nanah. Semua orang dilingkungan ini tahu, kenapa Sumardi dianggap istimewa, namun hal itu tidak mengindahkannya untuk menjadi orang yang pantas dipuja. Keistimewaan itu laksana kesyirikan yang didasari atas dengki dan kasihan, sebab dirinya adalah yatim-piatu, yang tidak diketahui asal muasalnya. Bapaknya, Sutejo dan Ibunya Sumarti berkali-kali menerangkan bahwa Mardi adalah anak kandung mereka, yang diterimanya langsung dari Tuhan seolah itu berkat seperti yang Mariyam terima.

Tapi tidak mungkin anak yang jangkung, lahir dari orang tua yang keduanya mungil dengan tinggi rata-rata; tidak mungkin anak yang berkulit cerah-putih nan benderang meski sering tertutup kumal hingga menjadikannya dekil, lahir dari orang tua yang murni sawo matang; tidak mungkin mata sipit yang nyaris seperti bulan sabit ketika tersenyum atau tidak tersenyum, lahir dari orang tua yang matanya cekung dan besar. Penjelasan tentang mereka adalah orang tua kandung itu tidak mungkin diterima, namun kekukuhan keduanya tentang anaknya memang tidak bisa dibantah orang lain lagi. Sumardi adalah anak mereka dan selalu seperti itu,t ak perduli jika mata orang lainnya menganggap tidak. Mereka tidak akan mengganggap pikiran busuk itu mengusik.

Sementara bagi anak kecil yang masih penasaran pada apapun, mulai menerka sendiri kebenaran itu; dengan berani menanyakan asal muasalnya yang abu-abu. Malangnya, penasarannya bocah kecil ini menyakiti hati kedua orang tuanya, lantas ditolaklah dia mentah-mentah tanpa sanggup membantah. “Kamu itu pribumi, sama seperti bapak!” lengkingnya membawa setangkai pisau di tangan, matanya tajam dan perangainya mengancam. Anak manapun akan ketakutan melihat itu, dia terbirit dan bersembunyi seolah tidak pernah ada. Semenjak hari itu, bocah kecil itu tidak pernah bertanya lagi, ia menerima kenyataan dengan getir bahwa dirinya dilahirkan dan dibesarkan oleh mereka; namun tidak dipungkiri bahwa kemarahan yang membabi-buta kadang menimbulkan keculasan pada diri orang lain, yang mana dengan lapangnya ia membuat kesimpulan bahwa dirinya memang bukan pribumi dan bukan anak kandung bapak atau ibunya.

Di lain pihak, sebab kebrutalan bapaknya itu menanggapi omongan miring putranya; bisik-bisik yang semula menyakiti tidak lagi terasa sesakit itu. Ketiranannya yang ditunjukannya kepada orang lain merupakan bentuk obsesi Tejo pada putranya, Sumardi, lantaran tidak ada hal di dunia ini yang lebih berharga selain dirinya. Mardi tidak perlu berpikir tentang asal muasalnya, karena apapun bentuknya, anak Tejo adalah anak Tejo, tidak akan berkurang atau berubah sedikitpun. Bentuk cinta ini sangat besar, dan patut disyukuri oleh siapapun, dari sanalah Sumardi mengenyahkan pikiran mengenai anak kandung atau bukan, dan seterusnya. Ia pun membalas cinta kedua orang tuanya, dengan sama ganasnya pula. Tapi, kali ini dia terpaksa untuk menemukan kembali apa yang sudah dikuncinya dahulu; yakni asal muasal yang tabu itu. Meski, jika dia mencoba merenungkan hal itu dengan gegabah, manusia bisa saja terjerumus sendiri karena ketidak-tahuannya, terlebih perihal ketidakjelasan bagaimana kelahiran bocah itulah; menjadi salah satu alasan yang membawanya ke dalam kesengsaraan putus cinta. Ia menjadi berspekulasi bahwa kebenaran yang dia tahu adalah yang paling benar, lantaran emosi adalah benih dari kebodohan dan keculasan seseorang.

Sumardi yang merenungi setelah beberapa hari kesakitannya, tidak menemukan jawaban apapun. Tidak ada kelapangan yang membuatnya mampu menerima perlakuan sekeji ini. Maka pikiran-pikiran bejat tentang bapaknya, semakin membara hingga ke tulang-tulang bocah ini. Dia semakin hebat mengandai-andai; bilamana dirinya yang sebenarnya adalah sosok yang mampu bersanding dengan Newati, namun menjadi tidak sebab bapak melaratnya sekarang ini. Ia telah diculik sejak muda, hingga kesengsaraan ini adalah karma yang bukan salahnya tetapi harus diteima. Sumardi bahkan mulai menyelewengkan nilai-nilai kesakralan pernikahan, bahwa kedua mempelai yang mempermainkannya (yang menjurus pada Newati dan pasangan saat ini) adalah karena keterpaksaan. Newati telah diguna-guna hingga menerima pinangan laki-laki yang tidak dia cinta. Newati terpaksa bersama laki-laki itu, padahal hatinya milik Sumardi. Newati mencintai Sumardi, tapi terikat dengan laki-laki lain, maka sekarang ini dia pastilah membutuhkan pertolongan, dan kalimat-kalimat bejat lain mulai menggelayuti kepala bocah malang itu, hingga larut menjadi pagi, menjadi larut lagi, hingga kegilaan tersebut membuatnya benar-benar gila.

Sayangnya, tidak ada kebenarannya sama sekali. Newati tidak pernah terpaksa, atau dipaksa sedikit pun. Pilihan ini dia dasarkan atas perhitungan matematika, bahwa harta mampu mengalahkan cinta yang membara sekalipun. Manusia tidak bisa hidup tanpa uang, inilah fakta yang selalu ditanamkan kedua orang tuanya kepada gadis malang akan kejamnya dunia ini. Meski masih terlalu awal untuk Sumardi mampu menerima kepahitan ini, dia harus mengalami penolakan-penolakan yang bergejolak dalam dirinya, sampai hatinya menjadi lapang. Tapi proses yang semakin menggila dan tidak wajar itu membuat bapaknya geram. Ia mendobrak pintu kamar anaknya yang terbuat dari triplek tipis nan rentan, yang hanya sekali hentak, laksana seluruh rumah seakan runtuh bersamanya. Pak Tejo membawa sebilah clurit dan senantiasa mengancam anaknya dalam kegarangan yang tidak bijak. “Anak kurang ajar, keluar dari rumah ini.”

Sumardi tetap terdiam. Termenung dalam lamunannnya. Suara bapaknya yang menggelegar tidak didengar dalam kesakitan itu. Sampai teriakan kedua dilontarkan, Sumardi masih tidak bergeming. Lantas pada teriakkan ketiga, dan kepala Sutejo seolah mengeluarkan magma merah, kali ini sebilah clurit yang dipegang tangan kanannya terangkat. Ibu Sumardi histeris, menghalangi suaminya yang siap membunuh anak sendiri. Pergelutan ini berakhir sengit, dan Sumarti terhenyak, ia terjatuh dengan kepala yang membentur sudut meja; kemudian berteriak marah, baru lah beocah tersebut bergerak melihat ibunya tersayang kesakitan. “Kalian, kalau mau saling bunuh. Pergi dari sini!” pekik si Ibu, yang terkulai sambil memegang kepalanya.

Pak Tejo semakin naik pitam, tapi raut wajah yang berkerut menggambarkan jelas dirinya mencoba menahan. Urat-urat yang muncul di leher, kening dan pelipisnya semakin tebal, tatkala Sumardi mulai bicara, “Kalau saja aku bukan anak pemulung, tidak akan setragis ini nasibku.”

Lihat selengkapnya