Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #6

Burung Tak Hinggap

Dipanggilnya Mei, panjangnya Meyleen. Setiap laki-laki akan bersiul ketika melihatnya berjalan; bokongnya yang melenggok, badannya yang ramping, kulitnya yang mulus dan rambutnya yang tergerai panjang, merupakan lambang kecantikan yang mengundang iri semua wanita sebayanya. Dia bagai burung merpati, seolah terbang mencari pasangan, namun tak juga hinggap ke tangkai pohon kokoh di sekitar, sebab baginya; kakinya sendiri adalah kekokohan, sehingga tidak membutuhkan siapapun untuk menopangnya berjalan. Dia bertekad akan menjadi burung yang tidak mudah hinggap, sehingga mustahil untuk dimiliki sembarang orang.

Mey memiliki suara yang tegas dan kian menggelegar, guna meromantisasi mimpi-mimpi serta keteguhannya. Ia memiliki keinginan kuat untuk mandiri, namun nasib tidak semembela itu; wanita ini tidak memiliki pendukung agar dirinya bisa sekoyong-koyong meraih cita-cita, tidak pula memiliki pendorong yang membuat langkah terseretnya menjadi lebih ringan, maka angan itu malah menjelma beban berat untuk dipikulnya sendiri. Kendati demikian, jiwa tersebut tidak ringkih sampai semudah itu patah; sesuatu yang sudah dia niatkan sehidup-semati tidak akan gampang untuk diluluh-lantahkan sekalipun seluruh dunia ini mengutuknya; Mey telah sepenuhnya bersinergi dengan alam, menggantung nasibnya pada cinta kasih Tuhan dan mengepakan sayap bersama manusia lain, sehingga ia mampu untuk mencapai keberhasilan, kecuali dari orang-tuanya.

Dalam silsilah keluarga mereka, wanita kerap sekali dikesampingkan, keinginannya tidak digubris dan dianggap sepele; lantaran posisinya yang selalu berdiri di belakang laki-laki menjadikan mereka diketerbelakangkan. Mey sendiri mengalami, bagaimana keinginannya diabaikan dan dia dipaksa mengalah apabila secara kebetulan saudara laki-lakinya menginginkan hal yang sama dengannya; tentu tidak jadi persoalan berat, kecuali satu, yakni niatan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, maka wanita ini bersih-keras untuk tidak mengalah.

Dimulai lah pergulatan-pergulatan berat antara orang tuanya dengan Mey, yang disebabkan akan kekeras kepalaan mereka terhadap satu sama lain; adapun dimana anak perempuan tersayangnya, entah diracun oleh setan mana sehingga berpikiran sedemikian picik menganggap orang tua yang membesarkannya dengan sepenuh jiwa raga, memperlakukannya dengan pilih-pilih. Mereka hanya menganggap, bahwa benar wanita selalu berada dalam rengkuhan laki-laki semata-mata demi kepentingannya untuk melindungi, tubuh yang lembut dan mudah hancur itu tidak selayaknya diletakan sebagai ujung tombak, sehingga menolak dengan kekerasan yang sama terhadap pendirian anaknya mengenai sekolah lanjutan. Tidak pantaslah wanita terlalu serakah akan pendidikan, sebab keserakahan dan kekuatan merupakan bagian laki-laki, sementara wanita cukup menerima kebaikan perlindungan mereka.

"Lucu sekali," cetus Mey, yang merasa kadang kala dunia ini tidaklah adil, dan hal yang menjadikannya semakin tidak adil bahwasanya wanita sendirilah yang sering menjadikan sesama kaumnya menjadi makhluk tidak berdaya - yang hanya bisa menerima perlindungan - tanpa mencoba untuk merdeka. Kadang kala, wanita sendirilah yang menjadikan kedudukan wanita lain menjadi lebih rendah dengan memasang batasan-batasan yang tidak boleh dilewati. Mey merasa seolah didekte dengan doktrin-doktrin mengenai kewanitaan yang berisi tempat dimana kakinya boleh melangkah, yaitu dapur, kamar, dan di mana saja; yang apabila terus disebutkan justru menjadikan amarah wanita ini lebih membara.

Mey semakin keukeuh akan pendiriannya, dan menolak dengan mantap - sekalipun separuh dirinya harus merasa terombang-ambing dalam kecemburuan serta penghinaan; Apa salahnya ketika wanita ingin lebih mandiri? Mengapa itu dianggap salah? Pikirnya menatap tajam mata ibunya, yang tetap tidak menggubris tingkah nakal putrinya itu. Baginya dahulu, Mey merupakan bentuk kenakalan yang biasa terjadi, tanpa menyadari keabaian ini akan menjadi petaka pertama dalam hidup anak perempuan satu-satunya. Kegagalan anak dalam membujuk orang tua, meninggalkan kekecewaan sangat besar, lantas berkesimpulan bahwa tanpa mereka, May masih bisa sendiri. Maka, pergilah dia dari hadapan mereka bersama amarah yang tidak akan pernah padam.

Kala itu, tahun 1995, tekad wanita yang menggebu ini menjadi lebih tajam pengucapannya. "Aku akan ke perguruan tinggi, sehingga tidak ada orang yang bisa merendahkan kaumku.” dijadikan kata-kata pengharapan terakhir, yang mana tersirat keinginan untuk ditahan; sedangkan manusia tidak berubah sedemikian mudahnya. Lantas Meyleen pergi ke kota pesisir yang padat akan manusia, Jakarta. Ia berkerja sebagai penjaga toko, milik orang yang masih berkerabat jauh dengannya. Mereka paruh-baya yang ramah, akrab dan baik hati. Seorang penjual lilin, dupa dan guci kremasi, yang tahu benar bagaimana membesarkan seorang anak meski mereka tidak pernah memilikinya. Di tempat ini, di seberang jalan di antara dua tiang listrik usang, yang mana salah satunya telah berganti menjadi yang baru, Sutejo terkenal sebagai bocah yang selalu mengintip wanita rupawan itu dari baliknya. Itulah cintanya bocah yang tidak lagi ketulungan; orang memanggilnya, bebek malang, karena Meyleen jelas tidak menganggapnya dengan perasaan yang sama. Tapi mereka berteman, mereka berbicara laiknya seorang karip yang lebih dekat dari saudara. Wanita itu menceritakan bagaimana mimpi-mimpinya benderang, dan sinar ini menyilaukan Tejo yang sudah dirundung putus asa akan cintanya. Belum juga dia bertarung, tapi pungguk hanya bisa merindukan bulan. Bebek tidak bisa mengejar angsa, dan merpati yang tidak hinggap tidak akan menemukan tangkainya untuk berpijak.

“Aku akan menjadi Kartini.” ujarnya, suatu ketika Tejo menemai Meyleen menjaga tokonya. Di sela-sela itu, ia membaca buku, menulis yang tidak dimengertinya, dan mengulangnya bagai orang gila.

“Dari mana dapat buku itu?”

Lihat selengkapnya