Burung merpati saat terbang tidak akan hinggap tanpa pasangan, mereka akan bersiul bersama dan menjadi lambang perkawinan. Namun, tahayul itu hanya mitos yang menghantui perkarangan ini. Tidak ada kebenaran di dalamnya, dan Meyleen (yang dimaksud sebagai merpati itu sendiri) tetap terbang tanpa pasangan; ia tidak pernah hinggap. Mimpinya masih tinggi, harapannya masih besar, dia masih berjuang seperti 2 tahun lalu, tepat saat ia mulai menyambangi kota itu. Hanya saja, kini hatinya terjerat pada tangkai kering yang menyurutkan semangatnya. Jauh di dalam hatinya, ia telah putus asa. Batinnya lelah, sebab secerca harapan pun tidak membuka tabir takdirnya untuk menjadi lebih baik. Mulanya demikian. Tapi pertemuan demi pertemuan hangat antara dua manusia di mabuk asmara itu, lantas menjadikannya sekoyong-koyong memohon; asalkan cintanya tergapai, tidak mengapa jika mimpinya tidak. Sungguh, godaan yang maha dasyat ini telah merongrongnya menjadi manusia yang lupa akan cita-cita. Meyleen tidak lagi memperjuangkan sekolahnya, tidak belajar, tidak semangat, yang tampak seperti burung mati dalam sangkar. Hatinya merindukan kekasihnya yang didambanya itu setiap hari.
Tejo yang selama ini memperjuangkannya, hanya tampak angin lalu, di mana keberadaannya hanya sebatas pendengar untuk cinta-cintaan wanita itu saja. Malang benar nasibnya, namun si cantik tidak untuk si buruk rupa, dengan kenyataan pahit ini; ia selalu berusaha tegar. Si Tentara Muda adalah pasangan paling tepat untuk jelita di kota ini. Keberadaannya bagai putik dan benang sari, yang menyulam mahkotanya bersama-sama, sehingga membentuk bunga yang sempurna, indah, cantik dan menawan. Tidak ada yang menyangkal kedua pasangan ini, keromantisannya yang agung kian tersebar dari telinga ke telinga lain. Mereka terpukau iri akan pasangan dari jiwa muda yang disandingkan itu. Andai saja pasanganku secantik ini, kata laki-laki yang mendengarkan gosip keduanya. Kalau saja pasanganku seganteng Tentara itu, pun dengan perempuan-perempuan lain juga mengisyaratkan keirian yang sama. Maka dalam waktu sekejab, mereka menjadi sepasang merpati yang tak terpisahkan oleh apapun.
Sampai ketika, Meyleen menyadari bahwa cintanya tidak akan direstui, karena norma tidak akan mengijinkan persatuan mereka menjadi lebih dalam. Tidak perduli, seputus asa apa dia memohon, keduanya tidak untuk menjadi pasangan yang sempurna, sebab laki-laki itu sudah memiliki pasangannya sendiri. Kenyataan ini begitu menyakiti jiwa Meyleen bahwa dirinya tidak berbeda dari wanita simpanan yang mengumbar cintanya tanpa tahu malu ke wilayah sang Ratu. Begitu murah dan rendah, yang tidak berbeda dengan kotoran hewan. Busuk!
Tejo tentu sudah berkali-kali memperingatkan, karena tahu tabiat seperti apa yang pernah dimiliki oleh Tentara muda itu. Benar dia begitu rupawan. Benar dia begitu ramah. Benar parasnya sangat menggoda. Tapi, itu hanya luarnya, di dalamnya ada kebusukan yang lebih bau di banding keburukan milik setan. Hatinya burik, yang tidak bisa diobati. Sayangnya, Mey tidak mau tahu. Dia sudah dimabuk cinta hingga tidak menganggap sungguh-sungguh perkataan temannya. Cintanya masih sekokoh sedia kala, kemesrahannya semakin hangat, dan mereka semakin berani tampil di muka umum. Telah tebal muka keduanya dengan hinaan yang dibiaskan dengan pujian lembut itu.
Pada hari-hari yang terik, Meyleen menunggu kekasihnya datang ke toko kelontong miliknya. Seperti biasa, ia mencari susu untuk balita kesayangan yang baru beberapa bulan lahir. Pernikahannya juga masih semuda itu, sehingga menunggunya menduda sudah seperti kutukan yang dilemparkan oleh dukun jahat. Kecuali jika Mey, memang berniat untuk main santet; maka mengharapkan istrinya mati seawal itu, tampak bisa dimaklumi. Siapa tahu, bahwa wanita budiman pun bisa sebejat itu ketika berurusan dengan cinta?
“Ada susu bubuk, cici?” tanyanya, diakhiri sebutan yang syarat akan kemesraan dari laki-laki kepada perempuan. Sementara dia pasti tahu, bahwa tidak akan ada susu balita di tempat penjualan guci abu, namun tetap dicarinya di sana. Sebab, susu itu hanya dalih, dia hanya sekedar berkunjung untuk merayu, menemui kekasihnya, untuk memenuhi hasrat kerinduannya.
Mey menjawab dengan sama mesranya, bertutur lembut dan tersenyum dengan hangat. Mata mereka bertautan, seolah satu hari tidak bertemu, sudah seperti satu tahun. Naas sekali, perihal tekad, tidak ada yang bisa mengalahkan keteguhan Meyleen. Dia sudah bersikeukeuh untuk bergumul dalam kesengsaraan ini. Mey tidak pernah menyembunyikan keinginannya, dia selalu lugas dalam berkata dan tegas tentang mimpinya. Pertengkaran dia dengan orang tuanya yang berakhir pada pembangkangan, juga disebabkan karena keteguhan itu, bahwa Mey rela menolak pinangan dari laki-laki mapan demi mendapatkan hidup yang mandiri dan mengenyam pendidikan (awalnya demikian, namun kini telah meleset jauh dari tujuan itu, dan siap menuju lembah kehancuran), lantas pergi dari kenyamanan hidupnya di bawah naungan orang-tua. Mey sudah meramalkan bahwa kelak, wanita modern akan berbondong-bondong mununtut ilmu setinggi-tingginya, bahkan lebih tinggi dari langit yang biasa dia tatap saat menengadah, sehingga tidak ada satu pun orang akan mengecamnya atau meremehkannya. Awalnya, dia berjuang dengan sekeras tenaga, tapi dua tahun dalam keputus-asaan menjadiannya lemah. Terlebih, datangnya cinta yang tidak disangka ini, sepenuhnya menyesatkannya.
“Mey…” bisik pria itu dengan suara mendayu, yang sedang menyandarkan kepala di bahunya. Mereka bersembunyi di bawah rak tinggi tempat penyimpanan guci. “Namamu, cantik sekali.” lanjutnya, sementara mau dikata sesering apapun dan semanis apapun, nama Meyleen akan tetap seperti itu. Tentu saja, bisikan setan ini menggelayut di hatinya, sepenuhnya dia telah terjerat dalam kemabukan cinta itu. Wanita ini tersipu, dan tidak bisa lagi dipungkuri, segalanya akan dia berikan bahkan nyawa sendiri, pada laki-laki itu.
“Ayu sekali.” Bisiknya lagi, pemuda itu pada telinga wanitanya. Tangannya mulai menggapai, menyibak rambut Mey yang tergerai, lalu perlahan membelainya.