Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #8

Cinta yang Seperti Sumur

Mey setelah mengetahui dirinya tengah hamil, jatuh terkulai dan tak berdaya. Tergerus sudah badannya hingga menjalar ke sumsum-sumsum; ia begitu merasa berdosa, seolah nirwana menjauh dari matanya. "Neraka Jahanam, sudah melaknatku." ucapnya, menepuk-nepuk dada yang teramat pedih. Dia sandarkan tubuh lemah dan mungil itu pada pintu yang separuh terbuka; ia pandangi rembulan dengan teramat khidmat, bilamana Tuhan bersedia melihat pertobatannya, maka ia akan persembahan hidup dan hatinya sepenuhnya. Namun, mengapa seolah Tuhan tidak melihatnya? Mengapa Yang Maha Pengasih justru memberinya petaka yang lebih buruk dari kematian? Laksana pengliatanNya Yang Agung, tidak akan bisa ditipu oleh muslihat manusia dengan hatinya setipis kapas, Tuhan lah yang paling tahu bahwa manusia sangat mudah berpaling. Hati? Apabila hati itu memang masih ada, lantas mengapa aib tersebut dipeliharanya dengan begitu tidak tahu malu? Mey, merasa tersiksa oleh kemungkinan-kemungkinan yang mencambuk kepalanya saat ini. Jika memang dirinya berniat akan pertobatan itu, maka jabang bayi tersebut merupakan penolong untuk membawanya kembali ke surga, bukan malah sebaliknya. Tak patutlah seorang hamba, mempertanyakan kehendak Yang Maha Kuasa, sebab segala keinginanNya adalah kebaikan.

"Persetan, Mey!" cetus Sutejo, kawan yang lebih merana dibanding ibu dari anak haram - yang belum lahir itu atau mungkin tidak pernah diinginkan untuk lahir - memikirkan rencana untuk meleyapkannya tanpa jejak. "Kamu tidak bisa melahirkan jabang bayi itu!” lanjutnya, berteriak keras yang bisa menhancurkan telinga siapa saja. Namun itu masih lebih baik, ketimbang tangannya yang geram saat ini, bermaksud menyerang manusia.

Mendapati Mey dalam kondisi yang semengenaskan itu, jatung Tejo seolah diremas berkali-laki, diperasnya nurani yang membuat jantungnya tetap lapang, hingga kusut; nyaris tak berupa. Pria ini, sedari tadi telah menahan diri, jika tidak; sudah lari dia ke hadapan bajingan laknat yang menodai wanita suci di depannya. Dia ingin membunuh; pasti akan dia bunuh dengan cara paling mengenaskan, tidak cukup dengan sekali tusuk, tapi puluhan tusukan, atau dipisahkannya jantung dan batinnya menggunakan belati tajam, agar tidak utuh jiwa yang menghadap kehadirat Tuhan itu, sehingga ruh-nya tidak akan pernah menyentuh surga.

Pria biadab itu bukan hanya mencuri hati wanita yang dicintainya, melainkan juga telah mencuri kehidupnya, dengan meninggalkan benih pada perempuan yang bukan istrinya, seolah dia sedang menyuruhnya untuk mati saja. Karena jika wanita tersebut hilang bagai tertiup angin, maka kejahatan paling hina miliknya, akan ikut hilang bersama kematian itu; maka sampai kapanpun pria jahanam tersebut akan tetap menjadi orang shaleh.

"Aku harus melahirkannya, Jo"

"Dengan cara apa?"

Benar, dengan cara apa seorang wanita melahirkan anak sementara dirinya tidak memiliki suami untuk melindungi mereka dari carut marut perkataan orang (yang suatu hari akan menghardiknya nanti). Mengerti dengan jelas pertanyaan itu meski tidak dijelenterehkan sedemikian besar akibatnya, Mey seketika membisu, tangan dan kakinya berubah dingin, lalu menjalar ke jiwanya. Kenapa Tuhan tidak membunuhnya saja? Begitulah sanubarinya yang dipenuhi prasangka buruk memperkeruh pikirannya, lagi. Tekad tadi, seperti tidak pernah diucapkan.

 Pada kondisi yang biasa, gadis secerah dan sesemangat Mey, hanya akan menjawab bahwa melahirkan seorang bayi bisa dilakukan melalui bidan atau rumah sakit. Sederhana dan lugas, tanpa perlu memikirkan persoalan rumit. Namun, gadis ini tidak bisa menjawab pertanyaan yang berat dengan jawaban ringan seperti membalik telapak tangan. Melahirkan bayi, itu sebentar. Tapi 9 bulan yang harus dia tanggung dengan membawa-bawa perut besarnya ke masyarakat tanpa pendamping adalah perbuatan bejat - yang tidak mungkin diterima. Mey, tidak akan melaluinya dengan selamat.

"Jika bernar ingin kamu lahirkan, ayahnya .... Si bajingan itu, dia harus bertanggung jawab." cecar Tejo. Habis sudah kesabarannya, bahkan sejak masih belia, pemuda ini bukanlah makhluk pengertian yang bertutur lembut pada seseorang. Sesekali, telah ia lakukan pada Mey, namun kelembutan itu tidak bisa dilakukan dalam kondisi yang memprihatinkan begini. Terlebih, keras kepalanya wanita itu tidak mungkin luluh kecuali dipecah secara paksa. Harus ada yang lebih keras darinya, maka dia bisa menurut.

Lihat selengkapnya