Bulan silih berganti, maka perut yang membuncit milik Mey tidak bisa ditutup-tutupi dengan kalimat banyak makan lagi, sebab siapapun pasti tahu, bahwa makanan tidak akan membuat wanita memiliki perut sebesar itu, kecuali kehamilan. Jadilah mereka - orang-orang yang melihat dan selalu ingin tau sampai ikut campur urusan lain - menyimpulkan bahwa si cantik jelita ini tengah mengandung jabang bayi sehat, dalam usia lewat berbulan-bulan. Lantas, mereka begitu kegirangan mencaci maki di belakang mata sambil mencari pendukung untuk memperbesar masalahnya; sekalipun tenpa mereka, masalah ini sudah lebih dari besar. Omongan-omongan berikutnya semakin miring, yang apabila didengarkan terasa menggerus sanubari, bahkan untuk orang yang bukan dimaksudkan; apalagi bila orang yang dimaksud sendiri yang mendengarkan.
"Perempuan cantik, biasanya memang penggoda." cetus salah seorang, memulai komentar dengan menyinggung paras Meyleen.
"Bodoh kali, dia. Harusnya pilih yang masih bujang. Kenapa suami orang, diembat juga?" ucap yang lainnya, merujuk pada laki-laki atau diduga ayah dari jabang bayi itu.
"Apa suamiku aman ditinggal sendiri, ya?" cibir yang lain, menimpali dengan khidmat satu persatu makian yang dilemparkan kepada wanita itu, dan genab sudah citra agung dari wanita yang budiman menjadi wanita yang tercela. Mereka tiada henti-hentinya menghakimi perbuatan yang bahkan tidak pernah mereka tahu titik terang kebenarannya bagaimana. Dan sekalipun mereka tahu, apa mereka perduli? Sebab yang mereka butuhkan itu adalah objek cercaannya.
Kendati demikian kelirunya cecaran tersebut, perkara ini tetap disebabkan karena kesalahan Meyleen sendiri. Tidak ada yang membelanya; dia tidak layak dibela akan itu, dan hinaan ini sudah sepadan dengan norma yang dilanggarnya, padahal ia sudah tahu konsekuensi apa yang bakal diterima. Pun dirinya pasti sudah mempersiapkan , dan rela menanggung ini sejak memutuskan akan melahirkan jabang bayi tersebut. Akan tetapi, mata yang semakin hari menjadi lebih tajam; dan cibiran yang terus bertambah panas, tetap tidak mampu membuat batinnya menjadi kebal. Dia masih terluka, dan semakin parah setiap hari, seolah dapat membusuk sewaktu-waktu (atau malah sudah membusuk).
Wanita itu, punya mulut yang ringan saat berbicara. Mereka bisa teramat kompak dalam mengumbar aib orang bahkan tanpa perlu tahu kebenarannya - atau mungkin tidak ingin tahu - sebab hanya dengan berbicara saja, ada kepuasan yang memenuhi diri mereka. Ada kebanggaan ketika membicarakan kabar yang bisa membuat mereka diperhatikan atau didengarkan oang lain, sekalipun itu berakibat merusak bagi yang lainnya. Padahal, manusia di bumi hanya terdiri atas dua jenis, perempuan atau laki-laki. Maka atas dasar sesama gender tersebut, seharusnya wanita lah yang pertama kali maju untuk menjadi tameng bagi kemalangan wanita lain, lantaran hatinya sama-sama bisa merasakan kesengsaraan sebagai bentuk anugrah dari Tuhan yang disebut dengan kepekaan. Mereka sudah sepantasnya membela sesama kaum itu, menjadi satu dan mengayomi, sehingga kelemahan (dan ketidakberdayaan mereka) yang dikatakan sebagai kodrat tertutupi akan keutuhan serta kesatuan. Hanya saja, kadang; arti sesama tersebut sekedar dibentuk berdasarkan rupa, jiwa mereka tidak lah menyatu, mereka berdiri sendiri dengan keegoan masing-masing. Bukan dengan menjadi wanita maka seseorang bisa merasakan empati, namun nilai kemanusiaan lah yang membuat seseorang membela orang lain dan turut prihatin atas kemalangannya. Justru, sering kali, sosok wanita sendiri yang paling mampu merusak wanita lain dengan cibiran dan ketidakempatian mereka.