Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #10

MEI 1998

Mei adalah puncak kemalangan bagi Meyleen, kendati bulan ini merupakan bulan kelahirannya, maka genab sudah ia berusia 21 tahun, sekaligus bahwa bulan ini, juga dijadikan penanda bahwa sudah 3 tahun lamanya ia hidup mandiri, memimpikan diri untuk menjadi Kartini; demi menunjukan pada setiap orang yang menentang pendiriannya, bahwa wanita juga punya hak yang setara atas pendidikan, yang mampu bersanding dengan laki-laki dan bukan sekedar berdiri di belakang mereka - sebatas menunggu perlindungan. Selanjutnya, Mei akan menjadi bulan kelahiran bayinya, bulan kematian dan bulan pelarian untuk orang-orang yang mengalami nasib malang pada masa-masa kelam 98 itu.

Suatu hari, seorang bidan mengatakan agar Mey tinggal di tempatya saja - pondok persalinan yang dihuni oleh beberapa ibu hamil besar - setelah melihat bagaimana payahnya Mey membawa perut tersebut tanpa pendamping; namun Mey menolak. Dia hanya akan datang saat melahirkan saja, adapun penolakan ini bertujuan supaya orang lain dengan tidak berada terlalu lama di sekitar mereka sehingga merasa tidak nyaman. Sejak manusia mengetahu bagaimana kasak-kusuk kehamilan bocah itu, ia mulai menepi dan hidup dalam pengasingan yang dibuatnya sendiri, meskipun beberapa orang tampaknya tidak memiliki prasangka apapun terhadap Mey, tapi bukan berarti tidak punya sama sekali. Dirinya merasa takut jika goncangan pada bayinya, justru berasal dari orang yang dipercayainya terlalu dalam, lantaran perngkhianatan paling kejam berasa dari orang terdekat. Meyleen bertindak terlalu defensif dan senantiasa mewaspadai apa saja akar yang nantinya akan membuat dirinya kelabakan dengan kesangsaraan. Ia menjaga agar dirinya akan tetap kuat, baik batin, jiwa dan raga, agar mampu mendampingi anak satu-satunya tersebut hingga dewasa.

Tapi, tidak mulus juga perkiraannya. Pada tanggal 12 Mei, domonstasi besar-besaran melintasi pemukiman tempatnya tinggal, meski tidak sampai pada perkarangan mereka, dan tidak berdiri juga di depannya; mereka hanya lewat tanpa menyentuh apapun yang ada di sekitar, serta terus menerus berkoar-koar sumpah serapah yang terpatri sebagai kebajikan bersama dalam sanubari mereka. Mereka benar. Mereka pun salah. Hiruk-pikuk yang mengerikan lah yang menjadikan mereka terlihat salah, sebab membangunkan rasa takut bagi orang lain, dimana kegeraman yang ada di saku mereka seolah akan menjelma iblis untuk memulai baku hantam mematikan baik di mana saja maupun kapan saja.

Benar sekali, pada sore hari, selang beberapa jam semenjak domantrasi besar tersebut dimulai, kericuhan terjadi dan semua masyarakat berteriak getir. Tidak ada apapun yang terjadi pada orang-orang di sekitar Meyleen, dan meski kondisi telah mendamai, itu hanya terjadi sampai hal besar lainnya menghampiri. Seperti badai, dimana gerimis kecil bisa mengundang angin yang lebih ganas. Suara radio semakin ricuh dalam berkelakar, mereka menyuratkan kabar terkini di mana keramaian yang ada di dekat pemukiman itu, akan meledak sebentar lagi. Warga gemetar hebat, segala hal meski mulanya tampak seperti dibesar-besarkan, justru menjadi sebesar itulah perkaranya. Apapun yang mereka bicarakan, Mey hanya mampu mengepalkan tangan, keringat bercucuran deras pertanda bahwa badannya telah awas untuk serangan kesakitan berikutnya. Dia tidak mengerti, kenapa tidak ada kedamaian yang membuatnya bisa menikmati nafas tanpa merasa tersiksa?

Tubuh wanita itu ambruk, bersandar pada rak berbariskan guci-guci, lantas beberapanya oleng dan ambyar ke lantai. Suara pyar menusuk gendang telinga, membuat rasa melilit yang dahsyat pada perutnya. Pun dengan jantung yang terasa didera; sakitnya bukan main, sungguh, seolah seluruh tulang rusuk sedang dipatahkan sekaligus. Mey masih bersikeras menahan seorang diri, sepanjang hari, mengira bahwa kesakitan ini hanya hal biasa, dan bukan goncangan pada bayinya, tapi semakin bertambah menit, sakitnya makin merajam. Datanglah Tejo yang sudah berfirasat bahwa kondisi sekitar tidak lah biasa untuk didiamkan, sehingga membahayakan bagi wanita itu. Laki-laki pengecut yang kini menjadi jantan seketika, langsung mendobrak pintu dengan perkasa, suara brakkk terdengar melenting, menambah kesakitan pada diri Meyleen lantaran menjadi terlalu waspada dan mengira bahwa Tejo adalah manusia biadap yang hendak berbuat jahat keji kepadanya. Maka saat ia masuk dengan tergesa, dilihatnya wanita itu sedang memegang gagang sapu sebagai perlindungan diri, sambil terduduk di lantai, tanpa bisa menggunakan kaki untuk berdiri, Tejo tersentak dan langsung mengatakan maaf demi menenangkan. Namun di mata Meyleen tersirat rasa syukur, sebab kini orang yang paling dibutuhkannya ada di sini.

Waktu itu, dini hari, sebelum dimulainya tragedi lebih ganas di area itu. Tejo menyadari bahwa bayi di dalam perut Meyleen ingin melompat keluar seolah ikut kegirangan mendengarkan kegaduhan demi kegaduhan yang membuat ibunya menggigil ketakuan. “Bayi keparat.” gumam Tejo, seraya tidak bisa menahan lagi amarah yang mengarah pada biang keladi penderitaan wanita yang dicitainya itu, dan kebetulan dia justru makhluk yang paling tidak bisa disalahkan.

“Bukan salahnya Tejo.” sergah Meyleen, mendengar dengan begitu trenyuh sikap dan amarah Tejo menanggapi penderitaannya. Rasanya, untuk kali pertama keperdulian itu terasa jelas dan pedih di hatinya. Dia merasa sedikit penyesalan, mengapa bukan pria ini saja yang membuatnya jatuh cinta, melainkan pria keparat yang tidak tahu terima kasih sebab dirinya telah dicintai dengan begitu tulus; maka Mey pasti akan merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Namun kontan wanita itu menggelengkan kepala keras-keras, mengenyahkan pikiran laknat itu dari benaknya. Dia bertekad untuk tidak menambah kesengsaraan bagi Tejo dengan keberadaannya.

“Aku akan keluar memanggil bantuan.” kata pria baik hati itu, melihat kondisi Meyleen yang sudah di ujung tanduk; memang tinggal menunggu waktu lagi bayi itu bisa menghirup udara kacau di luar.

Meyleen mengangguk, menerima dengan lapang dada batuan tersebut, yang sejatinya Tejo selalu membantunya dan tidak pernah tidak. Kegaduhan di luar masih terdengar, dan semakin kacau setiap jam. Setelah pidato panjang, kemudian hening yang menggambarkan dimulainya kegaduhan lain yang lebih membahayakan semakin menggencarkan pikiran Meyleen. Sakitnya terasa membakar, perutnya seolah dipelintir dengan sekuat tenaga, tapi dirinya tidak kuasa untuk berteriak, bilamana suaranya justru memanggil kegemparan yang lebih trengginas, dan lebih membayakan bagi kedua insan ini; maka dia lebih memilih menggigit mulutnya sendiri.

Lihat selengkapnya