Lantas, bersamaan dengan hilangnya Tejo dari pandangan Meyleen, dobrakan pintu kian terdengar keras, mereka semakin gencar menyerang diselingi dengan makian dan sorak-sorak yang menyuarakan sumpah serapah hingga mengiris-iris pendengarnya; terasa lebih memekik. Mengapa ada manusia yang begitu bejatnya, hingga tidak berhati nurani melihat barang utuh agar tetap utuh tanpa menjadikannya cacat? Batin wanita malang ini, sembari berusaha keras menopang badannya untuk terduduk di lantai. Dia mencoba membuka pintu, yang sejatinya tidak dihalangi apapun, sebab telinganya sudah terlalu panas mendengar hiruk-pikuk yang tidak dia pahami untuk apalagi semua perbuatan itu, sementara mulanya berdalih untuk masa depan bangsa. Siapa gerangan yang mengubah kebaikan menjadi kebejatan dalam semalam ini? Fitnah kah, kesalah-pahaman kah, sandiwara kah, kemungkaran kah atau sebatas mereka berniat ingin menodai kebajikan? Kendati apapun alasannya, Mey hanya mengharapkan bahwa orang-orang terkasihnya bisa memandang matahari terbit esok pagi dengan sentosa.
Belum sempat ia mencapai pintu, jangankan bisa, tetap menjaga dirinya terduduk saja sudah kepayahan; pintu tersebut akhirnya terdobrak lebih dulu, tidak dengan cara mulus melainkan terlepas dari engsel dan jatuh dari kerangkanya, maka satu detik kemudian menghantam lantai dengan menimbulkan suara terbanting meski tidak kalah keras dengan suara ledakan mesin akibat sisa pembakaran kendaraan berbahan bakar solar atau bensin tidak jauh dari sana. “Ya Tuhan.” pekik Meyleen, meski tidak terdengar apapun selain rintihan dari dirinya.
Orang-orang bringasan yang kalap dengan kemarahan menjulurkan lidah tanda kepuasan karena telah menghapus halangan yang menahannya untuk menghancurkan rumah itu sedari tadi, meski tidak benar-benar ada yang mencegat pintu itu, kecuali kunci yang memang sengaja digerendel untuk mencegah orang luar memaksa masuk tanpa ijin. Mata mereka saling bertatapan, dan kontan langkah kaki yang berderap ganas mulai menghancurkan apapun di sana, termasuk guci-guci yang dijaga wanita ini sepenuh hati, namun tidak ada hal berharga lain, kecuali susu bubuk yang memang dengan sengaja disembunyikan untuk pujaan hati wanita itu dulu sekali, saat mereka masih kerap berjumpa diam-diam, yang mana sudah lewat masa kadaluarsanya, laiknya cinta mereka yang memang sudah tidak layak.
Haiissssss, gerutu mereka sesaat setelah tidak menemukan jarahan apapun, tampak kegeraman di benak mereka yang tidak disembunyikan sama sekali seraya berteriak-teriak menanyakan di mana Mey menyimpan harta miliknya, hingga salah seorang menyuarakan untuk menyeretnya keluar saja. Dia yang memiliki tangan kekar menjambak rambut wanita menyedihkan ini, yang sekarang tidak sempat untuk di tata, atau bahkan tidak lagi memikirkan penampilanannya; dengan sangat kasar serta menyakitkan ke arah pintu. Sontak, Mey merintih sembari menjejak-jejakan kaki, meski tidak membuahkan apa-apa kecuali tarikan itu menjadi lebih kuat dan sakit. Di luar pekarangan, wanita ini dibanting ke jalan setelah diseret sejauh 100 meter dan dihantamkan pada kendaraan yang sudah penyok, yang tidak bisa lagi bertambah penyok karena bentuknya terlampau tidak karuan. Mey merintih, merasakan sakit yang perlahan-lahan tidak bisa lagi dijelaskan ada di bagian mana saja rasa sakitnya itu menyerang, baik perut, kepala, kaki badan, seolah dia telah kehilangan semuanya. Kendati dirinya sudah diseret sejauh itu, Mey tidak langsung dibunuh atau dibakar hidup-hidup, melainkan hanya ditinggalkan begitu saja seolah dengan sengaja mempertontonkan kekacauan, api, teriakan histeris, darah, ketakutan, kepedihan dan kematian yang sedang melanda kota mereka kepadanya, sekalipun semua hal itu tidak menarik minat wanita tersebut; sebab ajalnya yang sudah di ubun-ubun membuatnya mampu untuk menahan diri akan nafsu dan ketamakan duniawi, seperti rasa takut dan simpati. Mei hanya perlu menunggu malaikat pencabut nyawa menghampirinya, menyebut namanya dan membawanya pergi, atau memang dia sudah melihatnya sembari menyeretnya keluar. Diakah pencabut nyawaku? batinnya yang disambut dengan kekecewaan, lantaran nyawanya masih bersemayam dalam tubuh, meski separuh kesadaran telah hilang.