Esok hari, pada saat pelaminan itu tiba waktunya, Newati bertekat mendatangi Sumardi. Ia berlari dan tidak akan berhenti, sebelum laki-laki itu menemuinya, memaafkan perihal kebohongannya yang enggan mengaku bahwa diri laki-laki itulah yang paling wanita ini inginkan. Kendati telah direnunginya berhari-hari, telah dimaknainya berkali-kali pilihan yang dikata orang bahkan orang tuanya; terbaik, rupanya tidak kunjung juga membuatnya bahagia. Dia justru merana, kecuali jika pernikahan yang didasarkan atas cinta mendapatkan Sumardi sebagai pasangan wanita itu, namun tidak – lah yang menjadi alasan mengapa ia melarikan diri. Sumardi adalah satu-satunya orang yang mencintainya tanpa kepamrihan, ia tidak memandang Newati sebagai sebab dan akibat yang terlalu rumit hingga sulit dijabarkan, hanya karena cinta adalah alasan pemuda bodoh itu memuja Newati, dan wanita tersebut justru terpikat karena kesederhanaan itu.
Salah Newati pula, sebab tidak bisa membuatnya yakin, meski ribuan halang rintang menghadang mereka, selama dengannya wanita itu akan tetap tegar dan senantiasa ada tanpa sekalipun niat meninggalkan, namun justru sebelum semua itu diyakinkan Newati pamit undur diri lebih dulu, maka dalam hatinya kini berkecamuk; mungkinkah Sumardi bersedia memaafkannya - sembari melepaskan helai-helai riasan pengantin yang kini memberatkannya. Perempuan ini telah nekat lari dari pernikahan yang sakral.
Sejatinya, hati perempuan itu semakin kalut. Padahal siap sudah acara besarnya hari ini, dia tinggal melangkah dan dalam hitungan jam, ia resmi menjadi istri laki-laki lain. Tapi itulah masalahnya, itulah persoalan terbesarnya, maka disetiap biji hiasan yang jatuh selalu terbesit kalimat, “Akankah Sumardi memaafkanku?”, dan helai kedua, “Akankah dia menerima ku kembali”, lalu helai ketiga itu, yang juga membuatnya merasa paling menderita hingga menitihkan air mata, “Bagaimana jika Sumardi tidak sudi menemuiku?” Kontras tekatnya menjadi runtuh, dan banjir air mata itu telah sepenuhnya merusak wajah rupawan yang sedemikian hingga dipoles menjadi lebih rupawan lagi. Maka, pengrusakan yang tidak disengaja tersebut, semakin membulatkan keinginan untuk terus berlari serta membenarkan perbuatan tercela ini. Newati tanpa melepas gaunnya, dan hiasan tersisa meninggalkan ruang tunggu untuk menemui kekasih hatinya itu; tanpa niat ingin berhenti.
Lantas, sekarang di sini lah dirinya, berdiri di rumah yang sunyi-senyap sebab kemarin telah dirundung huru-hara hebat antara anak dan bapak yang beradu pendapat tentang cinta, hingga nekat ingin saling bunuh. Kesunyian ini teramat ganjil, sampai-sampai disangka Newati, lelakinya telah tidak ada di dunia.“Mardi…. Mardi…. Mardi, sayangkuuu.” teriaknya, dengan terisak dan tidak didengarnya jawaban apapun dari dalam. Saat itu pukul 06.00 pagi hari, di mana biasanya pemuda itu sudah berangkat memungut sampah. Biasanya demikian, namun dalam kondisi yang telah patang arang lantaran dicampakan wanita tercintanya kemarin, tidak mungkinlah ia bangkit begitu cepat, terlebih hari ini adalah hari gadis itu akan diikat oleh pemuda lain, kecuali jika orang itu tidaklah penting baginya. Atau memang tidak sepenting itu?