Burung Tak Hinggap

Dina prayudha
Chapter #13

Pengakhiran

Mulanya, memang demikian, bahwa terungkapnya kelahiran Sumardi, adalah waktu yang tepat agar keduanya kembali bersama. Sayangnya, justru pertemuan mereka tidak dikehendaki oleh takdir. Meski telah merana sekali Newati terhadap pilihannya, dan memutuskan untuk mengakhiri itu (syukurnya) dengan lebih bijaksana. Dia tidak lantas memilih mati, kendati pernah terbesit pikiran dangkal tersebut di benaknya. Wanita ini hidup dalam kedamaian, dan memiliki wewenang atas dirinya berkat dorongan dan bantuan ibunya yang terpuji, wanita hebat yang begitu disanjung oleh putrinya; bahwasanya dirinya telah memperjuangan pilihan anak gadis itu di hadapan suaminya, meski harus mengancam (yang sejatinya jauh dari perbuatan terpuji) dengan gagah dan durjana.

Sementara Sumardi setelah mengetahui asal-usulnya memutuskan kembali ke tanah dia lahir. Kota yang terbakar bersamaan dengan tangisan pertamanya dulu. Ia tidak merasa tersanjung, atau terhina lantaran kelahiran itu tidak didasari atas cinta yang bersahaja, melainkan perbuatan tercela yang didorong atas nafsu semata. Itu pasti cinta? Meski pernah terbesit dalam benak itu, bahwa cinta bisa jadi memang ada di antara keduanya, sementara mereka terjebak di dalam waktu yang tidak tepat. Tetapi, gejolak yang ada di dadanya itu hanya dibangunkan sementara oleh perasaan dengki, karena ternyata tidak ada yang luar biasa di dalam dirinya, seperti yang sudah-sudah dia bayangkan.

Sumardi memutuskan pergi sehari setelah ia tahu kisah panjang tersebut, dan tepat sebelum pernikahan Newati; agar ia bisa segera lari dari tempat yang mencekik lehernya sendiri, sekaligus menuju tempat baru demi mengenal bagaimana keluarga aslinya hidup hingga saat ini. Ia pergi ke kota, tempat tulang belulang ibunya dicampur aduk dalam pemakanan massal, selepas kegaduhan tahun itu selesai. Niatnya, dia ingin mengambil kembali apa yang menjadi miliknya, satu-satunya peninggalan yang orang tuanya berikan, yaitu tubuh yang menopang bayi kerdil sendirian dalam kesengsaraannya. Itulah bagaimana cinta ibu bisa sebesar hidup dan mati dirinya, jika menyangkut soal anak.

Newati yang berusaha menemuinya esok hari, tepat di hari pernikahan tersebut, tentu saja mengalami kekecewaan. Orang tua angkatnya, Tejo dan Marti pun urung mengatakan di mana anak semata wayang mereka pergi. Baik Newati dan Sumardi, perpisahan keduanya adalah pilihan terbaik, sembari menyadari bahwa setiap keputusan menuntut tanggung jawab yang besar. Mereka masih sangat muda dan terlalu awam jika mengambil keputusan gegabah sehingga terpaksa mempertanggungjawabkannya dengan perasaan dangkal dan semena-mena saja; seperti kawin lari. Untungnya, muslihat yang buruk itu tidak berhasil membujuk mereka, tentu melalui campur tangan Tuhan yang diisyaratkan sebagai perpisahan.

Selepasnya, Newati pun masih harus bertanggung-jawab atas perbuatan yang sebelumnya dilakukan. Keputusan nan berani yang membuatnya meninggalkan pelaminan, justru menjadikannya seorang gadis yang disegani, lantas orang tidak akan seenaknya dalam memilikan keputusan tanpa menanyakan bagaimana keinginannya; tentu saja semua itu persis seperti yang dia harapkan. Newati dengan gagahnya menjadi mandiri, terlepas benar-atau tidaknya tindak tanduk tersebut. Orang-orang terlebih orang tuanya, tidak lagi meremehkan keengganannya, apalagi menganggapnya sebagai wanita kerdil yang harus menurut tanpa bertanya.

Lima tahun kemudian, Newati berjuang keras menjadi seorang designer sepatu, ia melanjutkan sekolah, memulai bisnis, dengan terus mengingat bagaimana terpukaunya dirinya atas kata-kata Sumardi, bahwa setiap jejak kehidupan memiliki ceritanya sendiri, memiliki kebanggaannya sendiri. Sepatu-sepatu itu adalah yang menemani jejak mereka, dan menggambarkan bagaimana orang-orang tersebut menjalani hidupnya; bahwasanya mereka yang sering berlari akan meninggalkan goresan paling kuat sebagai tanda bahwa kakinya juga sekuat itu dalam mengejar mimpi. Dia tidak pernah putus asa dalam menitih hidup sekuat kakinya menopang. Maka jadilah Newati yang dikenal sebagai orang mumpuni di setiap cerita-cerita sepatunya, sehingga tidak pernah lagi dipandang remeh oleh siapapun. Dan pada tahun ini, gadis belia yang jatuh cinta di usia 18, telah berusia 23 kini. Lantas entah bagaimana ceritanya, saat ia mengantar sebuah undangan bertuliskan nama Newati dan Sumardi kepada saya; membuat saya tertegun dan terkesima bukan main. Benar sekali, keduanya akan menikah seolah memang jalannya begitu.

Tidak ada satupun orang yang mendengar bagaimana Sumardi hidup setelah hari itu. Bahkan nyaris kedua orang tuanya kehilangan kabar anak mereka, dan menjadikannya sebagai orang yang telah kehilangan anak, yang tidak mungkin sekali ada sebutannya. Kemudian hari ini, saya mendapati keduanya menikah. Dalam upacara itu, selentingan demi selentingan tentang bocah-bocah nakal yang selalu bersahaja dalam cintanya, diperguncingkan oleh tamu-tamu yang menghadiri.

Konon, Sumardi mendatangi pasangan mulia yang menampung orang tuanya. Dahulu, mereka itu pembuat guci dan pemiliki toko yang memuat guci-guci kesayangnya sebagai pajangan. Setibanya mereka di rumah itu seusai mengungsi dan menghindar dari kekacauan; kaget bukan kepalang bahwa seluruh guci di rumahnya telah pecah, seolah sengaja untuk dipecahkan. Lantas, dicarilah Mey yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Tapi tidak pernah ditemukan, kecuali sepucuk surat untuk melepaskan dirinya tanpa perlu dicari; yang tentu saja disadari bahwa itu bukan tulisannya. Mereka pikir, Mey telah pergi dengan kekasih yang membuatnya hamil, dan hidup bahagia. Jadi tak sekalipun keduanya mencari setelah tahun itu.

Maka setelah kedatangan Sumardi, mereka akhirnya tahu bahwa Meyleen telah meninggal dan dimakamkan secara massal bersamaan dengan korban-korban meninggal pada Mei 1998 itu. Mey, dianggap sebagai salah satu wanita yang teraniaya dan tidak diketahui asal-muasal keluarganya karena ditemukan bersimbah-darah di tengah-tengah wilayah penjarahan. Salah seorang saksi, yang juga merupakan ayah dari bayinya adalah pengadu tersebut. Meski tidak salah juga perbuatannya, sebab dia memang tidak tahu latar belakang Mey, baik orang tua kandungnya atau kerabatnya, sementara yang dia tahu bahwa wanita ini telah mengandung anaknya, dan jika mengungkapkan hal tersebut, maka ia harus menanggung aib besar, sebagai penjahat dan tertuduh pembunuh. Jadilah dia mengajukan bahwa Mey adalah korban dari kerusuhan itu.

Lihat selengkapnya