Kala itu, saat malam teramat ricuh dan ketakutan menjadi pekat, hanya keheningan yang ada di telinga Mey. Dia sudah tidak sanggup merasa; sakit yang tiada tara sudah membuat separuh badannya mati, namun jiwanya masih hidup – yang sedang menunggu kehidupan kekal di depannya menghampir. Di detik-detik yang mencekam itu, ada suara ganjil menyelidiknya, seolah mengganggu, namun juga hangat – sebab tersirat ketakutan, kekhawatiran dan keramahan apabila wanita yang bahkan tidak dikenalnya ini mati. “Hah, mbak… mbak, kamu baik-baik saja?” suaranya terdengar panik, sembari menggoyang-goyang tubuh Mey ringan, andaikata goyangannya menjadi keras dan kasar pun, wanita yang terbaring lemah ini tidak akan merasa apa-apa.
Mey, tidak menjawab. Dia tidak mampu mengerahkan tenaganya untuk meredakan kekhawatiran suara itu, namun dengan keras hati ia tertawa; hehe.
Maka berhentilah orang asing tadi membuat kegaduhan yang memancing huru-hara ke tempat mereka. Melihat mey masih bisa merempos, meski tidak diketahui mengapa dia bisa tertawa – yang sejatinya hanya itu tenaga yang tertisa untuk memberitahunya bahwa dia masih hidup – Mey pasti lah sudah dianggap hilang akal oleh orang asing tersebut; tentu saja dengan kekacauan seperti ini siapa yang tidak akan gila?
“Mengapa anda tertawa, siatuasi ini sedang tidak lucu.” ujarnya keheranan. Wanita tadi kontan menarik Mey ke tepi jalan, agar tidak ada kendaraan yang mungkin menerjang mereka, sekalipun mustahil akan ada sepeda lewat di tempat ini, dan secara suka rela bersikap nekat menerjang hamparan lautan api, kecuali jika ia ingin cari mati.
“Saya terjebak di sini karena sehabis belanja.” celetuk orang asing itu, Mey yang samar-samar mendengarnya, dan samar-samar merasa bahwa dirinya telah diseret ke tepi jalan, dan kemudian disandarkan pada tiang listrik – dengan nafas terengah-engah, dia berkelakar – yang membuat nyawa Mey seolah kembali ke tubuhnya lantaran ingin sekali tertawa, yang justru membuatnya tersedak. Mey terbatuk, sampai membuat orang asing ini terkejut bukan kepalang menyaksikan orang sekarat di depannya terpingkal seperti orang gila. Wanita ini begitu takjub dan ingin melihat gerangan siapa yang berani bercanda di situasi seperti ini, tapi matanya sudah terlanjur buram. Tidak ada yang nampak darinya, selain cahaya silau seolah itulah satu-satunya penerangan yang menunjukan jalan kepadanya sebuah kehidupan abadi yang disebut akhirat. “Lalu di mana bel-an-ja-an-….” Mey ingin berceletuk juga kepadanya, menanyakan di mana dia meninggalkan belanjaannya, meski tidak bisa mengatakan dengan jelas, yang terdengar lebih parah dibanding bocah 3 tahun belajar berbicara.
“Maksud Anda, ada di mana belanjaan saya?” tanyanya, cepat tanggap. “Tentu saja saya buang, saya panik sekali melihat kegaduhan ini. Tiba-tiba saja suara tembakan mencecar mahasiswa, lalu orang-orang berhamburan ke seluruh penjuru, hingga pecah semua kaca pertokoan, rusak atap-atap mereka, dan terbakarnya orang-orang di jalanan, hingga sakit sekali hidung saya ini, sebab bau mayat mereka terlalu menyengat. Takut saya, sampai tidak melihat di mana belanjaan saya letakan. Mungkin menggelinding di tengah area itu, dan mereka mendangnya bagaikan pesepak bola handal. Tidak karuan sekali, sungguh. Mengerikan. Saya gemetaran setengah mati, dan berusaha bersembunyi di tempat-tempat yang bisa menutupi saya, namun ke manapun saya pergi, selalu saja ada petaka. Mereka tiada habisnya, entah siapa itu. Tega sekali. Bejat. Penuh kenistaan. Lalu, kenapa mbak tergeletak di tengah jalan?”