Newati adalah sosok perempuan yang berani,kelantangan suaranya selalu menggemparkan orang disekitar. Bahhwa kami yakin, tidak ada laki-laki yang melebihi kelakiannya. Dia sosok yang separuh dirinya juga dipenuhi ketamakan, tidak puas akan ilmu yang ada di kepalanya, lantas senantiasa belajar, dan mengarungi hal-hal baru yang digemari. Aku menyukainya, sebagai sosok yang memiliki kenakalan sama, meski tidak dengan belajar. Kami sama-sama memiliki hasrat terpendam dalam hal mengetahui tentang asal muasal dunia, memfilosofikan segala sesuatu dengan yakin, pura0pura bahkan setengah-setengah, karena sejatinya tidak ada yang tuntas dalam urusan dunia, kecuali kematian.
Kali ini, sosok yang dipanggi perempuan jelita itu sedang bergelut di kubangan sampah. Rumahnya memang ada disekitar sini, masih menetap dengan orang tua, dan sedang diajarkan hidup mandiri sambil bekerja lapangan. Tentu saja, kali ini dia tidak sedang beerja, dan tidak tega sekali hatiku yang teramat lembut serta budiman, memerintah perempuan semanis dirinya bergelut dengan kuman dan kotoran. Sekalipun jika telinga wanita itu mendengar kalimat barusan, setengah mati aku yang akan dikulitinya. Dia tidak suka dipandang sebagai sosok yang Cuma setengah, dijadikan pelenkap atau pemanis dalam organisasi. Baginya, laki-laki dan perempuan itu sama, memiliki harkat dan tabiat yang tidak perlu dibeda-bedakan. Dia hanya ingin disebut sebagai manusia, sebagai seseorang
Kerlingan tanda merayu selalu dibarengi dengan tangan yang menyibak rambut ke belakang telinga, dan semakin menjadi-jadi saja; ketika dia mulai menunjukan senyum malu-malu berserta mata yang kian menyipit membentuk bulan sabit sempurna, kemudian mencuri pandang pada sasaran yang menurutnya pantas untuk digaet. Perilaku ini senantiasa menimbulkan kesan molek (yang sukses) menumbuhkan hasrat ingin melindungi, mengayomi, hingga memiliki - yang tidak ada bedanya dengan godaan setan - bagi laki-laki yang tengah dibutakan hasrat duniawi. Lantas, ia seolah menunggu pujian dengan serta merta mengatakan bahwa dirinya adalah segalanya, sekaligus hidupnya, laiknya orang yang telah takhluk sepenuhnya akan kemolekan itu, dan begitulah jalinan kasih tersebut dinyatakan berhasil.
Tapi, kerlingan yang menandakan kelilipan selalu dibarengi dengan air mata, bukan karena terharu, atau kesakitan yang serupa tangisan bayi; juga bukan air mata yang menunjukan kelemahan, lantaran mata yang dirajam debu, sama sakitnya dengan dikhianati sahabat sendiri. Sekalipun pengkhianatan itu keji, menangisi kejahatan tetap tidak bisa dianggap lumrah, karena bumi bisa-bisa dibanjiri oleh air mata. Kita tahu, bahwa kejahatan manusia sudah terlampau banyak di permukaan panas ini, namun berbeda dengan laki-laki yang ada di sebelah saya; hatinya sungguh mulia, sikapnya pun budiman, namun matanya laksana kemarau panjang. Air matanya terlanjur kering untuk menangisi segala jenis kejahatan, bahkan debu sebesar biji kedelai pun tidak akan membuatnya menangis.
Sungguh kasihan sekali dirinya, sebab telah kehilangan nikmatnya kesakitan. Bagaimana pun, hidupnya jauh lebih berat di bandingkan debu-debu itu. Dulu sekali, pemuda ini teramat gampang menangis; cengeng kata saya. Rapuh dan tidak mencerminkan kejantanan. Segala hal yang melukainya akan ditangisi; segala macam debu, sentuhan, goresan, tidak sekalipun luput dari air matanya. Parah nian. Padahal apa bedanya ada air mata atau tidak ada air mata; nyatanya keduanya tidak akan membuat hidup jadi lebih mudah. Nasibnya tetap sama, takdirnya tidak berubah. Maka dia putuskan untuk tidak lagi menangis, sudah enggan meratapi sakit yang sebenarnya biasa-biasa saja.
Di antara para tukang semir sepatu, pria ini dikenal dengan rupanya yang agung – yang tidak seperti profesinya. Parasnya terlalu mulia, namun kesungguhan dan kesanggupannya akan pekerjaan melebihi para pejuang. Dia tidak menangis, tidak mengeluh pula. Di usianya yang masih 15 tahun dulu, merupakan awal keperihannya, padahal masih belia sekali, masih elok bermain-main, tapi dia harus dihadapkan dengan kenyataan yang pahit yaitu meninggalkan masa keemasannya untuk membanting tulang. Selanjutnya kegagalan demi kegagalan mengikutinya, sebab sudah demikianlah takdirnya. “Aku bersyukur, atas nikmat hari ini.” gumamnya, lirih - yang tidak diperuntukan untuk didengarkan oleh siapapun, lantas dia menghela nafas 4 ketukan; Ah, pedihnya.
Saya ini hanya seorang teman, pihak yang tidak pernah disebutkan namanya dalam cerita ini. Tapi saya tersentuh, menyaksikan tragedi-tragedi kecil yang sekiranya bisa dilupakan orang begitu mudah. Teman saya adalah pemuda yang tidak lagi menangis itu, yang diberi nama Sumardi. Terdengar kuno dan kampungan. Beberapa nama yang lahir pada tahun yang sama dengannya sudah mulai diberi irama meliuk-liuk, sedangkan dia; sederhana sekali ejaan namanya.
Seolah menunjukan bahwa memang sesederhana itu dirinya, pribadinya, maupun asal muasalnya. Pada 5 tahun yang lalu dari tahun 2023 ini, dia masih berusia 20 tahun, yang baru saja lulus sekolah menengah atas dengan nilai memuaskan, indah dan cemerlang; adapun terlambat 2 tahun sebab pada usianya ke 15 dia harus menunda sekolah lanjutannya untuk bekerja. Kendati demikian, dia tidaklah menyerah dan berhasil melanjutkannya setelah 2 tahun memeras keringat. Begitulah sebutan kebanggaan orang mulai ditempatkan kepadanya.
Dia adalah tokoh dari legenda laki-laki paling mujur yang masih mengalami kesialan bertubi-tubi; Si Burung Merpati Ulung. Makanan kesukaannya delima, yang tidak terlalu merah dan masih ada rasa masamnya. Sesungguhnya, anak muda ini tidak dari lahir menyukai buah itu, semua bermula dari wanita yang berkeling padanya, sedang dia tidak melanjutkan mengibas rambut ke belakang - yang jelas dimengerti semua orang bahwa dirinya sedang tidak dirayu, namun kentara sekali bahwa dirinya telah terayu secara tidak sengaja. Dia berkeling karena kelilipan, namun pemuda itu meneteskan air mata. Dia berlinang, yang sontak membuat saya ikut menangis haru. Sudah 5 tahun mengenalnya, dan dia tidak pernah menangis lagi, sekalipun klub sepak bola dukunganya kalah dalam pertandingan.
Saya tidak mengerti apa yang membuatnya begitu trenyuh memandangi wanita yang sedang mengorek tempat sampah, mengucek matanya yang kelilipan, sampai-sampai payah sekali wujudnya, sehingga membuat laki-laki yang memandangnya ngemu ilu1. Tapi, yang saya tahu pasti bahwa laki-laki ini hanya merasa telah menemukan pasangannya; mungkin.
“Gerangan apa yang dicari nona muda ini di tempat sisa-sisa makanan?” sergah saya, mendekatinya dengan sangat pelan, yang tentu saja disadari kedatangannya. Tak sekalipun niat saya ingin mengejutkan seseorang dengan menambah kemalangannya.