Bus Maut

Ariny Nurul haq
Chapter #1

Babak I: Saksi Mata. Chapter I

“Pagi, Genk. Sekarang subuh-subuh gue lagi ada di Bandara Syamsuddin Noer Banjarmasin,” ujar Arina di layar Iphone-nya. Dia mengarahkan tripod ke Bapak-bapak kepala desa. “Kali ini perginya bersama rombongan Kepala Desa Martapura Timur menghadiri acara Rapat UU Desa di Istana Senayan Jakarta. Nggak cuma rombongan Kepala Desa Martapura Timur sih yang hadir ke acara, seluruh Indonesia. Rombongan 1 ada tiga puluh orang. Kebagian jatah berangkat jam pagi. Penerbangan pertama. Ikuti terus perjalanan kami ya.”

Klik. Arina mematikan tombol video. Lalu, dia dapat giliran check in. Lalu, dia mengangkat koper besar berwarna biru muda untuk dibagasikan. 

Arina adalah anak Kepala Desa Keramat Baru, Agus Junaedi. Dia juga sebagai aparat desa bagian dokumentasi saat acara desa. Di sosial media, dirinya bisa disebut Selebgram karena memiliki followers 120 ribu. Konten-kontennya yang kerap membagikan kegiatan sang ayah dalam hal berbagi ke semua warga desa. Tentu saja menuai pujian dari warganet. 

Berkat konten Arina, citra kepala desa yang selama ini rusak perlahan membaik.

“Ternyata masih ada loh kepala desa yang adil, jujur, baik dan peduli sama warganya.”

Begitulah rata-rata isi komentar Instagram Arina.

Selain Arina dan abahnya, rombongan dari Keramat Baru ada tiga orang lagi: Hasbi sebagai sekretaris keuangan desa, Aida notabennya sebagai mamanya Arina dan juga Maya, mereka sama-sama posisi ketua BPD.

Tujuan mereka ke Jakarta bukan semata-mata menghadiri acara desa saja. Sekalian jalan-jalan dan menemui Tante yang ada di Cipinang. Pulangnya tanggal 17 Juni 2024.

Usai melakukan check in, Arina menggendong kembali ransel yang berisi makanan, minuman, laptop, changer dan alat make up. Arina dan keluarganya kaum mendang-mending, memilih bawa makanan serta minuman dari rumah daripada beli di bandara apalagi pesawat. Mahal. Dia kemudian mengikuti langkah rombongan lain menuju ruang tunggu. 

Pandangannya tertuju layar komputer yang menuliskan jadwal keberangkatan Pesawat Citilink tujuan Jakarta pukul 06.00. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 05.00. Satu jam lagi. Dia merasa masih sempat ke toilet dulu. 

“Ma, aku ke toilet dulu ya. Jagain tasku,” ucapnya izin ke mamanya. 

Ternyata begitu keluar dari toilet, mamanya sudah menunggu depan toilet dan memberitahukan kalau harus segera masuk ke pesawat. Arina bernanapas lega. Setidaknya kali ini tidak terlalu lama menunggu di bandara.

Arina berjalan terburu-buru menuju memasuki pesawat karena memang waktunya mepet. 

“Selamat datang di Citilink. Boleh ditunjukan nomor tempat duduknya?” tanya pramugari dengan senyum mempesona.

Arina membuka kembali tiket digital yang dikirimkan abahnya. “5F, Mbak.”

Mbak pramugari menunjukkan tempat duduk Arina. “Terima kasih, Mbak.”

Dia duduk sebelahan sama Mama dan Maya. Cuma tempat duduknya paling pinggir. “Ma, aku duduk dekat jendela aja ya.”

Tujuannya ya agar Arina gampang merekam video dari atas langit terlihat awan-awan melalui jendela pesawat. Namun, nyatanya begitu dia menyandarkan kepala di dinding pesawat, dirinya sudah mengantuk. Kata orang-orang di sekitarnya, Arina pelor. Nempel dikit langsung molor. Alhasil, dia ketiduran sampai pesawat tiba di Bandara Soekarno Hatta.

***

Pukul 08.00.

“Pesawat Citilink telah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Tetap duduk di posisi Anda sampai pesawat mendarat dengan sempurna,” ujar pramugara. 

Arina tidak memperhatikan ucapan pramugara berikutnya. Dia malah sibuk memvideo dari arah jendela pesawat. 

“Genk … sekarang lagi siap-siap landing nih. Deg-degan banget loh.”

Pesawat mendarat dengan sempurna. Satu per satu antri turun. Arina beserta keluarganya sengaja menunggu karena ingin belakangan turun biar tidak berdesakan. 

Ketika sudah longgar, baru dia ikutan turun. Sebelum turun, dia minta izin berswafoto dengan pramugari terlebih dahulu. 

“Makasih, Mbak,” ucap Arina ramah ke pramugari. 

Dia berjalan keluar dari pesawat mengikuti keluarganya. Dia berjalan sambil ngevlog. 

“Genk, kami sudah tiba di Jakarta loh. Ini menuju tempat pengambilan barang bagasi. Ternyata Bandara Soekarno Hatta makin keren aja. Terakhir ke sini tahun 2018 rasanya. Wih, pangling. Udah 6 tahun.” Arina terus berbicara di layar Iphonenya.

Tidak terasa telah sampai di pengambilan barang bawaan. Agak lama menunggu koper dirinya beserta keluarga muncul. Gara-gara hal ini mereka terpisah dari rombongan kepala desa yang lain. 

Abah Arina panik dan langsung menelepon Kaspul Anwar, Kepala Desa Kampung Melayu yang ditunjuk jadi ketua rombongan kami.

Kami berjalan menuju pintu keluar. Sama sekali tidak terlihat rombongan kepala desa yang lain.

“Oiii … Kas. Kamu dan rombongan yang lain di mana?”

Lihat selengkapnya