Di titik pasrah Arina, muncul sebuah cahaya. Pintu bus terbuka dari luar. Dia langsung bangkit, menggendong ransel dan bawa tas tangan untuk ikut berdesakan turun bus.
Setelah berhasil keluar bus, Arina tanpa pikir panjang lari sejauh mungkin, menghindari aroma asap.
Hosh … hosh… hosh.
Arina berhenti sejenak mengatur napas. Lega luar biasa akhirnya menghirup udara segar. Dia tengok ke belakang, api bus membesar dan pelan-pelan membakar seluruh bus. Arina merekam video bus terbakar tersebut.
“Hai, Genk. Baru aja sampai di Jakarta disambut kesialan. Berawal dari ban bocor, lalu muncul asap dan api. Tadi gue nyaris aja mati gara-gara pintu bus nggak bisa dibuka. Untungnya ada yang bukain dari luar. Alhamdulillah, masih selamat dari maut.” Dia unggah ke Instagramnya tanpa disunting terlebih dahulu.
Hanya dalam sekejap, banjir like dan komen. Bahkan banyak yang chat menanyakan kabarnya. Arina kewalahan balas satu per satu.
Polisi, ambulance, pemadam dan wartawan berdatangan.
“Koper kita kurang satu. Mana? Punya Arina yang nggak ada,” ujar Mama panik.
Arina baru menyadari hal itu. Isi koper hanya pakaian dan peralatan mandi. Terbayang selama di Jakarta bakal banyak pengeluaran karena beli baju pengganti. Namun, sejenak dia tidak memikirkannya. Yang penting nyawa berhasil selamat.
Abah kembali mendekati bus karena di dekat sana banyak barang bawaan penumpang yang berhasil diselamatkan dari bagasi bus. Arina menunggu di tepi tol. Terik matahari menyengat seolah tepat di kepalanya. Dia menurunkan tas ransel. Lalu, membukanya dan mengambil minuman.
“Pembakal Kaspul!” Arina mendengar teriakan kepala desa yang lain di dekat bus. Arina jadi penasaran dan kembali mendekati bus. Dia menemukan kopernya.
Ternyata Kepala Desa Kaspul Anwar masuk lagi ke bus untuk menyelamatkan tas ransel yang berisi uang 5 juta sisa uang PNS ketiga belas. Naas, justru beliau yang tidak terselamatkan karena api semakin membesar. Kami semua shock.
Banyak polisi menghampiri kami. “Sopirnya mana?”
Kami celingak-celinguk.
“Kabur duluan!” celetuk salah satu kepala desa yang lain.
Di saat seperti ini bisa-bisanya melarikan diri. Dasar sopir tak bertanggung jawab, keluh Arina dalam hati.
Polisi mulai mengintrogasi penumpang bus. Termasuk Arina.
“Mbak, namanya siapa?”
“Arina.”
“Mbak dari mana? Tujuan Mbak ke Jakarta untuk apa?”
“Kalimantan Selatan. Tujuan saya beserta kepala desa yang lain untuk menghadiri rapat undang-undang desa di GBK.”
“Mbak, bisa diceritakan awal mula kejadian sampai bus terbakar?”
Arina menceritakan semuanya. Dari berputar-putar di sekitar bandara, semua turun dari bus untuk makan, berganti bus, pecah ban dan keluar asap.
“Mbak sempat melihat sopirnya? Atau Mbak melihat sesuatu mencurigakan saat berhenti di tempat makan?”
Arina ingat di pemberhentian saat makan, dia sempat merekam video di sekeliling. Buru-buru Arina mengeluarkan ponsel. Lalu, menyetel kembali video rekamannya. Benar saja, sopir terekam di videonya. Sopir itu sedang berbicara dengan seseorang.
“Nah, ini Pak sopir, tapi nggak tau sih dia berbicara sama siapa. Sedangkan, sopir bus merah saya nggak sempet liat mukanya soalnya posisi saya duduk paling belakang. Tadi di pemberhentian tempat makan, saya sempat merekam video.” Arina menunjukkan rekaman videonya ke polisi.
“Boleh kirim ke saya videonya?”
“Boleh, Pak. Tolong masukkan nomor Whatsapp, Bapak.” Arina menyerahkan ponselnya ke polisi agar polisi mengetik nomor Whatsappnya.
Arina bisa melihat nama yang polisi itu ketik “Dimas” Usai tersimpan, polisi mengembalikan ponsel Arina. Arina buka Whatsapp dan mencari nama Dimas. Muncul foto Pak Polisi. Langsung saja dia mengirim video tersebut.
“Sudah saja kirim, Pak.”