Telepon Arina berdering. Tertulis ‘Abah memanggil’
“Iya, halo. Kenapa, Bah?”
“Tolong pesankan Gojek. Ni mau ke rumah Iyah nah. Lokasi di Hotel Kaisar Jakarta Selatan. Unda kadada bisi aplikasinya.”
“Lah, itu ada Hasbi. Minta pesankan sama dia aja.”
“Oh ya udah. Padahi mamanya buat siap-siap. Jadi pas datang langsung berangkat.”
Telepon dimatikan. Arina browsing tentang Hotel Kaisar. Terletak di Jakarta Selatan. Jarak dari sana ke rumah Tante Iyah sekitar lima belas menit.
“Ma, Abah otw ke sini. Siap-siap katanya. Begitu Abah sampai, kita langsung berangkat ke hotel.”
“Oke.”
Mama kembali packing koper karena tadi sempat buka koper buat ambil kue yang dikasih ke Tante Iyah.
Pukul 16.00 abah Arina sudah sampai di rumah Tante Iyah. Abahnya disuguhi minum dulu.
“Terus tadi gimana urusannya sama polisi pasca kami pulang duluan?” tanya mama Arina bertanya pada abahnya.
“Nggak diapa-apain. Kami cuma diminta tanda tangan dokumen bahwa kami dilarang pulang dulu sebelum kasus ada titik terangnya. Bisa saja sewaktu-waktu dimintai keterangan lagi. Setengah jam kemudian, bus jemputan baru datang,” jelas abah Arina secara rinci.
“Terus Pembakal Ikas gimana kelanjutannya?”
“Sekarang lagi dibawa ke rumah sakit kepolisian. Menunggu kehadiran keluarga yang lain datang untuk persetujuan autopsi.”
“Ada kerugian lain yang dialami kepala desa yang lain?” Kali ini Om Nawi, suami Tante Iyah yang bersuara.
“Ada dua tas ransel pembakal lain yang hangus. Untung cuma baju-baju aja.”
Arina mendengarkan percakapan orang tuanya sambil balas pesan-pesan yang masuk ke Whatsapp dan Instagram.
Abah Arina melirik ke jam dinding. “Sudah hampir jam lima sore. Ya udah, kita berangkat ke hotel sekarang aja yuk.”
Arina dan keluarganya pamitan dulu ke Tante Iyah. Habis acara ke sini lagi.
***
Arina sudah di hotel Kaisar Jakarta Selatan tempat para kepala desa menginap jam lima sore.
Hotelnya sendiri cukup mewah bagi Arina yang jarang menginap di hotel. Di kamar tidurnya ada bed ukuran besar karena harus tidur bertiga sama mamanya dan Maya. Di kamar mandi ada bathup dan shower. Per malam lima ratus ribu.
Arina merebahkan diri di kasur besar. Rasanya enak banget. Semua lelah hari ini langsung rontok.
Arina meraba kasur untuk meraih ponsel di dalam tasnya. Begitu sudah dipegang, Arina mulai kembali membaca pesan yang masuk. Jam segini masih banyak yang membalas story Whatsapp dan Intagramnya. Sampai kesemutan balas satu per satu.
Ting!
Muncul pesan Ari Keling.
Ari Keling
Arina, kamu di mana? Aku nanti malam mau jalan ke sekitaran Jaksel. Mau ketemuan malam ini juga?
Arina terdiam memikirkan enaknya bertemu dengan Ari Keling di mana? Pasalnya walau sudah beberapa kali ke Jakarta, tapi dia tetap buta sama tempat-tempat di sini. Setelah beberapa detik berpikir, dia memutuskan untuk bertemu di lobi hotel ini saja.
Arina
Pas banget. Aku juga lagi nginep di Jaksel. Hotel Kaisar. Oke, kita ketemuan tar malam dan samperin ke hotelku ya.