but, i will miss you

Da.me
Chapter #4

Irisan Keempat | ruang atlas

Irisan Keempat

ruang atlas

═════════════════

     Baru setelah sang baskara menyentuh indranya, Detik dibuat terbangun. Ia langsung tersadar di detik pertamanya kalau menghadiri upacara pelantikan sudah tidak lagi memungkinkan. Persetan pula. 

     Kedua matanya menyipit sambil mengangkat kepalanya. Selimut yang tidak perlu dipertanyakan asal mulanya terjatuh dari bahu Detik saat ia meregangkan kedua tangannya. Tidur di atas meja kerjanya selalu buat leher, bahu, dan pipinya kaku, apalagi pipi sebelah kanan yang jadi tumpuan.

     Habisnya mau bagaimana lagi? Yang bisa Zaman lakukan cuma sebatas mengambilkan selimut, lalu menaruhnya dengan telaten di atas bahu Detik. Ia belum punya hak untuk menggendongnya ke atas kasur di kamar sang puan. Bisa-bisa selanjutnya Zaman dapat tindakan disipliner karena tertangkap kamera pengawas, diduga sedang melakukan hal yang tidak-tidak terhadap anak gadis orang.

     Setelah sempurna sadar, Detik melarikan tatapannya pada arloji yang melingkar di tangannya, tepat pukul sembilan. Kalau sudah begini, Detik jadi tidak punya alasan 'kan untuk batal melancarkan simulasi bunuh dirinya di Ruang Atlas?

     Setelah buru-buru merapikan diri menurut versinya—menggosok gigi, menggelung asal rambut bergelombangnya, dan memakai mantel pertama yang ia lihat di lemarinya—Detik melancarkan rencananya untuk menyusup ke Ruang Atlas, ruangan virtual reality seluas setengah lapangan sepakbola kebanggaannya asosiasi. 

     Sebenarnya, kurang tepat juga kalau disebut virtual, karena semua yang dilihat di sana sama sekali tidak maya, sepenuhnya nyata dan sedang terjadi. Cukup masukkan koordinat ruang dan waktu, Ruang Atlas akan membawamu ke sana dalam satu menit.

     Detik bisa saja bermain pasir merah muda di Bahama yang mungkin sedang dihujani salju putih sekarang. Mungkin pantai sedang sepi, cocok untuk makhluk anti-sosial yang benci tempat ramai macam dirinya. Lagipula, siapa juga yang mau main-main dengan ombak di tengah angin musim semi putih begitu?

     Semua yang ada di sana betulan nyata, kecuali keberadaan dirinya sendiri. Pantai Merah Muda di Bahama, atau ujung Palung Mariana pun bisa-bisa saja Detik bawa ke Ruang Atlas. Tapi, bukan berarti Detik sudah membawa dirinya ke sana. Yah, sebenarnya, sekali saja, andaikan diizinkan, ia ingin keluar dari dinding menjulangnya asosiasi, menjamah tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, menapakkan kakinya di atas pasir merah muda yang sebenarnya.

     Namun, Pantai Merah Muda di Bahama bukan destinasinya hari ini. Ia sudah bosan setengah mati dibohong-bohongi teknologi begitu. Ia ingin sesuatu yang berbeda kali ini, yang lebih menantang. Seperti judulnya, simulasi bunuh diri yang hendak ia lakukan ini memang betulan 'simulasi bunuh diri'

      Ah, tujuannya melakukan simulasi begitu bukannya untuk menyiapkan mentalnya sebelum menghadapi bunuh diri yang sebenarnya. Kalau soal mental, jangan ditanya lagi, Detik sudah pernah lakukan yang betulannya. Ia pernah terjun bebas dari lantai seratus dua puluh tujuhnya gedung Departemen Agrikultur berbulan-bulan lalu

Lihat selengkapnya