"Lyra! Lo ngapain bilang kayak gitu?!" tanya Aluna setengah berteriak.
"Emang lo gak suka sama Dipta?" tanya Lyra.
"Siapa yang bilang kalo gue suka?" tanya Aluna.
"Mata lo—menjelaskan semuanya soal rasa lo ke Dipta," jelas Lyra.
"Enggak ya, anjir! Ah, lo apaan deh nanti gue makin canggung kalo ketemu dia," ucap Aluna.
"Nah, itu salah satu ciri lo suka, Aluna. Kalo lo emang gak suka kenapa harus canggung?" tanya Lyra, lalu ia kembali berkata, "Udah lah ... siapa tau dia jadi cinta pertama lo di sekolah ini. Biar selalu ada rasa semangat ketika lo berangkat ke sekolah, Luna."
Aluna terdiam sejenak di dalam hatinya ia berkata—
'Apa bisa bikin gue lupa Arsean?'
♡♡♡
Ting!
Vanya: Lun, lo mau ekskul hari ini?
Aluna: Ayo kalo lo mau
Vanya: Ya udah nanti bareng ya, bareng Recca juga
Aluna: Loh, dia gabung club music juga?
Vanya: Iya katanya, baru hari ini dia gabung
Sesuai janji, Aluna dan Vanya pergi bersama ke sekolah untuk ekskul. Jika belajar hanya diperbolehkan di rumah, untungnya untuk kegiatan ekstrakulikuler diperbolehkan di sekolah dengan waktu yang terbatas, hanya 20 menit saja.
"Lo ada hubungan apa sama Arsean? Gue simak-simak di grup akrab banget—terus ada romantis-romantisnya juga," tanya Vanya.
"Mm ... masih tanpa status sih, kalo soal akrab gue emang udah kenal dia dari SMP," jawab Aluna.
"Kok bisa dari SMP?" tanya Vanya.
"Dia temennya Larisa," sahut Aluna.
"Oalah ... gue kira dia sekolah di SMP yang sama, sama kita," ucap Vanya.
Mereka berdua lanjut mengobrol sambil menyusuri jalanan menuju sekolah. Jadi dari halteu bus untuk masuk ke area sekolah bisa dibilang cukup jauh. Karena sekolahnya berada di perumahan warga.
"Aluna," panggil Arsean.
"Hai!" sapa Aluna seraya tersenyum.
"Pulangnya bareng gue ya," ajak Arsean dan tentu Aluna mengangguk semangat.
"Cie ..." ucap Vanya seraya menyenggol lengan Aluna.
"Apa sih, Van ..." sahut Aluna sambil tersenyum malu.
Karena pembina ekstrakulikulernya sudah tiba di sekolah. Mereka pun segera berjalan ke area lobby sekolah, karena kegiatan ekstrakulikuler kali ini akan dilakukan di lobby. Di sana sudah terdapat beberapa gitar, drum, keyboard dan alat musik lainnya.
"Kelas kita siapa aja yang ikut ekskul musik?" tanya recca.
"Kita bertiga—terus Arsean, Regi sama Pradipta. Sisanya mereka masuk ekskul tari," jelas Vanya dan Recca pun mengangguk.
Sedari tadi Aluna tidak ikut mengobrol dengan Vanya dan Recca, karena ia terfokus pada seseorang di depan sana. Seseorang yang tengah duduk di kursi seraya memetik gitar.
'Dia Pradipta ya, yang chat gue buat minta jawaban tugas.'
Bel pulang sudah berbunyi. Aluna, Lyra, Recca dan Vanya bergegas untuk pulang bersama. Sebelum pulang mereka mampir sejenak ke toilet yang berada di lantai bawah. Toilet itu sepi sekali, jarang ada yang pakai, tetapi karena ini masih pukul sepuluh pagi jadi mereka tidak masalah menggunakan toilet ini.
"Sepi ya toilet ini," ucap Lyra.
"Kelas yang di sekitar sini cuma kelas anak cowok aja. Jadi udah pasti toiletnya sepi, karena mereka ke toilet cuma buang air kecil doang paling," jelas Vanya seraya membenarkan ikat rambutnya.
"Udah yuk, langitnya agak mendung. Kita harus cepet-cepet pulang," ajak Recca.
Mereka berempat pun bergegas pergi meninggalkan toilet tersebut. Saat berjalan menyusuri koridor-koridor kelas teknik, Aluna dibuat bingung dengan suara yang memanggil namanya.
"Kalian denger?" tanya Aluna, lalu kembali bertanya "Kayak ada yang manggil gue gak sih?"