But You Arsean

achamrsha
Chapter #1

Luka Yang Belum Sembuh

"Kak, ada Larisa nih ...."

"LARISA!" teriak Shenina

Dengan cepat gadis itu berlari masuk ke dalam rumah seraya menjinjing sepatunya di tangan. Sesuai dengan ucapan Shallin barusan, di ruang tengah Larisa terduduk seraya merentangkan tangannya. Siap untuk menerima pelukan dari sahabatnya itu.

"Huaaa!" teriak Shenina setelah berada di pelukan Larisa, lalu ia berkata, "Risa ... gue kangen banget!"

"Gue juga kangen banget sama lo, Shen!" ucap Larisa seraya tersenyum bahagia.

Bagi Larisa hanya Shenina serta keluarga Shenina lah yang menjadi rumah ternyaman baginya. Larisa tidak sendirian, tentu dia memiliki keluarga yang masih lengkap, tetapi kepulangan Larisa tidak pernah disambut hangat oleh keluarganya.

"Lo libur berapa lama?" tanya Shenina.

"Satu Minggu aja," jawab Larisa dan sontak membuat Shenina tersenyum lebar mendengarnya.

"Lo gak usah pulang deh, Ris. Lo di sini aja selama satu Minggu," pinta Shenina yang langsung didorong oleh Larisa.

"Gila, lo mau Mama gue ngamuk?" sahut Larisa.

"Tapikan ... di sana juga lo malah—"

"Gak apa, Shen, daripada gue gak pulang. Yang ada Mama malah makin jelek-jelekin gue nantinya."

Shenina pun mengusap punggung Larisa setelah mendengar ucapan tersebut. "Lo udah makan, Ris?" tanya Shenina.

"Belum, tapi tadi udah ditawarin Tante Shallin makan, cuma gue gak enak kalo makan sendiri. Jadi nunggu lo," jawab Larisa.

"Ih, lo mah, ngapain nunggu gue. Ya udah ayo makan dulu."

Shenina berdiri dari duduknya seraya menarik tangan Larisa untuk ikut bersamanya ke meja makan. Sesampainya di sana, kedua gadis itu langsung duduk berhadapan di meja makan.

"Tante, aku makan ya," izin Larisa pada Shallin.

"Iya Larisa silakan, makan yang banyak ya jangan sungkan," ucap Shallin sebelum dirinya masuk ke dalam kamar.

Seraya menyantap makanannya, sesekali mereka berdua mengobrol. Mengobrol tentang keseharian masing-masing di kota yang berbeda, lalu membahas seputar sekolah barunya.

Mereka ini sudah lama berteman dari mereka duduk di bangku menengah pertama (SMP) hingga kini mereka di bangku menengah kejuruan (SMK), tetapi sayangnya sekarang mereka tidak satu sekolah lagi. Larisa memilih sekolah di luar kota, maka dari itu setiap Larisa pulang, Shenina akan menyambutnya begitu senang.

"Jadi di sana ada asramanya?" tanya Shenina yang diangguki Larisa.

"Iya, makanya gue gak jadi tinggal sama nenek. Gue milih tinggal di asrama aja," jawab Larisa.

"Terus teknik pembelajarannya sama, kan? Daring?" tanya Shenina.

Larisa tampak menganggukan kepalanya, lalu berkata, "Iya daring juga. Gue sampai muak tiap pagi ngeliat orang-orang di layar laptop."

Saat mereka duduk di bangku SMP semester akhir—menuju ujian, dunia tiba-tiba dihebohkan dengan wabah penyakit yang membuat segala aktivitas terhambat. Mulai dari sekolah, kerja, bahkan sampai pedagang-pedagang diharuskan untuk diam di rumah. Banyak orang mengira wabah penyakit itu akan segera pergi, tetapi ternyata hingga saat ini masih berlanjut.

Hal itu membuat awal Shenina di SMK diawali dengan kebosanan. Tidak bisa belajar bersama teman barunya di kelas dan tidak bisa berlama-lama menikmati fasilitas sekolah. Seluruhnya mereka hanya menghabiskan waktu belajar di rumah dan sesekali pergi ke sekolah hanya untuk kegiatan ekstrakulikuler atau ujian praktek.

Dan karena wabah penyakit ini, katanya libur dua minggu menjadi dua tahun.

"Tadi lo ke sekolah?" tanya Larisa.

"Iya, cuma ekskul aja 15 menit. Terus harus cepet pulang lagi," jawab Shenina setelah menelan makanannya.

"Berarti tadi lo ketemu Arsean dong?" tanya Larisa membuat Shenina yang hendak menyuapkan makanannya tidak jadi.

"Mm ... iya ketemu, kan satu ekskul sama gue," jawab Shenina.

Larisa hanya mengangguk saja setelah mendapati jawaban dari Shenina. Entah hanya perasaan Shenina saja atau memang benar, seperti ada sesuatu yang Larisa sembunyikan dan ingin dikatakan.

"Shen," panggil Larisa.

"Kenapa?" tanya Shenina menatap ke arah Larisa.

"Keadaan hati lo sekarang gimana?" tanya Larisa membuat Shenina menurunkan pandangannya.

"Udah baik-baik aja—jauh lebih baik kayaknya," sahut Shenina sambil tersenyum.

"Jangan sampai lo gak percaya lagi sama cowok ya, gue yakin kok pasti ada cowok yang beneran sayang sama lo," ucap Larisa, lalu mengusap lengan Shenina.

Setelah itu Larisa melanjutkan aktifitas makannya, sedangkan Shenina masih menatap Larisa dengan bingung. Gadis itu menunggu sahabatnya kembali berkata atau dirinya yang akan bertanya.

"Soal Sean—lo udah gak ada rasa lagi, kan?"

Nah!

"Lo udah gak dekat lagi sama dia, kan?"

"Gak ada hubungan apa-apa lagi, kan?"

Pertanyaan Larisa itu berhasil membuat Shenina bungkam. Rasanya itu bukan pertanyaan, melainkan duri-duri yang baru saja menancap hatinya.

Lihat selengkapnya