But You Arsean

achamrsha
Chapter #2

Selamat!

"Bisa," sahut Zeya.

Arsean tampak tersenyum mendengar jawaban Zeya, lalu ia berkata, "Gue sama Larisa—"

"Tolong jangan sakitin Larisa. Gue percaya sama lo, kalo lo sayang sama dia," ucap Zeya, lalu berdiri dari tempat duduknya.

"Itu Recca, kan, Ly?" tanya Zeya dan Lyra pun langsung berdiri dari tempat duduknya.

Kedua gadis itu melenggang pergi menghampiri Recca dan meninggalkan Arsean yang masih berdiri di sana. Setelah Recca datang, mereka bertiga langsung masuk ke area sekolah.

Di sana—tepatnya di ruang musik, para anggota Club Music berkumpul. Hari ini mereka akan berlatih gitar. Sebagiannya sudah ada yang paham mengenai gitar, jadi mereka duduk di depan untuk memberikan contoh.

Sepanjang Zeya memperhatikan orang-orang di depan sana, ia hanya terfokus pada satu orang saja. Bukan fokus memperhatikan gitarnya, tetapi Zeya terfokus memperhatikan wajahnya. Sampai pada akhirnya mata Zeya bertemu dengan matanya.

Deg!

Zeya sontak memalingkan wajahnya ke arah jendela, tetapi percuma—sepertinya laki-laki itu sudah menyadari bahwa Zeya memperhatikan dirinya sedari tadi.

'Kalo gak salah namanya Pradipta'

○○○

15 menit terasa sangat cepat, kini latihan esktrakulikuler itu telah selesai. Zeya, Lyra dan Recca bergegas untuk pulang naik bus. Jarak sekolah dengan halte bus lumayan jauh jadi mereka bertiga harus berjalan kaki selama sepuluh menit.

"Jadi sekarang Arsean sama Larisa?" tanya Lyra dan Zeya pun mengangguk.

"Sakit banget gue dengarnya, tapi salah gue juga, sih. Gue malah bilang kalo gue udah gak mau sama Arsean, padahal nyatanya gue masih pengen sama dia," jelas Zeya.

"Kalo emang dia sahabat lo, harusnya dia gak mau sama Arsean, meskipun lo udah gak ada hubungan apa-apa lagi," ucap Recca.

"Semoga aja gue bisa dengan cepat lupain Arsean," ujar Zeya yang langsung mendapatkan usapan dari Recca dan Lyra.

Tidak terasa mereka bertiga sudah sampai di halte dan beruntung mereka langsung mendapatkan bus. Seperti biasa Zeya akan duduk di samping jendela. Sepanjang perjalanan mata gadis itu pasti tidak akan beralih menatap ke arah jalanan. Saat lampu merah dan bus berhenti, tidak disangka matanya melihat sesuatu yang membuatnya sakit.

'Sean.'

Di dalam hatinya menyebut nama laki-laki itu. Zeya melihat Arsean yang tengah berboncengan dengan Larisa. Dan ... di tangan gadis itu terdapat bucket bunga yang cantik. Zeya langsung menundukan kepala, air matanya menetes membasahi celananya.

"Zeya, lo kenapa?" tanya Recca yang sadar Zeya menangis.

Zeya tidak menjawab ia malah semakin terisak menangis. Recca dan Lyra yang kebingungan, mereka memilih menenangkan Zeya saja tanpa bertanya-tanya.

○○○

Sesampainya di rumah, Zeya melepas satu persatu tali sepatunya. Hingga semuanya sudah lepas, ia pun menjinjing sepatunya seraya berjalan perlahan ke dalam rumah.

Wajahnya berantakan, mata yang sembab dan hidung yang memerah. Napasnya belum stabil, masih terdengar pelan isak tangisnya.

"Zeya!" panggil Larisa dengan senyuman bahagia di wajahnya.

Zeya terdiam menatap Larisa masih dengan raut wajahnya yang berantakan, lalu matanya beralih pada bucket bunga di atas sofa. Perlahan Zeya tersenyum, lalu kembali menatap Larisa.

"Cie, ada yang dikasih bunga," ucap Zeya seraya tersenyum.

Larisa sontak tersenyum malu, lalu senyuman gadis itu memudar dengan cepat kala matanya melihat raut wajah Zeya yang tidak baik-baik saja.

"Lo kenapa, Zey? Lo habis nangis?" tanya Larisa panik.

"Enggak, gue cuma gak enak badan aja," dusta Zeya sambil mengusap wajahnya.

"Lo habis dari mana?" tanya Zeya, lalu ia terduduk di sofa.

Lihat selengkapnya