Butter From Melt To Burn

Rizasa Vitri
Chapter #4

Butter Terakhir

Hari ini hujan turun deras, seolah mencerminkan perasaan Melty yang hancur. Setelah kejadian itu, entah apa yang terjadi di Vanilla Butter.

Hujan telah berhenti, meninggalkan pelangi yang indah menghiasai langit kota Krem. Toko pastry yang biasanya ramai, kini terbengkalai ditinggalkan pemiliknya. Burno berdiri memandangi pintu yang terpampang pengumuman tutup lekat-lekat. Apa yang terjadi?

Ada yang bilang bahwa masa kontrak rukonya telah habis, tapi mana mungkin, semua barangnya masih terlihat lengkap dari luar kaca, hanya berdebu dan dihinggapi sarang laba-laba saja. Ada juga yang mengatakan jika pemiliknya pergi berkelana entah kemana. Kabar simpang siur terus bermunculan, entah mana yang benar. Terakhir, kakek tua mengatakan, kemungkinannya Melty meleleh (meninggal).

Sebelum benar-benar ditutup, pemilik ruko aslinya mempersilahkan siapapun berkunjung untuk yang terakhir kalinya. Sebelum Melty menghilang, ia meninggalkan pesan di secarik kertas kepada para pelanggan setianya, ditempel di kaca depan, 'Butter gratis di dalam, silahkan masuk'. Sudah sedari lama butter-butter itu habis, entah mengapa pemilik ruko masih belum menutupnya permanen atau kembali menyewakannya sampai saat ini.

Burno menatap langit-langit dan setiap sudut ruang Vanilla Butter. Ia terus melangkah menelusuri tiap jangkah yang dapat dilaluinya. Di satu sisi, ia mendapati meja yang tak asing baginya, meja yang biasanya berada di depan toko dengan kudapan-kupadan butter gratis yang lezat.

Sayangnya Burno tidak melihatnya, kecuali satu kotak tersisa. Kotak butter itu dibalut tampilan yang berbeda dari biasanya. Dan tertulis, 'Untuk Burno'.

Lihat selengkapnya