Butter From Melt To Burn

Rizasa Vitri
Chapter #5

Ekstra Butter

Melty terkejut. Tubuhnya mendingin dan jantungnya berdegup kencang. Wajahnya memucat. Butter-butter itu berlumuran di seragam dan celemeknya.

Melty berdiri di tengah-tengah kekacauan, terdiam dengan air mata yang mulai mengalir deras di pipinya. Sorot mata yang penuh harapan dan cinta, kini digantikan oleh rasa putus asa dan kehampaan. Momen ini seolah mengikat setiap detik ke dalam kenangan yang menyakitkan. Setiap tetes butter yang tumpah seolah sebanding dengan setiap tetes harapan yang sirna, menyatu dengan rasa sakit yang mendalam.

Dalam keheningan yang mencekam, Melty mengamati butter-butter yang dulu dipilihnya dengan penuh perhatian, kini tersebar di lantai dengan cara yang tragis, menjadi saksi bisu dari semua impian dan cintanya yang hancur. Ia merasa seolah seluruh dunia runtuh di hadapannya, sementara butter yang berhamburan di lantai menjadi simbol dari semua harapan dan cinta yang tidak pernah terungkap dengan sempurna.

Tiba-tiba, sebuah tawa pecah dari bibirnya. Melty kembali memandang ke arah kekacauan, dan tanpa bisa menahan diri, ia tertawa terpingkal-pingkal. Ada sesuatu yang lucu dan tragis dalam situasi ini, sesuatu yang membuatnya merasa bahwa meskipun semuanya tampak hancur, ia akhirnya mendapatkan sesuatu yang diinginkannya—berbicara dengan Burno, meski dalam keadaan yang jauh dari ideal.

Ia terengah-engah, matanya yang merah dan basah, dari tangisan kini bersinar dengan kilau yang aneh. Dalam tawa yang seolah-olah menghapus sisa-sisa kesedihan, Melty merasa seolah seluruh dunia yang menyakitkan kini menjadi absurd dan lucu. Ia merasa bahwa meskipun keadaan ini adalah puncak dari segala sesuatu yang salah, ia telah berhasil menyampaikan perasaannya kepada Burno, bahkan jika hanya dalam bentuk kekacauan dan kesalahan.


Lihat selengkapnya