Ensia duduk sendirian di kursinya. Beberapa peserta juga duduk diam di kursi masing-masing. Beberapa lagi datang. Beberapa membuka percakapan. Seseorang mengambil tempat di dekatnya. Ensia merasa orang itu memperhatikannya sejenak. Sebaiknya kau berhenti memandangiku, batinnya. Aku tidak sedang tertarik membuka percakapan. Dan ini kenapa acara belum mulai juga?
Wanita di sebelah Ensia itu, berhijab hitam dengan rok merah muda, mencoba menarik perhatiannya dengan memandang dan tersenyum. Tapi Ensia, yang pasti sudah menyadari kehadirannya dari ekor matanya, bergeming. Orang ini mungkin seusiaku, batin si wanita. Cantik, tapi matanya sedih. Seandainya bahasa tubuhnya lebih ramah, pasti ada satu dua orang yang mendekat mengajaknya berbicara. Tidakkah kau lihat atau dengar tiga orang di depan sana sudah mulai berbincang akrab, bahkan tertawa? Kita tahu ini semacam acara untuk orang yang sedang mengalami masalah mental, namun tidakkah kau ingin berbagi sekedar tawa atau senyum dengan kami? Dengan aku saja lah dulu. Kita bisa saling mengungkap nama, hobi, atau apapun lah yang perlahan akan membangun jembatan pertemanan. Kita senasib, bukan? Bukankah penderitaan akan sedikit lebih ringan jika dirasakan bersama, dibagi, dilampiaskan melalui curahan perasaan?
Ensia menengok arlojinya. Sudah terlambat lime menit. Baiklah, batinnya. Lima menit lagi belum mulai juga, aku akan pulang.
Lima menit tercapai. Dua peserta lagi datang. Belum ada tanda sang pelatih muncul. Ensia mengemasi peralatan dan tasnya. Langkahnya tergesa menuju ke pintu. Belum juga ia lepas dari pintu, seorang wanita berdiri di depannya. "Anda peserta?" sapanya ramah. "Yok, kita mulai."
Ensia menghembuskan nafas pendek. Tanpa senyum ia berbalik arah lalu duduk kembali di kursinya tadi. Sang wanita itu, berambut pendek dan berwajah ramah dengan kacamata lebar berbingkai hitam, menyambut para peserta. "Nama saya Rahayu," katanya.
Ia lalu memulai sesi pertama. Ia meminta semua peserta memejamkan mata. "Bayangkan apa yang saya ceritakan ini," katanya. "Bayangkan Anda sedang berada di sebuah gurun pasir. Anda melihat sebuah tangga, seekor kuda, dan sebuah kotak atau kubus. Lalu ada badai di gurun itu Ingat baik-baik bayangan Anda tentang benda-benda itu. Nah, sekarang Anda boleh membuka mata kembali. Sekarang, ambillah pensil dan gambarkan bayangan Anda tadi tentang gurun, badai, kuda, kubus, dan tangga tadi."
Semua peserta langsung sibuk menggambar.
Sekitar lima belas menit kemudian, semua selesai membuat gambar. Rahayu berkeliling ruangan memeriksa gambar-gambar para peserta. Ketika sampai di bangku Ensia, ia mengamati gambar Ensia dan keningnya berkerut. Wanita berhijab di sebelah Ensia juga ikut memandang ke kertas Ensia dan ikut mengerutkan keningnya.
Ensia menggambar sebuah kuda tegap di sebuah gurun pasir. Di dalam kepala kuda itu ia membuat coretan melingkar-lingkar seperti angin puting beliung.
"Ini . . ." tanya Rahayu, menunjuk pada gambar angin puting beliung itu. "Apa ya?"
"Ini badainya," jawab Ensia.
"Oh, badainya di dalam kepala si kuda?"
"Iya," Ensia menjawab lugu. "Ya begitulah."
Rahayu mengangguk sambil tersenyum. Lalu pandangannya beralih ke kertas wanita berhijab di sebelah Ensia. Ia melihat sebuah gambar gurun pasir dengan tangga, kubus, dan kuda berukuran kecil di tengah kertas. Sapuan pensilnya sangat tipis sehingga hampir semua benda itu tak kelihatan. Ensia tak tahan untuk tidak melongok ke gambar tetangganya itu. Si wanita itu menatap balik dan tersenyum agak tersipu. Tanpa sadar ia menjauhkan kertasnya.
Ensia kembali menatap lurus ke depan. Sang wanita masih memandangnya. Lalu tangan kanannya terjulur. "Mbak, kenalkan, saya Kina."
Ensia memaksakan seulas senyumnya. Tangannya menjabat balik tangan Kina dengan agak lemah. "Ensia."