Pada pertemuan berikutnya, Kina sudah tidak lagi melihat Ensia. Kemana? Aku lagi mager, jawab Ensia di ujung sana sambil tetap bergelung di ranjangnya. Pertemuan berikutnya dia absen lagi. Kina mengajukan pertanyaan yang sama. Ogah, jawab sang teman baru dari ujung sana sambil menyesap Single Malt Whisky nya di kafe.
“Ens, lha gimana kamu bisa sembuh kalau akhirnya mutung begini dari terapi?” kali ini Kina berterus terang dalam pesan Whatsappnya. Pertanyaan itu dibaca oleh Ensia namun tak kunjung dibalasnya, bahkan sampai beberapa hari kemudian.
“Ens, kamu baik-baik saja kan?”
“Iya lah. Kamu?”
“Enggak.”
“Napa?”
“Aku sudah hampa begini, sekarang nambah sedih lagi karena teman baruku ndak mau datang lagi ke terapi.”
Ensia terdiam agak lama membaca jawaban itu. Lalu ia memutuskan untuk menelpon langsung Kina.
“Ya, Ens?”
“Kamu mau coba terapiku, Tin?”
“Ah, menarik. Emang kamu punya teknik tertentu untuk penyakit kita?”
“Iya, datang aja ke rumahku, ntar aku tunjukkan. Mau?”
“Wow! Senang sekali boleh ke rumahmu. Eh, bentar, kamu miara anjing? Kalau ada, sori ya, nggak bisa. Kamu tahu aku Muslim . . .”
“Anjing? Enggak.Ndak ada satupun. Tapi babi banyak. Hahahah!”
“Hahaha! Ngaco ah! Hahahahah!!”
Kina muncul di rumah Ensia beberapa hari kemudian. Begitu turun dari Gojek, ia berdiri termangu-mangu di depan pagar besi kokoh bercat putih itu. Mendadak ia merasa tubuhnya menyusut di depan rumah mewah nan besar itu. Ia melayangkan pandangannya dari ujung terjauh sampai ke titik paling dekat dengan tempatnya berdiri. Ponselnya bergetar. “Halo, Ens, aku sudah sampai di depan rumahmu,” kata Kina.
“Yak, bentar ya Kin. Aku turun!”
Tengah Kina berdiri tertegun-tegun di depan pagar itu, mendadak jantungnya serasa mau copot ketika seseorang memegang kedua bahunya dari belakang. “Baaa!” seru orang itu. Kina tergagap-gagap menoleh, tak bisa lagi menahan umpatan kecilnya.
“Eh . . . jangkrik! Astaga Ens! Kaget lho aku!”
Ensia tertawa lebar di belakangnya. Rupanya ia menunggu di bawah pohon beberapa belas meter jauhnya dari pagar rumahnya sejak tadi. Ketika Kina sampai, ia mengendap-endap dari belakang dan mengejutkannya dengan pelukannya yang tiba-tiba.
Ensia membuka pagarnya dan mengajak Kina duduk di berandanya. Mereka duduk berhadapan. Ensia dengan santai mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di kursi panjang beralaskan matras tipis itu. Kina duduk manis di depannya.
Mereka mulai berbincang. Tentang keseharian. Tentang hobi. Tentang rumah dan lingkungannya. Lalu akhirnya tentang penyakit mental mereka.
“Kamu sudah mengupayakan apa saja supaya sembuh, Kin?”
“Oh, banyak, Ens. Salah satunya ya ikut terapi menggambar itu. Terus rutin berobat. Ya hanya BPJS jadi aku kira obatnya ndak dahsyat amat, kadang udah habis depresinya ndak berkurang sama sekali. Terus, berdoa, Ens. Doa kenceng, biar Tuhan berbelas kasih terus menyembuhkanku.”