Beberapa minggu kemudian Kina mengajak Ensia untuk melihat terapinya. Kali ini Ensia datang dengan mobilnya ke sebuah sanggar di wilayah sekitar rumah Kina. Kina sibuk menyiapkan aktivitasnya: beberapa lembar kertas gambar, karton manila, beberapa kotak, keranjang-keranjang kecil dan beberapa puluh bola aneka warna. Ensia menawarkan bantuan tapi Kina bilang "sudahlah kamu duduk manis di pojok sana dan melihat aku beraktivitas."
Ensia duduk mematung di kursinya. Beberapa anak mendekat. Semuanya mengenakan hijab. Pandangan mereka tak bisa menyembunyikan perasaan heran melihat Ensia. Yang dipandang memandang balik sekilas, tersenyum simpul, lalu menunduk memandang ponselnya.
"Kakak siapa?" tanya seorang gadis yang mendekat.
"Temannya Kak Kina."
"Kakak Muslim?"
"Bukan . . " Ensia menggeleng. Mata sang gadis kecil seketika membelalak. "Oh, kakak kafir! Iya, sih, Cina . . . pasti kafir."
Ensia menatap tajam mata anak itu. Semoga kau pulang nanti disambar petir, Dik, batinnya.
Seorang gadis yang sedikit lebih tua ikut menyapanya. "Kakak namanya siapa? Kakak kok cantik sih? Kulitnya putih!"
Ensia tersenyum tipis. "Tanya dah Kak Kina disana."
Gadis itu seketika menoleh ke arah Kina dan bertanya dengan berteriak. "Lah, ya tanya dong sendiri!" balas Kina. Sang gadis kembali menoleh ke arah Ensia.
"Nama kakak Ensia," kata Ensia sebelum gadis itu bertanya kembali.
"En . .. sia," si gadis mengulang. "Bagus ya namanya? Kakak kok bisa putih gitu sih? Aku ya ingin punya kulit kek gitu."
"Ah, kenapa? Kulitmu juga bagus kok, Dik? Siapa namamu?"
"Zaenab," jawab sang gadis.
"Kakak kok datang ke sini?" Zaenab tak henti bertanya. "Ini kan acara buat murid dan guru Muslim?"
"Emang ga boleh ya Kakak lihat acaranya biarpun Kakak bukan Muslim?"
"Ooo, ya boleh-boleh aja, Kak. Gak apa-apa. Kan Indonesia, Kak, kan boleh beda tapi tetap satu, seperti katanya guru aku."
Ensia tak bisa menahan senyum lebarnya. Tangannya terulur begitu saja menyentuh pipi sang gadis kecil. "Anak pintar! Dah, sana, main-main sama Kak Kina!"
Beberapa anak lagi bergabung, laki-laki dan perempuan. Kina memulai aktivitasnya. Ia mengajak mereka menggambar, bermain tebak angka dengan hadiah kecil, menyanyi bersama, bahkan bermain drama pendek tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad. Terakhir, ia membuat mereka berlarian sambil tertawa melalui permainan adu cepat menjawab dan melempar bola.
Ensia tak tahan untuk tidak merekam suasana ceria itu dengan ponselnya. Ketika ia sibuk berjalan berkeliling, beberapa anak menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya.