Sore yang muram. Mendung yang menggayut sejak siang akhirnya menumpahkan airnya ke Bumi beberapa saat sebelum matahari terbenam. Ensia dan Kina masih menikmati steak mereka di sebuah kafe ketika hujan turun makin deras. Ensia mendongak ke atas dan berkomentar tentang atap kafe itu yang dia bilang pasti mahal karena bisa meredam berondongan air hujan. Kina baru mau menimpali komentarnya ketika mendadak terdengar suara ribut di salah satu sudut ruangan.
Seorang perempuan bertubuh agak gemuk sedang berdiri di depan sepasang pria dan wanita. Tubuhnya tegang, tampangnya garang, dan sekejap kemudian rentetan makian dan kata kasar meluncur dari mulutnya. Wanita berambut pendek yang dibentak-bentaknya bergegas berdiri. Baru saja ia mau melangkah menjauh ketika sang wanita tadi maju dan menampar wajahnya. Sang pria bangkit dan mencoba mencegah tangan istrinya menampar kembali. Ia berteriak, istrinya berseru tak kalah kencang, dan pertengkaran hebat pun tak terelakkan.
"Tak kusangka akhirnya aku bisa melihat adegan peselingkuh tertangkap basah oleh istrinya secara live," ujar Ensia, tersenyum. Kina ikut tersenyum tipis di balik raut wajahnya yang ikut tegang. Berdua mereka asyik menonton adegan itu dari kursinya masing-masing.
Seorang wanita lain mendekat, sigap mengeluarkan ponselnya lalu merekam keributan itu. Seorang pria meniru perbuatannya. Keributan makin menjadi. Seorang petugas keamanan tergesa-gesa melangkah ke tengah arena berusaha melerai ketiga orang yang bertikai itu. Dengan susah payah akhirnya pihak kafe bisa meredakan keributan itu. Suasana berangsur mereda. Semua kembali ke hidangannya masing-masing, kali ini dengan bonus bumbu gratis berupa komentar-komentar tentang peristiwa tak disangka itu.
Ensia mengiris steaknya, memandang Kina dan berkata, "Tidak lihatkah kamu, Kina, bahwa semua kasus perselingkuhan di media sosial itu disajikan dari satu sudut pandang saja, yaitu dari segi istri yang diselingkuhi?"
Kina yang sedang sibuk mengunyah berkerut kening.
"Jarang, atau bahkan tidak pernah, kasus kek gitu dibuat dari sudut pandang sang pria yang berselingkuh, atau bahkan dari sudut pandang wanita pelakornya, kan?"
"Untuk apa??" kali ini Kina menukas cepat. "Selingkuh itu salah. Seratus persen salah."
"Siapa yang salah?"
"Ya laki-lakinya; ya pelakor itu. Itu jelas salah mereka! Itu kan merebut hak orang lain."
"Kina, tapi itu kan dari sudut pandang sang istri, dari sudut pandang kebanyakan orang. Kenapa mereka ndak mencoba mendengarkan suara dari sang pria, atau sang pelakor?"
"Lah, mereka itu jelas salah kok! Ngapain didengarkan?!"
"Kamu yakin semuanya selalu salah mereka?! Bagaimana kalau ada pria yang ternyata tidak dihargai oleh istrinya sendiri? Atau selalu dihina-hina? Apa dia salah kalau akhirnya menemukan respek itu dari wanita lain?"
"Ens, setahuku, agamamu melarang perselingkuhan dan bahkan perceraian juga lho! Setahuku, perkawinan dari sudut pandang agamamu itu adalah satu untuk selamanya, sehidup semati, dalam suka dan duka, dalam sakit maupun sehat. Iya nggak??!"
Ensia terdiam, sebelum berujar dengan nada dingin "Aku tidak mengimani agamaku sendiri." Kina merinding seketika.
"Jadi menurutku," Ensia melanjutkan. "Kita gak bisa terjebak pada anggapan bahwa selingkuh itu selalu salahnya sang pria dan pelakornya. Maksudku, kalau ada kasus selingkuh, yang pertama harus ditanyai adalah istrinya: Mbak, gimana sih kok sampe suami kamu selingkuh? Emang kamu kurang ngrumatnya ya?"
Kina menatapnya tajam. "Ok, aku gak setuju!"
"Ya udah, hakmu. Tapi itu berarti cara pikir kamu sempit, Kin."
"Tidak ada sempit atau luas, Ens. Ini perkara hitam putih, salah atau benar. Buatku, selingkuh itu salah, titik!"
"Ya udah, ga usah ngegas kek gitu, Kin. Ya udah, kita berbeda pendapat. Gitu aja toh?"
Keduanya terdiam. Kina menenangkan dirinya dari gelegak emosi. Lalu dia berujar pelan, "kamu ngomong kek kamu ini udah pakar selingkuh aja, Ens."
Pandangan Ensia menghunjam lagi tapi kali ini ada selarik senyum membawa hawa mengerikan.