Kota kecil yang makin padat itu heboh lagi. Seorang ibu dengan dua anak yang masih kecil menjadi korban begal ketika melintasi daerah pinggir kota. Dua begal bersepeda motor membacok sang ibu. Ia terjatuh dari motor, namun masih berusaha sekuat tenaga mempertahankan motornya. Malang, sang penjahat tega membacoknya kembali dan ia pun roboh bersimbah darah. Wanita malang itu tewas, meninggalkan dua anaknya yang masih kecil di rumah dan seorang suami. Kedua penjahat berhasil kabur. Polisi mengerahkan segala upaya untuk memburu dan menangkap mereka namun keduanya tak kunjung tertangkap.
Dalam keheningan kamarnya, Ensia berkali-kali melihat tayangan ulang adegan sadis yang sempat tertangkap kamera CCTV sebuah pabrik di dekat TKP. Ia cermati kedua pria begal itu. Keduanya bertubuh tinggi, dengan helm penuh menutup muka mereka, dan jaket dan celana panjang warna gelap. Ia perkirakan jenis sepeda motor yang mereka bawa. Yamaha Jupiter, batinnya setelah mengeceknya dengan Google Lens.
"Daerah ini memang tidak ramai," ia membatin ketika menyusuri jalan tempat pembegalan itu terjadi. "Ideal untuk ngebut tapi harus waspada dengan situasi sekitar." Ia memutar gasnya dan motornya melaju, sedikit meliuk-liuk di aspal yang halus dan agak sepi itu. Setelah beberapa ratus meter, ia melihat deretan gudang besar dan pabrik aneka rupa di sebelah kiri. Makin jauh, ia mendapati hamparan tanah tandus yang diselingi dengan ladang jagung dan hutan kecil. Dengan sinar mentari yang mulai meredup di belakang punggungnya, Ensia melesatkan Honda CB 300 R nya ke arah Utara. Sesekali ia melirik kaca spionnya untuk mengamati suasana sekitar. Setelah beberapa menit, ia memutar kemudinya ke arah berlawanan lalu menggeber lagi kuda besinya. Beberapa kali ia bolak-balik seperti itu, menikmati jalur sepanjang enam kilometer lebih sedikit yang asyik untuk dihajar dengan sepeda motor.
"Kin, ikut yok, jalan-jalan sore," ajaknya suatu sore. "Kamu lagi gabut kan? Aku jemput ya?"
"Mau kemana, Ens?"
"Ke pinggiran kota, Kin. Aku dah kesana kapan hari. Asik juga pemandangannya waktu sore."
Kina agak agu karena sebentar lagi matahari terbenam dan itu berarti jalan menjadi lebih gelap.
"Ya malah asik to nyetir di twilight zone," kilah Ensia.
Akhirnya Kina menuruti ajakannya. Motor itu pun melesat lagi menembus padatnya jalan, melaju ke daerah pinggir kota. Jalan yang makin sepi menggoda Ensia untuk makin menambah kecepatannya. Pada satu titik ia berhenti.
"Lihat belakangmu, Kin," katanya. Kina menoleh ke belakang. Langit senja berhiaskan sinar matahari yang sedang terbenam. Beberapa gugusan awan melayang agak rendah, membentuk serangkaian aksen manis di kanvas biru bercampur jingga. Kina tak kuasa menahan decak kagumnya. Mereka mengambil beberapa foto dengan latar belakang kanvas alam senja itu.
Hari sudah mulai gelap ketika Ensia memacu motornya pulang. Mereka belum jauh dari titik keberangkatan ketika Ensia melihat sesuatu yang mencurigakan. Sebuah sepeda motor menguntitnya. Ia mengecek kaca spionnya lebih cermat. Dua orang pria berjaket tebal dengan warna gelap sedang melaju mendekati motornya.
Kina belum sadar apa yang sedang terjadi. Ia kaget setengah mati ketika mendadak sebuah sepeda motor bergerak memepet mereka berdua. Ensia mengerem motornya mendadak sehingga motor asing itu kehilangan momentum dan melaju terlalu jauh.
"Pegang kuat, Kin!" ia berteriak sekuatnya sebelum memutar setirnya ke arah berlawanan. Kina spontan memeluk pinggang temannya dan motor bak melompat ke depan lalu melesat sejadi-jadinya. Kina tak sempat lagi memekik karena terlalu kaget.
"Ens!!" teriaknya sekuat tenaga. "Kok malah kesini sih?!!"
Ensia tak sempat menjawab. Tangannya sibuk memainkan gas dan kopling,, sambil ekor matanya mengawasi spion. Motor asing tadi ikut berbalik dan kini mengejar mereka.
Ensia melecut motornya sekuat tenaga. Kina hanya mampu memekik namun kemudian harus mengeratkan pelukannya ke tubuh Ensia supaya ia tidak terjengkang dari sadel. Mereka melaju makin jauh dari kota. Kedua pria di belakangnya tetap mengejar sekalipun tenaga motor mereka kalah kuat dibandingkan motor Hondanya Ensia.
Pada satu titik di jalanan yang makin sepi, Ensia mengerem sedikit kemudian berbelok ke kiri ke jalan kecil tanpa aspal. Ia terus melajukan motornya sampai mereka tiba di pinggiran hutan kecil, jauh dari jalan utama. Ensia menengok ke belakang. Kedua pria tadi masih mengikutinya. Ensia terpaksa berhenti karena jalan di depannya sudah tak mungkin dilewati kendaraan. Dengan sigap ia turun dari sadel dan membuka tas cangklongnya, sementara Tina dengan tubuh gemetaran turun dari sadel. Mulutnya kelu. Nafasnya memburu. Tatapannya lurus ke arah kedua pria tadi. Mereka ikut berhenti beberapa meter di dekat kedua wanita itu. Sang pria di sadel belakang sontak meloncat turun dan mengeluarkan sebilah parang panjang.