CADAS KARANG DI BAWAH TEBING CURAM

Atis Dee Jay
Chapter #24

24. MAYAT ITU

Tempat parkir di basement gedung kuliah utama itu selalu penuh. Deru mobil yang masuk menggema di dinding-dindingnya, beriringan dengan suara sepeda motor di sisi sebelahnya. Kampus sedang padat kegiatan. Ensia bersicepat menyelinap di antara dua kendaraan yang mau parkir. Ia baru saja mau naik ke tangga ketika seorang pria dan wanita menyapanya hangat. Ensia bahkan tak sempat menanggapi karena ia keburu bergegas ke atas.

Ia memasuki lobi gedung. Beberapa orang yang ada disitu menoleh ke arahnya. "Ensiaa," sapa mereka sambil tersenyum. Seorang dosen yang tidak ia kenal merandeg di jalur jalannya. "Hai, Ens. Apa kabar?" Ensia hanya sanggup tersenyum. Benaknya mulai dipenuhi tanya.

Ia melangkah menaiki tangga, dan sampai ke depan kelasnya. Lah kok sepi? Sesaat ia berdiri tertegun. Apa aku salah jadwal? Toh ia tetap menarik kakinya untuk melangkah masuk.

Ia mendekati meja dosen yang masih kosong. Tangannya terulur mengambil remote AC. Baru saja tangannya terangkat untuk menyalakan AC di atas ketika mendadak telinganya menangkap suara gemerisik di pintu masuk. Ia menoleh. Pintu masuk ditutup keras. Mendadak sudah ada teman-teman dan dosennya berkerumun disitu.

"Selamat ulang tahun, Ensiaaaaa! Horeeee!"

Ensia terkejut. Namun bibirnya mulai menyungging senyum. Ia memandang mereka, teman-teman sekelasnya dan seorang dosennya. "Ya ampuuun!" serunya, matanya menjadi sedikit panas. "Aduuh, kok sempat-sempatnya sih kalian? Terima kasiiih, teman-teman!"

"Kejutan di pagi hari ya, Ens?" Lisa, teman karibnya, mendekat, membawakan sebuah kotak besar.

"Iya, Lis, Kaget aku. Gak biasanya kalian seperti ini!"

Lisa meletakkan kotak besar itu di meja dosen. "Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga!" seisi ruangan menyanyi sambil bertepuk tangan riang.

Ensia membuka tutup kotak itu. Ia melihat ke dalamnya.

Mata mayat pria itu memandangnya. Lebar namun kosong. Sebuah lubang menganga di pipi kirinya di bawah mata mengalirkan cairan darah. Bau anyir menyerbu hidungnya.

Ensia tersentak. Tubuhnya terlompat ke belakang. Mulutnya tak kuasa menahan teriakan dahsyatnya. Ia terjatuh ke lantai. Berteriak lagi dan lagi, dan lagi. Ia mendongak. Lisa dan teman-temannya berdiri mengelilinginya, bertepuk tangan, tertawa.

Lalu pandangannya gelap. Ia mendengar suara sesuatu digedor. Ia tergagap membuka matanya. Pintunya sedang digedor keras-keras dari luar.

Lihat selengkapnya